Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

1

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” QS. Al Hadiid : 22-23

Setiap manusia mempunyai masalah karena manusia akan diuji dan itu adalah pasti.
Tak melihat siapapun itu, bahkan kafir sekalipun akan diberi ujian oleh Allah.

Sungguh menjadi bahan perenungan yang sangat, terkhusus bagi aku. Bahwasannya tidak sendirian diri ini diuji, semua diuji dengan masalahnya masing-masing. Dan tidak sedikit pula di antara mereka yg masih peduli serta mau membantu orang lain sementara dirinyapun sedang dirundung masalah.

Maha Suci Allah,, dan segala puji bagi Allah yang senantiasa terus menerus menyayangi dan mengurus makhluk-Nya.
Allah jadikan kita masih bisa mengingat Allah di tengah himpitan persoalan. Dia jadikan pagi dan siang untuk berupaya mencari jalan keluar, dan Dia jadikan sore dan malam untuk beristirahat. Semuanya Dia jadikan dalam porsi yang adil. Dan di antara waktu-waktu tersebut manusia diberikan kesempatan untuk mengingat-Nya, bermunajat dan memohon pertolongan-Nya. Sungguh beruntung bagi mereka yang menyadari dan kemudian memanfaatkan waktu-waktu tersebut.

Allah yang Maha Rahim,, sungguh kami sangatlah lemah tanpa-Mu. Bahkan kami tidak punya apa-apa. Engkaulah yang Maha Kuasa, Engkau yang Kuasa menjadikan diri ini terus mengingat-Mu walau hanya sekadar doa. Ya Rabbana,, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa mengingat-Mu di kala senang dan sedih. Janganlah Engkau palingkan wajah-Mu dari kami, dan jadikanlah mudah bagi kami dalam setiap urusan kami, karena hanya kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu lah kami memohon pertolongan, wahai Dzat Pemberi segala sumber pertolongan. Jadikan kami hamba-hamba-Mu yang bertaqwa, dan jadikan hati kami adalah hati yang selamat saat menghadap-Mu, meski himpitan masalah belum jua terselesaikan.

Aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

saya malu 1

Saat mata saya belum mampu menahan pandangan dari yang haram baik dikala ramai dan bersendirian, saya malu untuk menyebar nasehat agar  laki-laki & wanita yang beriman, Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan menjaga kemaluannya.

Saat saya masih mencuri-curi kesempatan dengan pacaran islami dan menikmati campur baur dengan lawan jenis non-mahrom, saya malu untuk menyebar nasehat bahayanya Ikhtilat para laki-laki dengan perempuan yang menjadi sebab timbulnya berbagai tindakan keji dan perzinaan

Saat mulut saya belum mampu menahan ghibah, menggunjing saudara sendiri hingga perkataan cela dan dusta, saya malu untuk menyebar nasehat agar orang-orang yang beriman senantiasa berkata yang benar, menjauhi sgala prasangka, mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing sebahagian yang lain.

Saat sholat saya belum mampu berjama’ah di masjid dan diawal waktu,  saya malu untuk menyebar nasehat keutamaan shalat berjam’aah yang lebih utama dengan 27 derajat

Saat saya masih pelit menyedekahkan harta yang saya miliki, saya malu untuk menyebar nasehat utamanya sedekah yang bisa menghapus dosa dan membawa berkah

Saat hati dan badan saya belum mampu duduk rutin di majelis-majelis ilmu untuk mengambil manfaatnya, saya malu untuk menyebar nasehat agar setiap Muslim wajib menuntut ilmu agama, bahwa sungguh orang takut kepada Allah hanyalah orang yang berilmu (Ulama), dan sungguh orang yang faham agama adalah tanda Allah berikan seluruh kebaikan padanya

Saat saya masih berbangga dengan apa yang sudah diperbuat taklim & komunitas saya, saya malu senantiasa menyindir & meng-hajr saudara-saudara saya yang Ta’ashub dan taklid oleh partai politik,  ormas dan fanatisme golongan lainnya

Saat saya masih merasa kurang dengan penghasilan saya dan dunia masih menyibukkan saya, saya malu disetiap waktu menyebar nasehat agar menjadi hamba yang selalu bersyukur dan tak tertipu oleh dunia

Saat masih banyaknya amalan-amalan sunnah yang lalai saya lakukan di hari Jum’at, saya malu selalu menyebar nasehat banyaknya keutamaan dan amalan-amalan sunnah di hari Jum’at

Saya memang tidak tahu malu!

Jika masih banyaknya ilmu yang belum saya amalkan kenapa begitu banyak yang saya sebarkan sebagai nasehat kepada orang lain hanya karena mengandalkan

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Atau karena saya mengandalkan ucapan Sa’id bin Jubair sebagaimana yang pernah saya baca bahwa Sa’id bin Jubair mengatakan, “Jika tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar,  kecuali orang yang sempurna niscaya tidak ada satupun orang yang boleh melakukannya”. (Tafsir Qurthubi, 1/410)

Atau dalil-dalil lain tentang keutamaan berdakwah? Padahal saya pun tahu bahwa itu fardhu kifayah

Saya yakin, tidak ada yang salah dengan dalil-dalil di atas, tapi sekarang saya harus curiga bahwa diri saya hanya orang yang pandai memberi nasehat namun menjadi orang yang pertama menerjang sendiri pesan nasehat itu, padahal sejatinya saya memiliki daya untuk melakukan dan mengamalkan pesan-pesan nasehat itu.

Saya jadi kembali ingat firman Allah Ta’ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kemurkaan Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. As-Shof: 2-3).

Akankah saya kembali tidak tahu malu setelah mengingat ayat ini?

TAR 2015
Tentang kesabaran & ketabahan, yang dengannya berbagai kesulitan dan ujian akan ada jalan keluar, ada kemudahan dan ada ujungnya.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Tentang kekuatan, yang dengannya mukmin yang kuat lebih dicintai Allah.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah” (HR. Muslim No. 2664)

Tentang kebersamaan, yang dengannya dapat saling merasakan dan peduli sesama
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda
“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan yang lainnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Tentang adab dan sikap seorang muslim, bukan hanya ilmu & praktek manajemen perjalanan, first aid, navigasi, survival, mountaineering di alam bebas tapi bagaimana bermuamalah dengan alam semesta

Tentang membangun kedisiplinan dan ketaatan kepada pemimpin dalam hal yang ma’ruf, yang dengannya tercipta sinergi kesuksesan

Dan yang paling terpenting adalah menjaga ketaatan kepada Allah dimanapun berada dan dalam kondisi apapun
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda
“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kau berada” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ad-Darimi)

Alhamdulillah, semua didapat dalam kegiatan Tarbiyah Alam Rimba 2015 Angkatan I – Petualang Muslim

Kebanggaan menjadi salah satu anggota PM adalah langkah awal ujian bagaimana selanjutnya seorang Petualang dengan identitas Muslim-nya…

B i s m i l l a h
~PM.051/15

Info: www.petualangmuslim.com

hanya kepadamu kami beribadah

Pernyataan yang senantiasa kita ucapkan, sudahkah kita memahami maknanya?

Iyya kana`budu

 “Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah”  

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menafsirkan artinya, “Kami mengkhususkan Engkau semata dalam peribadahan..

Di sini, ibadah didahulukan daripada isti’anah. Maksudnya adalah mendahulukan perkara yang umum baru kemudian yang khusus serta perhatian dengan mendahulukan hak Allah ta’ala daripada hak hamba-Nya”

Lalu, apakah makna ibadah itu sendiri?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberikan definisi dari Ibadah adalah segala sesuatu yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala, baik berupa ucapan dan amalan, yang nampak dan yang tersembunyi.

Jelaslah, bahwa sebuah ibadah mesti mendapatkan cinta dan ridho dari Allah Ta’ala karena untuk Dia-lah ibadah dilakukan, maka sangat penting kita mengetahui agar ibadah yang kita lakukan adalah ibadah yang di cintai dan diridhai Allah

Beribadah Hanya Karena Ada Perintah

Hal ini sebagaimana kaidah fiqih “Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).

Dalil dari kaedah ini adalah adalah firman Allah Ta’ala,

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Al Ahzab: 21).

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).

Jadi ibadah cukup mudahkan? Lakukan jika ada perintahnya, tinggalkan jika memang tidak ada perintahnya,, atau telitilah sebelum melakukan ibadah tersebut, inilah pentingnya belajar sebelum beramal

2 Syarat Diterimanya Amal Ibadah

Bahwa syarat diterimanya ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah:

Pertama: Ikhlas, yaitu beribadah karena Allah Ta’ala.

Kedua: Ittiba’, yaitu mengikuti sunnah (petunjuk) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Ulama seluruhnya sepakat (ijma’) bahwa, ibadah tidak benar tanpa memenuhi dua syarat ini

Dalil dari 2 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan makna ayat yang mulia ini,

Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, yaitu pahala dan balasannya yang baik. Maka hendaklah dia beramal shalih, yaitu amalan yang sesuai syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya, yaitu hendaklah (ikhlas) hanya mengharap wajah Allah saja tiada sekutu bagi-Nya. Dua perkara ini (amal sesuai syari’at dan ikhlas) merupakan dua rukun amal yang diterima, yaitu harus ikhlas karena Allah Ta’ala dan sesuai syari’at Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/205)

Setiap Ibadah Telah Ditentukan oleh Syari’at Mengenai Tata Caranya

Tata cara ibadah itulah yang harus kita ikuti dari Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam, karena hanya beliaulah yang mendapat wewenang (wahyu) dari Allah mengenai ibadah-ibadah apa saja yang di cintai dan di ridhoi-Nya. Ada 6 perkara agar amal ibadah kita sesuai syariat (mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam):

  1. Kaifiyat (cara), seorang beribadah harus dengan cara yang disyari’atkan. Contoh : cara berwudhu, jika cara wudhunya dimulai dengan membasuh kaki terlebih dahulu kemudian tangan, maka tidak sah wudhunya, kerana menyelisihi kaifiyat wudhu’.
  2. Jenis, yakni ibadah mesti sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Contoh : Jenis hewan qurban yang sudah ditentukan (kambing, sapi, unta), maka berqurban dengan hewan selainnya adalah tidak sah.
  3. Tempat, yakni ibadah mesti sesuai dengan tempat yang telah disyari’atkan. Contoh : Jika seorang tawaf bukan di Ka’bah maka tidak sah, karena tawaf hanya disyariatkan tempatnya di Ka’bah
  4. Jumlah, yakni ibadah mesti sesuai dengan jumlah/bilangan. Contoh : Jumlah raka’at sholat dan dzikir-dzikir sehabis sholat yang telah ditentukan.
  5. Waktu, yaitu ibadah mesti sesuai dengan waktunya. Contoh : seandainya ada orang yang sholat sebelum waktunya maka tidak sah, atau menyembelih hewan qurban bukan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik maka tidak sah
  6. Sebab, yakni ibadah kepada Allah harus dengan sebab yang disyari’atkan. Contoh: ketika bersin disyariatkan membaca ‘alhamdulillah’, ketika hujan turun disyariatkan membaca ”Allahumma shoyyibannafi’an” .

Setelah kita mengetahui makna ibadah, syarat dan tata caranya agar ibadah kita diterima bahkan di cintai dan diridhai Allah, maka tak ada artinya tanpa kita memohon pertolongan kepada Allah agar dapat dimudahkan semua itu, karena berapa banyak Muslim yang tak mampu untuk melaksanakan Sholat dikarenakan tanpa pertolongan Allah, juga berapa banyak ibadah sholat yang kita lakukan tapi tidaklah khusyu’ dan benar caranya sesuai sunnah Nabi shallalahu ‘alaihi wa salam dikarenakan kita tidak mendapat pertolongan Allah. Maka isti’anah (meminta pertolongan) kepada Allah dalam setiap peribadahan sangat dibutuhkan oleh hamba agar kita menyandarkan diri kepada Allah untuk memperoleh manfaat dan menolak mudharat, disertai dengan tsiqah (keyakinan) bahwa Allah-lah yang mewujudkan hal tersebut.

Wa iyya Kanasta`in

“Dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Penyebutan Isti’anah setelah ibadah -padahal isti’anah itu juga termasuk ke dalam ibadah- adalah karena butuhnya hamba kepada istia’anah kepada Allah dalam setiap peribadahan. Sebab, tanpa pertolongan Allah, dia tidak akan memperoleh apa yang dia inginkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah tadi”

Allahu ‘alam

Faedah kajian : Hanya PadaMu, Kerennya Al Fatihah Part. 02 – Ustadz Ibnu Bakri

Banggalah Menjadi Muslim !

Bangga muslim2

Karena menjadi muslim adalah hidayah dari Allah,

“Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”  [QS Al An’aam : 125]

Banggalah menjadi muslim, karena Islam adalah satu-satunya agama yang paling sempurna seluruh syari’atnya, 

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.”  [QS. Al Maidah : 3]

Banggalah menjadi muslim, karena hanya Islam agama yang di ridhoi Nya,

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam“. [QS. Ali Imran : 19]

Banggalah menjadi muslim, karena Islam adalah agama yang paling haq (benar),

“Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk (taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.”  [QS. Ali Imran : 83]

Banggalah menjadi muslim, karena Allah menjamin umat Islam pasti masuk surga,

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Semua umatku pasti akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku pasti masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan (tidak mau masuk surga, pent).” [HR. Al-Bukhari no.6851]

Jadi,

Tidak ada alasan hanya berdalih toleransi yang kebablasan ; ‘semua agama sama benarnya, semua agama sama berserah diri, semua agama adalah rahmatan lil alamin, tidak ada kekafiran dan kalimat kufur semacamnya’, menyebabkan kita tidak pede dengan keislaman kita,

Namun,

Pastinya bukan hanya sekedar kebanggaan menjadi muslim, tapi seorang muslim diperintahkan untuk mengenal Islam beserta dalil-dalilnya, hingga wajib seorang muslim untuk tunduk dan taslim (berserah diri) secara sempurna; yakni patuh dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya secara lahir dan bathin dan tidak menolak sesuatu dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih.

‘Ya Muqollibal Quluubi Tsabbit Qolbiy ‘Alaa Diinika’.

“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi no.3522, imam Ahmad IV/302, Al-Hakim I/525. Lihat Shohih Sunan At-Tirmidzi no.2792).

Aku bangga menjadi muslim !

Titik Kulminasi

lone-mountaineer-at-summit

Saat kita telah mencapai puncak gunung, setinggi apapun puncak itu, akhirnya kita kembali turun

Sehebat cita yang telah kita raih dengan usaha, setinggi apapun yang terwujud, akhirnya kita akan menemukan titik jenuh

Secepat usia pertumbuhan kita, seperkasa apapun di usia muda, akhirnya mengalami penurunan mengikuti usia yang semakin lanjut

Bahkan pada urusan perut, sebanyak apapun makanan yang kita makan, akhirnya merasa kenyang dan berhenti makan

Begitulah kehidupan dunia, semua pada akhirnya akan kembali zero,

“Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit” [At-Taubah/9:38]

Bersegeralah menjauh dari fitnah jika memang tak mampu menjaganya

Tinggalkanlah dari hal yang sia-sia dan tiada manfaat jika memang lebih banyak mudharatnya

Kembalilah menjadi hamba yang zero, yang tak memiliki apa-apa

Jakarta, Sep 15, 2015

true false

Merajut ukhuwah islamiyah, tidak mesti melunturkan untuk menyampaikan ciri penyimpangan yang ada pada sebuah kelompok yang menyimpang,

agar tetap terjaga ukhuwah islamiyah, kebenaran tetap disampaikan untuk membenci penyimpangan yang ada, bukan membenci saudara kita yang masih muslim

Sebuah kelompok dikatakan menyimpang, ketika ada isi ajarannya yang menyimpang dari Islam. Dan mereka lebih condong pada penyimpangannya tersebut.

Untuk mengetahui ciri-ciri penyimpangan, tidak ada jalan lain kecuali mengenali ciri-ciri kebenaran

Setiap ciri-ciri kebenaran akan mengungkap setiap ciri-ciri penyimpangan yang ada, tidak peduli apakah kita suka atu tidak

Ciri khas kelompok yang menyimpang; karena loyalnya mereka terhadap pemimpin, tokoh, kelompoknya, dan tidak loyalnya kepada kebenaran

Tugas seorang muslim hanya diminta untuk mengenali kebenaran agar tak jatuh padanya sebuah penyimpangan

Islam sepakat bahwa standar kebenaran adalah Al Quran dan As Sunnah, namun sebab jatuhnya penyimpangan karena kita lupa mengikuti keduanya dari pemahaman Sahabat

Berpegang kepada kebenaran adalah mengikuti jalannya orang-orang mu’min yang mereka adalah para sahabat radhyallahu’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (Salafush Shalih),

maka hanya karena satu masalah yang kita selisi dari jalannya orang-orang mukmin, akan sebabkan kita berada diatas penyimpangan

Allah memberikan bukti dengan firman-Nya,
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah nyata baginya al-hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min, niscaya akan Kami palingkan (sesatkan) dia ke mana dia berpaling (tersesat) dan akan Kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” {An-Nisa’ : 115}

kebenaran itu adalah kebenaran, dan kebatilan tetaplah menjadi kebatilan, yang tidak akan keduanya dicampuradukan

Wanita Idaman

20140831_063550

Begitu mulianya wanita di dalam islam, hingga ia diabadikan di dalam satu surah Al Qur’an (An-Nisa`, yang artinya wanita-wanita, karena hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita lebih banyak disebutkan dalam surah ini daripada dalam surah yang lain)

Begitu berharganya wanita, hingga ia senantiasa mendapat perlindungan dari kaum lelaki

“Kaum lelaki itu adalah sebagai pemimpin (pelindung) bagi kaum wanita.” (An Nisa’: 35)

Begitu lembutnya wanita, hingga kita diminta untuk berlemah lembut, bersikap baik dan bersabar terhadap wanita

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda:

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)

Begitulah kedudukan wanita, tidak terkecuali bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam sebagai sosok manusia terbaik dan termulia, wanita adalah sesuatu yang paling beliau cintai di antara kenikmatan dunia yang lain, dan ini merupakan fitroh beliau sebagai manusia biasa.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Aku diberikan rasa cinta dari dunia terhadap para wanita dan wewangian dan dijadikan penyejuk mataku ada di dalam shalat.” (HR. Ahmad, dan Nasa’i. Di shohihkan oleh Syaikh Al Albani)

Namun seperti apakah wanita yang seharusnya menjadi idaman itu ?

  • Wanita idaman itu ialah wanita shalihah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

  • Wanita idaman ialah wanita yang baik agamanya diantara hartanya, keturunannya & kecantikannya

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

  • Wanita idaman ialah wanita yang senantiasa menutup auratnya

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59)

  • Wanita idaman itu ialah wanita yang bila dipandang menyenangkan
  • Wanita idaman itu ialah wanita yang taat bila diperintah dalam hal yang ma’ruf
  • Wanita idaman itu ialah wanita yang amanat dan tiada khianat

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417 )

  • Wanita idaman ialah wanita yang penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

  • Wanita idaman ialah wanita yang pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya,

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.”(HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa.Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)

Mohonkanlah kepada-Nya wanita idaman, yakni wanita shalihah yang akan menjadi bidadari di sorga kelak,,

#Sep 2, 2014

Arti Sebuah Kekalahan

sunnah

Jangan sedih dengan kekalahan, bisa jadi Allah sedang menghindari kita dari kemaksiatan jika diberi kemenangan

Tak perlu meratapi kekalahan, karena bisa jadi Allah menunda kemenangan dengan kita lebih taat dan lurus di jalan-Nya

Tak patut marah karena kekalahan, karena kita sedang menuai sebab amal-amal tholeh kita

Tidak perlu salahkan orang lain karena kekalahan, bisa jadi kemenangan mereka sadarkan kita agar lebih mengikuti jalan Islam yang benar

Kekalahan terjadi karena sebab jalan ‘rusak’ yang kita ikuti, Kemenangan hanya terjadi karena sebab jalan ‘lurus’ yang diikuti

Jangan lagi menambah kekalahan dengan jalan-jalan yang pasti akan kalah, mulailah mencari kemenangan dengan jalan Kebenaran

Pilihlah kemenangan hakiki yang hanya bisa diraih dengan cara-cara syari’, bukan hanya simbol kemenangan yang justru menjadikan kekalahan abadi

Kalah bukan berarti menyerah,

Kalah bukan berarti harus marah,

Kalah bukan berarti musuh lebih hebat dari kita

Kekalahan bisa jadi karena Allah sedang memberikan hikmah, dan penyebab kekalahan adalah kita sendiri yang salah

Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabadikan dua kejadian perang yang terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan Firman-Nya :

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. (QS Ali Imran [3]: 165)

Allah menjelaskan dalam ayat  tersebut bahwa sebab kekalahan kaum muslimin adalah karena kesalahan kaum muslimin itu sendiri, sebabnya adalah karena mereka tidak mengikuti  perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka menyelisihi perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah pun menimpakan kekalahan kepada mereka saat itu.

Lihatlah, hanya karena kekhilafan mereka terhadap perintah Nabi, saat itu pula Allah menimpakan kekalahan kepada mereka saat itu.

Bagaimana lagi saat ini, saat kesyirikan merajalela di tengah kaum muslimin, praktik bidah menjadi warna ibadah dan maksiat menjadi sesuatu yang lumrah? laa hawla walaa quwwata illa billah…

Sumber bacaan (dengan penambahan): http://www.radiorodja.com/sebab-kekalahan-kaum-muslimin-di-zaman-sekarang-khutbah-jumat-ustadz-abu-yahya-badrusalam-lc/#ixzz3B5FGkJYX

Siapa Pemimpinmu ?

Semua akan berharap pemimpin yang ta’at, sholeh, adil, wibawa, berakhlak mulia, takut kepada Allah, tidak zhalim, tidak korupsi dan segala macam kebaikan-kebaikannya,,

Tapi kita -yang berharap- justru banyak meninggalkan keta’atan dan banyak berbuat maksiat, apa mungkin mendapatkan pemimpin harapan tersebut?

Pemimpin kita adalah cerminan dari kita (rakyatnya)

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.[ Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178, Ibnul Qayyim]

Jadi tidak usah heran kalau pemimpin atau calon pemimpin kita masih banyak kekurangan dari criteria yang diharapkan, bahkan dzalim, hal ini dikarenakan dosa-dosa yang kita lakukan.

Allah ta’ala berfirman,

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129).

Masih ada waktu dan saatnya mengoreksi diri sendiri dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalah kita (rakyatnya) sesuai yang Allah ridhoi, insyaAllah pemimpin yang diharapkan akan diberi ALlah

Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du : 11)

great-leader

Awan Tag