Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Wanita Idaman

20140831_063550

Begitu mulianya wanita di dalam islam, hingga ia diabadikan di dalam satu surah Al Qur’an (An-Nisa`, yang artinya wanita-wanita, karena hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita lebih banyak disebutkan dalam surah ini daripada dalam surah yang lain)

Begitu berharganya wanita, hingga ia senantiasa mendapat perlindungan dari kaum lelaki

“Kaum lelaki itu adalah sebagai pemimpin (pelindung) bagi kaum wanita.” (An Nisa’: 35)

Begitu lembutnya wanita, hingga kita diminta untuk berlemah lembut, bersikap baik dan bersabar terhadap wanita

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda:

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)

Begitulah kedudukan wanita, tidak terkecuali bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam sebagai sosok manusia terbaik dan termulia, wanita adalah sesuatu yang paling beliau cintai di antara kenikmatan dunia yang lain, dan ini merupakan fitroh beliau sebagai manusia biasa.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Aku diberikan rasa cinta dari dunia terhadap para wanita dan wewangian dan dijadikan penyejuk mataku ada di dalam shalat.” (HR. Ahmad, dan Nasa’i. Di shohihkan oleh Syaikh Al Albani)

Namun seperti apakah wanita yang seharusnya menjadi idaman itu ?

  • Wanita idaman itu ialah wanita shalihah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

  • Wanita idaman ialah wanita yang baik agamanya diantara hartanya, keturunannya & kecantikannya

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

  • Wanita idaman ialah wanita yang senantiasa menutup auratnya

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59)

  • Wanita idaman itu ialah wanita yang bila dipandang menyenangkan
  • Wanita idaman itu ialah wanita yang taat bila diperintah dalam hal yang ma’ruf
  • Wanita idaman itu ialah wanita yang amanat dan tiada khianat

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417 )

  • Wanita idaman ialah wanita yang penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

  • Wanita idaman ialah wanita yang pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya,

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwassalam bersabda: 

“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.”(HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa.Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)

Mohonkanlah kepada-Nya wanita idaman, yakni wanita shalihah yang akan menjadi bidadari di sorga kelak,,

#Sep 2, 2014

Iklan

Arti Sebuah Kekalahan

sunnah

Jangan sedih dengan kekalahan, bisa jadi Allah sedang menghindari kita dari kemaksiatan jika diberi kemenangan

Tak perlu meratapi kekalahan, karena bisa jadi Allah menunda kemenangan dengan kita lebih taat dan lurus di jalan-Nya

Tak patut marah karena kekalahan, karena kita sedang menuai sebab amal-amal tholeh kita

Tidak perlu salahkan orang lain karena kekalahan, bisa jadi kemenangan mereka sadarkan kita agar lebih mengikuti jalan Islam yang benar

Kekalahan terjadi karena sebab jalan ‘rusak’ yang kita ikuti, Kemenangan hanya terjadi karena sebab jalan ‘lurus’ yang diikuti

Jangan lagi menambah kekalahan dengan jalan-jalan yang pasti akan kalah, mulailah mencari kemenangan dengan jalan Kebenaran

Pilihlah kemenangan hakiki yang hanya bisa diraih dengan cara-cara syari’, bukan hanya simbol kemenangan yang justru menjadikan kekalahan abadi

Kalah bukan berarti menyerah,

Kalah bukan berarti harus marah,

Kalah bukan berarti musuh lebih hebat dari kita

Kekalahan bisa jadi karena Allah sedang memberikan hikmah, dan penyebab kekalahan adalah kita sendiri yang salah

Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabadikan dua kejadian perang yang terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan Firman-Nya :

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. (QS Ali Imran [3]: 165)

Allah menjelaskan dalam ayat  tersebut bahwa sebab kekalahan kaum muslimin adalah karena kesalahan kaum muslimin itu sendiri, sebabnya adalah karena mereka tidak mengikuti  perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka menyelisihi perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah pun menimpakan kekalahan kepada mereka saat itu.

Lihatlah, hanya karena kekhilafan mereka terhadap perintah Nabi, saat itu pula Allah menimpakan kekalahan kepada mereka saat itu.

Bagaimana lagi saat ini, saat kesyirikan merajalela di tengah kaum muslimin, praktik bidah menjadi warna ibadah dan maksiat menjadi sesuatu yang lumrah? laa hawla walaa quwwata illa billah…

Sumber bacaan (dengan penambahan): http://www.radiorodja.com/sebab-kekalahan-kaum-muslimin-di-zaman-sekarang-khutbah-jumat-ustadz-abu-yahya-badrusalam-lc/#ixzz3B5FGkJYX

Siapa Pemimpinmu ?

Semua akan berharap pemimpin yang ta’at, sholeh, adil, wibawa, berakhlak mulia, takut kepada Allah, tidak zhalim, tidak korupsi dan segala macam kebaikan-kebaikannya,,

Tapi kita -yang berharap- justru banyak meninggalkan keta’atan dan banyak berbuat maksiat, apa mungkin mendapatkan pemimpin harapan tersebut?

Pemimpin kita adalah cerminan dari kita (rakyatnya)

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.[ Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178, Ibnul Qayyim]

Jadi tidak usah heran kalau pemimpin atau calon pemimpin kita masih banyak kekurangan dari criteria yang diharapkan, bahkan dzalim, hal ini dikarenakan dosa-dosa yang kita lakukan.

Allah ta’ala berfirman,

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129).

Masih ada waktu dan saatnya mengoreksi diri sendiri dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalah kita (rakyatnya) sesuai yang Allah ridhoi, insyaAllah pemimpin yang diharapkan akan diberi ALlah

Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du : 11)

great-leader

Selamat Jalan Ibu

24be04e34312

Salah satu hal yang sering terpikirkan, ketika suatu saat kedua orang tua kita wafat, apa yang harus diperbuat, bhakti apa yang bisa hantarkan mereka mendapat tempat terbaik di alam barzah guna menuju akhiratnya.

Qadarallah, waktu itupun akhirnya harus dialami,,
Aku kehilangan Ibu,
Sesak rasanya ketika tak ada disampingnya di saat terakhirnya
Apa yang terpikirkan, kini terjadi, kehilangan seorang Ibu
Masih terus teringat wajah terakhirnya itu.

Ibu bisa mendapatkan apa yang diinginkannya,
Menempatkan tempat terakhirnya, terlihat sangat sederhana,
Tanpa meng-adzankan di saat liang lahatnya,
Tanpa meninggikan makamnya, kecuali sejengkal
Tanpa nama pada nisan-nya
Tanpa pula merayakan hari-hari kematian-nya
Semoga ini menjadi bhakti terakhir terhadap Ibu

Masih terus teringat Ibu, seperti meninggalkan-nya jauh disana,
Namun harus cepat tersadar bahwa inilah Takdir Allah,
Selamat jalan Ibu, kami tak akan pernah melupakanmu
Semoga Allah ampuni segala dosa-dosa-mu
Semoga Allah mudahkan jalanmu menuju Akhirat kelak
Semoga sedekah jariyahmu terus mengalir sebagai pemberat amalmu
Semoga amal shalih anak-anakmu pun terus mengalir sebagai hasil upayamu

“Ya Allah, Ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya, maafkanlah dia dan selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air, salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana baju yang putih dibersihkan dari kotoran, berilah ia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), berilah ia istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa neraka” (HR. Muslim no.963)

Allah telah menggariskan jalan-jalan bagi hamba-Nya
Kututup lembaran musibah ini sebagai bagian dari sebuah perjalanan hidup yang mesti kita jalani,,

Yang tak kan pernah terlupa,
Bahwa Ibu pernah ada di dunia ini,
Bahwa kematian itu ada dan selalu menanti kita,
Bahwa kesedihan itu adalah fitrah ketika kita ditinggal orang yang kita cintai, dan
Bahwa setelah musibah dan bersabar diatas musibah itu, kita diminta untuk melanjutkan sisa perjalanan hidup ini dengan iman dan amal shalih

Solo -Rabu, 9 Oktober 2013

Saat Usia Semakin Terkikis,,

its about making time

Batang pohon yang kokoh pun semakin lama rapuh terkikis dimakan usia,
Batu yang cadas pun kan berganti kapur karena termakan usia,
Betapa lagi Manusia yang hanya berbalut kulit lemah kan renta dimakan usia,

Tidak ada usia yang abadi semua pasti sirna, yang ada hanyalah sisa waktu yang berharga,

Waktu adalah nafas yang terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung. Jika waktu yang sedikit itu yang hanya sesaat atau beberapa jam bisa berbuah kebaikan, maka ia sangat beruntung. Sebaliknya jika waktu disia-siakan dan dilalaikan, maka sungguh ia benar-benar merugi. Dan namanya waktu yang berlalu tidak mungkin kembali selamanya.” (risalah “Al Waqtu Anfas Laa Ta’ud”, hal. 3)

Berkahnya saat usia seakan ditambah dan dipanjangkan, walau ia hanyalah sebuah perjalanan dalam menjalani usia yang telah ditakdirkan,

Beruntungnya sebagai hamba yang hanya diberi iman untuk meyakini datangnya takdir, karena ia bisa manfaatkan waktu-waktunya yang berharga,

Allah masih memberi kita waktu,,
Di saat usia semakin terkikis, Dia berikan kesempatan waktu yang berharga, agar kita beroleh keberkahan disetiap detik-detik sisa usia kita,

Sep 10, 2013

Keberkahan Hidup

another time

“Dan berdoalah, ‘Ya Rabb, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.” (QS Al Mukminun [23]:29)

Seorang teman pernah bertanya, “Apakah yang paling engkau takutkan dalam hidupmu?” dengan gamblang hamba Allah tersebut menjawab, “Aku takut akan lambatnya pertolongan Allah!” Teman itu menampakkan raut wajah keheranan yang membutuhkan sebuah penjelasan lebih lanjut. “Kenapa begitu? Bukankah engkau memiliki tanggungan istri dan anak-anak yang harus dicukupi kebutuhannya? Engkau lebih pantas untuk takut jikalau kebutuhan mereka tidak dapat terpenuhi?”

Hamba Allah tersebut tersenyum seraya menjawab, “Kesempitan dan kesusahan adalah keniscayaan bagi kita hamba Allah, sama halnya dengan kelapangan dan kebahagiaan karena semua hal itu adalah ujian dari Allah yang datang silih berganti. Untuk apa harus ditakuti? Sebahagian besar penderitaan yang kita hadapi lebih sering merupakan dramatisasi dari perasaan yang kita buat. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Allah Azza wa Jalla tidak akan pernah menguji manusia diluar dari batas kemampuannya. Manusia selalu berkeluh kesah dan bersedih seolah-olah dirinya yang paling merugi hidup di dunia ini.”

Hamba Allah tersebut melanjutkan, “Bukankah pertolongan Allah amat kita harapkan disaat kita menjalani kesulitan hidup agar Allah memberi kelapangan kepada kita. Demikian juga di saat kita sedih, kita membutuhkan pertolongan Allah agar dapat merasa bahagia kembali….Jangan pernah takut sebesar apa masalah yang sedang dihadapi, tapi takutlah kalau-kalau Allah tidak menolong kita!”

Ayat diatas adalah perintah Allah kepada Nabi Nuh alaihisalam untuk berdoa ketika memasuki kapal yang akan bertolak membawa dirinya dan umatnya yang hanya segelintir orang. Allah berkenan mengazab umat nabi Nuh alaihisalam yang ingkar kepada-Nya.

Ada sebuah kata yang indah dalam doa ini yaitu ‘tempat yang diberkahi’ yang berarti sebuah pengharapan akan kehidupan yang lebih baik kelak dimana kapal nabi Nuh alaihisalam dan pengikut-pengikutnya berlabuh. Sebuah pengharapan akan kehidupan yang menentramkan dan dekat dengan pertolongan Allah. Jauh dari rasa gelisah dan huru-hara kehidupan yang melalaikan.

Jika kita merenung, bukankah doa ini sangat relevan dengan keadaan kita saat ini? Dan memiliki korelasi yang sangat erat dengan pernyataan ‘hamba Allah’ diatas yang amat sangat takut akan jauh nya ‘dirinya’ dari pertolongan Allah?

Dalam kehidupan kita saat ini, kita merasakan kegelisahan yang amat sangat di setiap belahan waktu yang kita lalui. Kita cemas akan mushibah yang sewaktu-waktu dapat terjadi disaat alam tempat kita menghela nafas telah jauh dari bersahabat. Kita was-was disaat kejahatan dan pelecehan dapat terjadi kapan saja.

Keberkahan hidup adalah sebuah jawaban dari apa yang kita butuhkan. Dan keberkahan hidup meliputi ketentraman hati dan pertolongan Allah yang dekat sehingga sebesar apapun masalah yang sedang kita hadapi dalam kehidupan ini, tidak akan pernah sedikitpun merisaukan kita. ***

Bby -Apr 29, 2013

C i n t a . . . .

 
love16Terkadang cinta saya kepada manusia itu melebihi dari cinta kepada Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa salam, sehingga saya tidak bisa membedakan mana yang harus diprioritaskan untuk mencintai dan mendapatkan cinta..Padahal yang diinginkan-Nya ketika kita benar-benar mencintai manusia adalah cinta karena Allah, bukan selainnya..

Hingga terlarutnya diri saya akan cinta, inilah yang mungkin membuat hati saya gundah, tidak bahagia, dan hanya terjatuh dengan persoalan-persoalan syahwat duniawi yang justru tidak mendekatkan diri saya kepada-Nya..

Padahal, tanda-tanda kebahagiaan yang hakiki dan kemuliaan di akhirat itu hanya di dapat dengan mengikhlaskan cinta kepada Allah, kemudian kepada Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasalam, kemudian juga kepada orang-orang yang memang patut kita cintai karena Allah..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, yang berfirman,

‘Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.’ Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR. Ahmad; Shahih dengan berbagai jalan periwayatannya)

Maka seharusnya saya kembali merenung dan berintrospeksi, apakah pengorbanan atas nama cinta telah benar-benar ikhlas karena Allah yang dengannya membawa kita kepada ketaatan kepada-Nya.. ?

 S e m o g a …

{Catatan untuk diri sendiri}

Awan Tag