Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Archive for the ‘Nasehat Diri’ Category

Saya Memang (Tidak Tahu) Malu!

saya malu 1

Saat mata saya belum mampu menahan pandangan dari yang haram baik dikala ramai dan bersendirian, saya malu untuk menyebar nasehat agar  laki-laki & wanita yang beriman, Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan menjaga kemaluannya.

Saat saya masih mencuri-curi kesempatan dengan pacaran islami dan menikmati campur baur dengan lawan jenis non-mahrom, saya malu untuk menyebar nasehat bahayanya Ikhtilat para laki-laki dengan perempuan yang menjadi sebab timbulnya berbagai tindakan keji dan perzinaan

Saat mulut saya belum mampu menahan ghibah, menggunjing saudara sendiri hingga perkataan cela dan dusta, saya malu untuk menyebar nasehat agar orang-orang yang beriman senantiasa berkata yang benar, menjauhi sgala prasangka, mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing sebahagian yang lain.

Saat sholat saya belum mampu berjama’ah di masjid dan diawal waktu,  saya malu untuk menyebar nasehat keutamaan shalat berjam’aah yang lebih utama dengan 27 derajat

Saat saya masih pelit menyedekahkan harta yang saya miliki, saya malu untuk menyebar nasehat utamanya sedekah yang bisa menghapus dosa dan membawa berkah

Saat hati dan badan saya belum mampu duduk rutin di majelis-majelis ilmu untuk mengambil manfaatnya, saya malu untuk menyebar nasehat agar setiap Muslim wajib menuntut ilmu agama, bahwa sungguh orang takut kepada Allah hanyalah orang yang berilmu (Ulama), dan sungguh orang yang faham agama adalah tanda Allah berikan seluruh kebaikan padanya

Saat saya masih berbangga dengan apa yang sudah diperbuat taklim & komunitas saya, saya malu senantiasa menyindir & meng-hajr saudara-saudara saya yang Ta’ashub dan taklid oleh partai politik,  ormas dan fanatisme golongan lainnya

Saat saya masih merasa kurang dengan penghasilan saya dan dunia masih menyibukkan saya, saya malu disetiap waktu menyebar nasehat agar menjadi hamba yang selalu bersyukur dan tak tertipu oleh dunia

Saat masih banyaknya amalan-amalan sunnah yang lalai saya lakukan di hari Jum’at, saya malu selalu menyebar nasehat banyaknya keutamaan dan amalan-amalan sunnah di hari Jum’at

Saya memang tidak tahu malu!

Jika masih banyaknya ilmu yang belum saya amalkan kenapa begitu banyak yang saya sebarkan sebagai nasehat kepada orang lain hanya karena mengandalkan

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Atau karena saya mengandalkan ucapan Sa’id bin Jubair sebagaimana yang pernah saya baca bahwa Sa’id bin Jubair mengatakan, “Jika tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar,  kecuali orang yang sempurna niscaya tidak ada satupun orang yang boleh melakukannya”. (Tafsir Qurthubi, 1/410)

Atau dalil-dalil lain tentang keutamaan berdakwah? Padahal saya pun tahu bahwa itu fardhu kifayah

Saya yakin, tidak ada yang salah dengan dalil-dalil di atas, tapi sekarang saya harus curiga bahwa diri saya hanya orang yang pandai memberi nasehat namun menjadi orang yang pertama menerjang sendiri pesan nasehat itu, padahal sejatinya saya memiliki daya untuk melakukan dan mengamalkan pesan-pesan nasehat itu.

Saya jadi kembali ingat firman Allah Ta’ala

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kemurkaan Allah bila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. As-Shof: 2-3).

Akankah saya kembali tidak tahu malu setelah mengingat ayat ini?

Petualang Dengan Identitas Muslim

TAR 2015
Tentang kesabaran & ketabahan, yang dengannya berbagai kesulitan dan ujian akan ada jalan keluar, ada kemudahan dan ada ujungnya.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Tentang kekuatan, yang dengannya mukmin yang kuat lebih dicintai Allah.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah” (HR. Muslim No. 2664)

Tentang kebersamaan, yang dengannya dapat saling merasakan dan peduli sesama
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda
“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan yang lainnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Tentang adab dan sikap seorang muslim, bukan hanya ilmu & praktek manajemen perjalanan, first aid, navigasi, survival, mountaineering di alam bebas tapi bagaimana bermuamalah dengan alam semesta

Tentang membangun kedisiplinan dan ketaatan kepada pemimpin dalam hal yang ma’ruf, yang dengannya tercipta sinergi kesuksesan

Dan yang paling terpenting adalah menjaga ketaatan kepada Allah dimanapun berada dan dalam kondisi apapun
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda
“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kau berada” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ad-Darimi)

Alhamdulillah, semua didapat dalam kegiatan Tarbiyah Alam Rimba 2015 Angkatan I – Petualang Muslim

Kebanggaan menjadi salah satu anggota PM adalah langkah awal ujian bagaimana selanjutnya seorang Petualang dengan identitas Muslim-nya…

B i s m i l l a h
~PM.051/15

Info: www.petualangmuslim.com

Wanita Idaman

20140831_063550

Begitu mulianya wanita di dalam islam, hingga ia diabadikan di dalam satu surah Al Qur’an (An-Nisa`, yang artinya wanita-wanita, karena hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita lebih banyak disebutkan dalam surah ini daripada dalam surah yang lain)

Begitu berharganya wanita, hingga ia senantiasa mendapat perlindungan dari kaum lelaki

“Kaum lelaki itu adalah sebagai pemimpin (pelindung) bagi kaum wanita.” (An Nisa’: 35)

Begitu lembutnya wanita, hingga kita diminta untuk berlemah lembut, bersikap baik dan bersabar terhadap wanita

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda:

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)

Begitulah kedudukan wanita, tidak terkecuali bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam sebagai sosok manusia terbaik dan termulia, wanita adalah sesuatu yang paling beliau cintai di antara kenikmatan dunia yang lain, dan ini merupakan fitroh beliau sebagai manusia biasa.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Aku diberikan rasa cinta dari dunia terhadap para wanita dan wewangian dan dijadikan penyejuk mataku ada di dalam shalat.” (HR. Ahmad, dan Nasa’i. Di shohihkan oleh Syaikh Al Albani)

Namun seperti apakah wanita yang seharusnya menjadi idaman itu ?

  • Wanita idaman itu ialah wanita shalihah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

  • Wanita idaman ialah wanita yang baik agamanya diantara hartanya, keturunannya & kecantikannya

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

  • Wanita idaman ialah wanita yang senantiasa menutup auratnya

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59)

  • Wanita idaman itu ialah wanita yang bila dipandang menyenangkan
  • Wanita idaman itu ialah wanita yang taat bila diperintah dalam hal yang ma’ruf
  • Wanita idaman itu ialah wanita yang amanat dan tiada khianat

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417 )

  • Wanita idaman ialah wanita yang penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

  • Wanita idaman ialah wanita yang pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya,

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.”(HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa.Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)

Mohonkanlah kepada-Nya wanita idaman, yakni wanita shalihah yang akan menjadi bidadari di sorga kelak,,

#Sep 2, 2014

Selamat Jalan Ibu

24be04e34312

Salah satu hal yang sering terpikirkan, ketika suatu saat kedua orang tua kita wafat, apa yang harus diperbuat, bhakti apa yang bisa hantarkan mereka mendapat tempat terbaik di alam barzah guna menuju akhiratnya.

Qadarallah, waktu itupun akhirnya harus dialami,,
Aku kehilangan Ibu,
Sesak rasanya ketika tak ada disampingnya di saat terakhirnya
Apa yang terpikirkan, kini terjadi, kehilangan seorang Ibu
Masih terus teringat wajah terakhirnya itu.

Ibu bisa mendapatkan apa yang diinginkannya,
Menempatkan tempat terakhirnya, terlihat sangat sederhana,
Tanpa meng-adzankan di saat liang lahatnya,
Tanpa meninggikan makamnya, kecuali sejengkal
Tanpa nama pada nisan-nya
Tanpa pula merayakan hari-hari kematian-nya
Semoga ini menjadi bhakti terakhir terhadap Ibu

Masih terus teringat Ibu, seperti meninggalkan-nya jauh disana,
Namun harus cepat tersadar bahwa inilah Takdir Allah,
Selamat jalan Ibu, kami tak akan pernah melupakanmu
Semoga Allah ampuni segala dosa-dosa-mu
Semoga Allah mudahkan jalanmu menuju Akhirat kelak
Semoga sedekah jariyahmu terus mengalir sebagai pemberat amalmu
Semoga amal shalih anak-anakmu pun terus mengalir sebagai hasil upayamu

“Ya Allah, Ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, maafkanlah dia dan selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air, salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana baju yang putih dibersihkan dari kotoran, berilah ia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), berilah ia istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa neraka” (HR. Muslim no.963)

Allah telah menggariskan jalan-jalan bagi hamba-Nya
Kututup lembaran musibah ini sebagai bagian dari sebuah perjalanan hidup yang mesti kita jalani,,

Yang tak kan pernah terlupa,
Bahwa Ibu pernah ada di dunia ini,
Bahwa kematian itu ada dan selalu menanti kita,
Bahwa kesedihan itu adalah fitrah ketika kita ditinggal orang yang kita cintai, dan
Bahwa setelah musibah dan bersabar diatas musibah itu, kita diminta untuk melanjutkan sisa perjalanan hidup ini dengan iman dan amal shalih

Solo -Rabu, 9 Oktober 2013

Keberkahan Hidup

another time

“Dan berdoalah, ‘Ya Rabb, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.” (QS Al Mukminun [23]:29)

Seorang teman pernah bertanya, “Apakah yang paling engkau takutkan dalam hidupmu?” dengan gamblang hamba Allah tersebut menjawab, “Aku takut akan lambatnya pertolongan Allah!” Teman itu menampakkan raut wajah keheranan yang membutuhkan sebuah penjelasan lebih lanjut. “Kenapa begitu? Bukankah engkau memiliki tanggungan istri dan anak-anak yang harus dicukupi kebutuhannya? Engkau lebih pantas untuk takut jikalau kebutuhan mereka tidak dapat terpenuhi?”

Hamba Allah tersebut tersenyum seraya menjawab, “Kesempitan dan kesusahan adalah keniscayaan bagi kita hamba Allah, sama halnya dengan kelapangan dan kebahagiaan karena semua hal itu adalah ujian dari Allah yang datang silih berganti. Untuk apa harus ditakuti? Sebahagian besar penderitaan yang kita hadapi lebih sering merupakan dramatisasi dari perasaan yang kita buat. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Allah Azza wa Jalla tidak akan pernah menguji manusia diluar dari batas kemampuannya. Manusia selalu berkeluh kesah dan bersedih seolah-olah dirinya yang paling merugi hidup di dunia ini.”

Hamba Allah tersebut melanjutkan, “Bukankah pertolongan Allah amat kita harapkan disaat kita menjalani kesulitan hidup agar Allah memberi kelapangan kepada kita. Demikian juga di saat kita sedih, kita membutuhkan pertolongan Allah agar dapat merasa bahagia kembali….Jangan pernah takut sebesar apa masalah yang sedang dihadapi, tapi takutlah kalau-kalau Allah tidak menolong kita!”

Ayat diatas adalah perintah Allah kepada Nabi Nuh alaihisalam untuk berdoa ketika memasuki kapal yang akan bertolak membawa dirinya dan umatnya yang hanya segelintir orang. Allah berkenan mengazab umat nabi Nuh alaihisalam yang ingkar kepada-Nya.

Ada sebuah kata yang indah dalam doa ini yaitu ‘tempat yang diberkahi’ yang berarti sebuah pengharapan akan kehidupan yang lebih baik kelak dimana kapal nabi Nuh alaihisalam dan pengikut-pengikutnya berlabuh. Sebuah pengharapan akan kehidupan yang menentramkan dan dekat dengan pertolongan Allah. Jauh dari rasa gelisah dan huru-hara kehidupan yang melalaikan.

Jika kita merenung, bukankah doa ini sangat relevan dengan keadaan kita saat ini? Dan memiliki korelasi yang sangat erat dengan pernyataan ‘hamba Allah’ diatas yang amat sangat takut akan jauh nya ‘dirinya’ dari pertolongan Allah?

Dalam kehidupan kita saat ini, kita merasakan kegelisahan yang amat sangat di setiap belahan waktu yang kita lalui. Kita cemas akan mushibah yang sewaktu-waktu dapat terjadi disaat alam tempat kita menghela nafas telah jauh dari bersahabat. Kita was-was disaat kejahatan dan pelecehan dapat terjadi kapan saja.

Keberkahan hidup adalah sebuah jawaban dari apa yang kita butuhkan. Dan keberkahan hidup meliputi ketentraman hati dan pertolongan Allah yang dekat sehingga sebesar apapun masalah yang sedang kita hadapi dalam kehidupan ini, tidak akan pernah sedikitpun merisaukan kita. ***

Bby -Apr 29, 2013

C i n t a . . . .

 
love16Terkadang cinta saya kepada manusia itu melebihi dari cinta kepada Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa salam, sehingga saya tidak bisa membedakan mana yang harus diprioritaskan untuk mencintai dan mendapatkan cinta..Padahal yang diinginkan-Nya ketika kita benar-benar mencintai manusia adalah cinta karena Allah, bukan selainnya..

Hingga terlarutnya diri saya akan cinta, inilah yang mungkin membuat hati saya gundah, tidak bahagia, dan hanya terjatuh dengan persoalan-persoalan syahwat duniawi yang justru tidak mendekatkan diri saya kepada-Nya..

Padahal, tanda-tanda kebahagiaan yang hakiki dan kemuliaan di akhirat itu hanya di dapat dengan mengikhlaskan cinta kepada Allah, kemudian kepada Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasalam, kemudian juga kepada orang-orang yang memang patut kita cintai karena Allah..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, yang berfirman,

‘Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.’ Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR. Ahmad; Shahih dengan berbagai jalan periwayatannya)

Maka seharusnya saya kembali merenung dan berintrospeksi, apakah pengorbanan atas nama cinta telah benar-benar ikhlas karena Allah yang dengannya membawa kita kepada ketaatan kepada-Nya.. ?

 S e m o g a …

{Catatan untuk diri sendiri}

Sarana-Sarana Kebaikan

Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Tiga: Sarana-Sarana Kebaikan

 Oleh : Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

عَنْ أَبِيْ مَالِكْ الْحَارِثِي ابْنِ عَاصِمْ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الطُّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ، وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ الْمِيْزَانِ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ – أَوْ تَمْلآنِ – مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ . كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا
[رواه مسلم]

Dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al Asy’ari radhiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Kesucian adalah separuh keimanan, Alhamdulillah memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi ruang antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran merupakan sinar. Al Qur’an bisa sebagai pembela bagimu, bisa pula sebagai bumerang bagimu. Setiap pagi manusia dapat menjual dirinya, apakah ia akan memerdekakan dirinya atau akan membinasakannya.” (HR. Muslim. Shahih dikeluarkan oleh Muslim di dalam [Ath Thaharah/223/Abdul Baqi])

Penjelasan:

Asy Syaikh rahimahullah berkata: Hadits ke 23, dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al Asy’ari radhiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Kesucian adalah separuh keimanan “. Dengan didlomahkan huruf tha’nya, maknanya adalah thaharah, “syathrul iman”, yakni separuhnya, karena keimanan adalah takhalli dan tahalli/memakai. Adapun takhalli yakni melepaskan (membersihkan) diri dari kesyirikan. Karena syirik kepada Allah adalah najis, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا.

“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati masjidil haram sesudah tahuan ini.” (At Taubah: 28)

Oleh karena itu, kesucian adalah separuh dari keimanan. Dikatakan pula bahwa maknanya adalah bersuci untuk shalat adalah separuh dari keimanan, karena shalat merupakan keimanan dan ia tidak sempurna kecuali dengan bersuci. Akan tetapi, makna yang pertama lebih baik dan lebih umum.

“Alhamdulillah memenuhi timbangan”. Alhamdulillah, yakni pensifatan Allah dengan segala puja dan puji dan sifat-sifat yang sempurna, baik sifat-sifat dzatiyah maupun fi’liyah. Memenuhi timbangan, yakni timbangan amalan. Karena kalimat tersebut begitu agung di sisi Allah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua kalimat yang dicintai Ar Rahman, ringan di lisan, namun berat dalam timbangan, yaitu subhanallah wa bihamdih dan subhanallah al ‘azhim.” (Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam [Ad Da’awaat/6406/Fath], Muslim di dalam [Adz Dzikr/2694/Abdul Baqi])

“Subhanallah dan Alhamdulillah”, yakni gabungan kedua kalimat tersebut memenuhi langit dan bumi. Itu karena begitu agungnya kedua kalimat tersebut. Karena kedua kalimat tersebut mengandung pensucian terhadap Allah dari segala kekurangan, dan juga mengandung penetapan kesempurnaan bagi Allah. Tasbih (ucapan Subhanallah) mengandung pensucian terhadap Allah dari segala bentuk kekurangan, sedangkan hamdalah (ucapan Alhamdulillah) mengandung pensifatan Allah dengan segala bentuk kesempurnaan. Oleh karena itu, kedua kalimat ini memenuhi antara langit dan bumi. Kemudian sabdanya, “Shalat adalah cahaya”, maksudnya adalah bahwa shalat adalah cahaya di dalam hati, jika hati bersinar, maka wajah pun bersinar pula. Demikian pula, ia adalah cahaya pada hari kiamat kelak. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِم

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan berjalan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (Al Hadiid: 12)

Ia pun merupakan cahaya dalam hubungannya dengan perolehan hidayah dan ilmu, dan segala sesuatu yang di dalamnya terdapat cahaya.

“Sedekah adalah bukti yang nyata.” Maksudnya adalah yang menunjukkan akan benar atau jujurnya orang yang menunaikannya, bahwa ia cinta untuk mendekatkan diri kepada Allah. Itu terjadi karena harta benda adalah sesuatu yang dicintai oleh jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu yang dicintai itu tidak akan didermakan (dikeluarkan), kecuali kepada sesuatu yang lebih dicintai dari hal tadi. Dan setiap orang yang mengeluarkan harta yang dicintainya demi (memperoleh) pahala yang diharapkan, hal ini adalah bukti nyata akan jujurnya keimanan dan kuatnya keyakinannya.

“Kesabaran adalah sinar.” Kesabaran dengan tiga bentuknya: sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menghadapi maksiat, dan sabar terhadap takdir yang telah Allah gariskan.

(ضِيَاء ) adalah cahaya yang disertai dengan panas, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُورًا

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, matahari padanya terhadap cahaya dan panas.” (Yunus: 5)

Matahari memiliki cahaya dan panas, kesabaran pun demikian pula, karena hal itu terasa berat bagi jiwa. Jiwa merasakan panasnya kesabaran, sebagaimana seseorang merasakan panas.

“Al Qur’an sebagai pembela atau bumerang bagimu.” Al Qur’an bisa menjadi pembela bagimu atau bumerang bagimu di sisi Allah. Apabila engkau mengamalkannya, dia akan menjadi pembelamu, namun bila engkau berpaling darinya, ia akan menjadi bumerang bagimu. Kemudian Nabi menjelaskan bahwa setiap pagi manusia pergi menuju pekerjaan mereka.

“Menjual dirinya, bisa sebagai pembebasnya atau yang membinasakannya.” Setiap pagi manusia pergi, mereka berusaha dan bersusah payah. Di antara mereka ada yang membebaskan dirinya, dan ada pula yang membinasakan dirinya sesuai dengan amalannya. Jika ia melakukan ketaatan kepada Allah dan istiqamah di atas syari’atNya, berarti ia memerdekakan dirinya dari penghambaan setan dan nafsu. Jika keadaannya kebalikan dari hal itu, berarti ia telah mencelakakan dirinya sendiri.

Faedah – faedah yang dikandung dalam hadits ini:

1. Anjuran untuk bersuci dan menjelaskan kedudukan bersuci dalam agama, dan bahwa thaharah (bersuci) adalah seperti keimanan.

2. Anjuran untuk memuji Allah dan mensucikanNya. Dan bahwa hal itu memenuhi timbangan dan gabungan antara tasbih dan hamdalllah memenuhi antara langit dan bumi.

3. Anjuran untuk mengerjakan shalat. Dan sesungguhnya shalat adalah cahaya. Dan bercabang dari faedah ini, sesungguhnya shalat akan membuka pintu ilmu dan pemahaman bagi seseorang.

4. Anjuran untuk bersedekah, dan penjelasan bahwa sedekah adalah bukti nyata dan tanda jujurnya keimanan pelakunya.

5. Anjuran untuk bersabar. Dan sesungguhnya kesabaran adalah cahaya. Dan sesungguhnya dari kesabaran itu, akan muncul sesuatu yang memberatkan manusia, sebagaimana munculnya kepayahan karena panas.

6. Al Qur’an adalah pembela bagi seseorang atau merupakan bumerang baginya. Dan tidak ada posisi pertengahan di mana Al Qur’an itu bukan merupakan pembela, atau bukan pula merupakan bumerang bagi dirinya. Kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan Al Qur’an sebagai pembela yang bermanfaat bagi kita.

7. Setiap manusia harus bekerja, berdasarkan sabdanya, “Setiap pagi manusia pergi.” Dan telah tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,

“Nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam.” (Dhaif/lemah, dilemahkan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah sebagaimana di dalam Al Irwa’ [1164])

Karena setiap orang adalah Harits (petani) dan Hammam (orang yang memiliki keinginan kuat).

8. Orang yang beramal itu bisa jadi membebaskan dirinya, bisa pula membinasakan dirinya sendiri. Apabila ia menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan, maka ia membebaskan dan memerdekakan dirinya dari penghambaan setan. Jika keadaannya kebalikan daripada itu, maka ia telah membinasakan dirinya, yakni menghancurkannya.

9. Kesabaran yang hakiki adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah, bukan pengorbanan hawa nafsu untuk melakukan segala sesuatu yang ia inginkan.

Ibnul Qayyim dalam Nuniyyahnya berkata,

Mereka lari dari penghambaan yang mereka telah diciptakan untuk tujuan itu,

Mereka telah ditimpa dengan penyembahan nafsu dan setan.

Setiap orang yang melarikan diri untuk beribadah kepada Allah, maka dia akan tetap dalam penghambaan setan dan akhirnya ia menjadi penghamba setan.

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah dari Syarah Arbain An Nawawiyah oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, penerjemah Abu Abdillah Salim, Penerbit Pustaka Ar Rayyan. Silakan dicopy dengan mencantumkan URL http: //ulamasunnah.wordpress.com)

Awan Tag