Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Archive for September, 2012

Kutitipkan Kepada-Mu, Ya Allah ..

Tidak selamanya perjumpaan membawa kebahagiaan, demikian pula sebaliknya, tidak selamanya perpisahan membawa kesedihan..

Sebagaimana Perjumpaan tentu mendapatkan perpisahan, entah perpisahan itu masih berada di permukaan bumi ataupun perpisahan yang akan meninggalkan bumi (kematian)..

Sejauh apa persiapan-persiapan perpisahan yang akan kita hadapi ? Sebagaimana orang yang hendak bepergian, selayaknya ia mempersiapkan segala keperluan di dalam perpisahannya, apakah ia bepergian jauh atau dekat sekalipun, tetap mengalami perpisahan..

Namun tentu perpisahan yang diinginkan oleh orang-orang beriman adalah perpisahan yang tetap berada dalam naungan as-Sunnah, maka mulailah perpisahan itu dengan Do’a..

Dari Qoza’ah, dia berkata: Ibnu Umar -radhiyallahu’anhuma- berkata kepadaku, “Kemarilah, akan kulepas kepergianmu sebagaimana ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas kepergianku (yaitu dengan Do’a):

 أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

‘Astaudi’ullaha diinaka wa amaanataka wa khawaatima ‘amalik’

(Aku titipkan kepada Allah pemeliharaan agamamu, amanatmu, dan akhir penutup amalmu).”

{HR. Abu Dawud, Syaikh al-Albani berkata: Hadits ini sahih dengan banyak jalannya, sebagiannya disahihkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan adz-Dzahabi. Lihat Shahih Sunan Abu Dawud [7/353]}

Sudah semestinya kita meyakini bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan kepada apa yang dititipkan kepada-Nya.

Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas kepergianku dengan mengucapkan,

 أستودعك الله الذي لا تضيع ودائعه

‘Astaudi’ukallahalladzi laa tadhii’u wadaa-i’uhu’

(Kutitipkan kamu kepada Allah yang tidak akan pernah tersia-siakan apa yang dititipkan kepada-Nya).”

{HR. Ibnu Majah. Disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [16 dan 2547] dan Takhrij al-Kalim at-Thayyib [167], lihat Shahih Ibnu Majah [2/133] software Maktabah asy-Syamilah}

Semoga Allah senantiasa limpahkan dalam setiap perjalanan kita sebaik-baik bekal yakni ketakwaan.

 

Sumber bacaan : Kutitipkan mereka kepada-Mu Ya Allah – Abu Mushlih Ari Wahyudi http://abu0mushlih.wordpress.com

Allah Telah Menjadikan Kunci Bagi Segala Sesuatu

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya;

Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah bersuci sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Kunci shalat adalah bersuci’,

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci pembuka haji adalah ihram,

Kunci kebajikan adalah kejujuran,

Kunci surga adalah tauhid,

Kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan,

Kunci kemenangan adalah kesabaran,

Kunci ditambahnya nikmat adalah syukur,

Kunci kewalian adalah mahabbah dan dzikir,

Kunci keberuntungan adalah takwa,

Kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla,

Kunci dikabulkan adalah doa,

Kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia,

Kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan,

Kunci hidupnya  hati adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa,

Kunci didapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya,

Kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa,

Kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,

Kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan,

Kunci semua kebaikan adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat, kunci semua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.

 

{Kunci Kebaikan dan Kunci Kejelekan Majalah Al-Furqon No. 77 1429/2008}

Sebuah Kata “Nanti”

 

 

 

 

 

 

“NANTI”
Sebuah kata yang mengganjal..
Membuat malas..
Membuat berat..
Membuat rusak banyak rencana..

Al-Hasan al-Bashri berkata:
“Jauhi olehmu ‘nanti’..
Karena kamu sedang berada di hari ini..
Dan bukan di hari esok..
Bila hari esok tidak menjelang..
Kamu tidak akan menyesal..
Bila masih menjelang..
Kamu lebih mampu untuk berbuat seperti hari ini.. [Al-Himam al-‘Aliyah].

Banyak dari kita  terbuai oleh “NANTI”..

Katanya nanti saja bertaubatnya..
Nanti saja mengajinya..
Nanti saja membacanya..
Nanti saja berjilbabnya..

Entah sampai kapan kita akan terus dibuai oleh “NANTI”..

Setiap kali mendapat kesempatan..
Kata “NANTI” menghentikan keinginan..

‘Abdullah ibn ‘Umar berkata:

“Bila kamu berada di waktu pagi, jangan tunggu waktu sore..
Dan bila berada di waktu sore, jangan tunggu waktu pagi..
Ambil kesempatan sehat sebelum sakitmu..
Dan kesempatan hidup untuk bekal kematianmu..”
[HR Bukhari & Muslim].

Nanti..
Adalah musuh penuntut ilmu..
Ia tak pernah mengenal “nanti”..
Kecuali nanti yang bermanfaat..

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman: “Wahai Anak Adam, luangkan waktumu untuk beribadah kepada-Ku, maka langsung aku isi hatimu dengan kekayaan dan langsung Aku tutupi kefakiran-Mu dan jika tidak demikian, maka aku telah isi hatimu dengan kesibukan dan tidak Aku tutupi kefakiranmu”. (HR. Ahmad)

Maka apa yang kita tunda dengan kata “NANTI” untuk melakukan keta’atan; menuntut ilmu syari’, beramal shalih, saling bernasehat diatas kebenaran dan kesabaran ?

Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda :

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang yang lima: [1] Masa mudamu sebelum masa tuamu, [2] masa sehatmu sebelum sakitmu, [3] masa kayamu sebelum miskinmu, [4] waktu luangmu sebelum sibukmu, dan [5] hidupmu sebelum matimu. (HR. al-Hakim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, lihat Fath al-Bari [11/264], hadits ini disahihkan al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 486) 

~Nasehat indah dari seorang teman [Bby Aug31,12]

Awan Tag