Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Archive for Oktober, 2012

Sarana-Sarana Kebaikan

Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua Puluh Tiga: Sarana-Sarana Kebaikan

 Oleh : Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

عَنْ أَبِيْ مَالِكْ الْحَارِثِي ابْنِ عَاصِمْ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الطُّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ، وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ الْمِيْزَانِ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ – أَوْ تَمْلآنِ – مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ . كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا
[رواه مسلم]

Dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al Asy’ari radhiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Kesucian adalah separuh keimanan, Alhamdulillah memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi ruang antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran merupakan sinar. Al Qur’an bisa sebagai pembela bagimu, bisa pula sebagai bumerang bagimu. Setiap pagi manusia dapat menjual dirinya, apakah ia akan memerdekakan dirinya atau akan membinasakannya.” (HR. Muslim. Shahih dikeluarkan oleh Muslim di dalam [Ath Thaharah/223/Abdul Baqi])

Penjelasan:

Asy Syaikh rahimahullah berkata: Hadits ke 23, dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al Asy’ari radhiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Kesucian adalah separuh keimanan “. Dengan didlomahkan huruf tha’nya, maknanya adalah thaharah, “syathrul iman”, yakni separuhnya, karena keimanan adalah takhalli dan tahalli/memakai. Adapun takhalli yakni melepaskan (membersihkan) diri dari kesyirikan. Karena syirik kepada Allah adalah najis, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا.

“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati masjidil haram sesudah tahuan ini.” (At Taubah: 28)

Oleh karena itu, kesucian adalah separuh dari keimanan. Dikatakan pula bahwa maknanya adalah bersuci untuk shalat adalah separuh dari keimanan, karena shalat merupakan keimanan dan ia tidak sempurna kecuali dengan bersuci. Akan tetapi, makna yang pertama lebih baik dan lebih umum.

“Alhamdulillah memenuhi timbangan”. Alhamdulillah, yakni pensifatan Allah dengan segala puja dan puji dan sifat-sifat yang sempurna, baik sifat-sifat dzatiyah maupun fi’liyah. Memenuhi timbangan, yakni timbangan amalan. Karena kalimat tersebut begitu agung di sisi Allah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua kalimat yang dicintai Ar Rahman, ringan di lisan, namun berat dalam timbangan, yaitu subhanallah wa bihamdih dan subhanallah al ‘azhim.” (Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam [Ad Da’awaat/6406/Fath], Muslim di dalam [Adz Dzikr/2694/Abdul Baqi])

“Subhanallah dan Alhamdulillah”, yakni gabungan kedua kalimat tersebut memenuhi langit dan bumi. Itu karena begitu agungnya kedua kalimat tersebut. Karena kedua kalimat tersebut mengandung pensucian terhadap Allah dari segala kekurangan, dan juga mengandung penetapan kesempurnaan bagi Allah. Tasbih (ucapan Subhanallah) mengandung pensucian terhadap Allah dari segala bentuk kekurangan, sedangkan hamdalah (ucapan Alhamdulillah) mengandung pensifatan Allah dengan segala bentuk kesempurnaan. Oleh karena itu, kedua kalimat ini memenuhi antara langit dan bumi. Kemudian sabdanya, “Shalat adalah cahaya”, maksudnya adalah bahwa shalat adalah cahaya di dalam hati, jika hati bersinar, maka wajah pun bersinar pula. Demikian pula, ia adalah cahaya pada hari kiamat kelak. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِم

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan berjalan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (Al Hadiid: 12)

Ia pun merupakan cahaya dalam hubungannya dengan perolehan hidayah dan ilmu, dan segala sesuatu yang di dalamnya terdapat cahaya.

“Sedekah adalah bukti yang nyata.” Maksudnya adalah yang menunjukkan akan benar atau jujurnya orang yang menunaikannya, bahwa ia cinta untuk mendekatkan diri kepada Allah. Itu terjadi karena harta benda adalah sesuatu yang dicintai oleh jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu yang dicintai itu tidak akan didermakan (dikeluarkan), kecuali kepada sesuatu yang lebih dicintai dari hal tadi. Dan setiap orang yang mengeluarkan harta yang dicintainya demi (memperoleh) pahala yang diharapkan, hal ini adalah bukti nyata akan jujurnya keimanan dan kuatnya keyakinannya.

“Kesabaran adalah sinar.” Kesabaran dengan tiga bentuknya: sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menghadapi maksiat, dan sabar terhadap takdir yang telah Allah gariskan.

(ضِيَاء ) adalah cahaya yang disertai dengan panas, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُورًا

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, matahari padanya terhadap cahaya dan panas.” (Yunus: 5)

Matahari memiliki cahaya dan panas, kesabaran pun demikian pula, karena hal itu terasa berat bagi jiwa. Jiwa merasakan panasnya kesabaran, sebagaimana seseorang merasakan panas.

“Al Qur’an sebagai pembela atau bumerang bagimu.” Al Qur’an bisa menjadi pembela bagimu atau bumerang bagimu di sisi Allah. Apabila engkau mengamalkannya, dia akan menjadi pembelamu, namun bila engkau berpaling darinya, ia akan menjadi bumerang bagimu. Kemudian Nabi menjelaskan bahwa setiap pagi manusia pergi menuju pekerjaan mereka.

“Menjual dirinya, bisa sebagai pembebasnya atau yang membinasakannya.” Setiap pagi manusia pergi, mereka berusaha dan bersusah payah. Di antara mereka ada yang membebaskan dirinya, dan ada pula yang membinasakan dirinya sesuai dengan amalannya. Jika ia melakukan ketaatan kepada Allah dan istiqamah di atas syari’atNya, berarti ia memerdekakan dirinya dari penghambaan setan dan nafsu. Jika keadaannya kebalikan dari hal itu, berarti ia telah mencelakakan dirinya sendiri.

Faedah – faedah yang dikandung dalam hadits ini:

1. Anjuran untuk bersuci dan menjelaskan kedudukan bersuci dalam agama, dan bahwa thaharah (bersuci) adalah seperti keimanan.

2. Anjuran untuk memuji Allah dan mensucikanNya. Dan bahwa hal itu memenuhi timbangan dan gabungan antara tasbih dan hamdalllah memenuhi antara langit dan bumi.

3. Anjuran untuk mengerjakan shalat. Dan sesungguhnya shalat adalah cahaya. Dan bercabang dari faedah ini, sesungguhnya shalat akan membuka pintu ilmu dan pemahaman bagi seseorang.

4. Anjuran untuk bersedekah, dan penjelasan bahwa sedekah adalah bukti nyata dan tanda jujurnya keimanan pelakunya.

5. Anjuran untuk bersabar. Dan sesungguhnya kesabaran adalah cahaya. Dan sesungguhnya dari kesabaran itu, akan muncul sesuatu yang memberatkan manusia, sebagaimana munculnya kepayahan karena panas.

6. Al Qur’an adalah pembela bagi seseorang atau merupakan bumerang baginya. Dan tidak ada posisi pertengahan di mana Al Qur’an itu bukan merupakan pembela, atau bukan pula merupakan bumerang bagi dirinya. Kita memohon kepada Allah agar Dia menjadikan Al Qur’an sebagai pembela yang bermanfaat bagi kita.

7. Setiap manusia harus bekerja, berdasarkan sabdanya, “Setiap pagi manusia pergi.” Dan telah tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,

“Nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam.” (Dhaif/lemah, dilemahkan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah sebagaimana di dalam Al Irwa’ [1164])

Karena setiap orang adalah Harits (petani) dan Hammam (orang yang memiliki keinginan kuat).

8. Orang yang beramal itu bisa jadi membebaskan dirinya, bisa pula membinasakan dirinya sendiri. Apabila ia menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan, maka ia membebaskan dan memerdekakan dirinya dari penghambaan setan. Jika keadaannya kebalikan daripada itu, maka ia telah membinasakan dirinya, yakni menghancurkannya.

9. Kesabaran yang hakiki adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah, bukan pengorbanan hawa nafsu untuk melakukan segala sesuatu yang ia inginkan.

Ibnul Qayyim dalam Nuniyyahnya berkata,

Mereka lari dari penghambaan yang mereka telah diciptakan untuk tujuan itu,

Mereka telah ditimpa dengan penyembahan nafsu dan setan.

Setiap orang yang melarikan diri untuk beribadah kepada Allah, maka dia akan tetap dalam penghambaan setan dan akhirnya ia menjadi penghamba setan.

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah dari Syarah Arbain An Nawawiyah oleh Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, penerjemah Abu Abdillah Salim, Penerbit Pustaka Ar Rayyan. Silakan dicopy dengan mencantumkan URL http: //ulamasunnah.wordpress.com)

Seharusnya Kita Punya Rasa Malu

“..malu itu salah satu cabang keimanan.” (HR. Al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 35)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri adalah seorang yang memiliki sifat sangat pemalu. Digambarkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu sifat malu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya. Bila beliau tidak menyukai sesuatu, kami bisa mengetahuinya pada wajah beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 6119 dan Muslim no. 2320)

“Sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari ucapan nabi-nabi yang terdahulu adalah ‘Apabila engkau tidak malu, maka lakukan apa pun yang engkau mau’.” (HR. Al-Bukhari no. 6120)

Jadi apa sebenarnya malu itu? Bukankah banyak pula tabiat pemalu ini ada didiri kita? Merasa malu karena tidak PD (Percaya Diri –pent) dalam pergaulan, merasa malu karena tidak terlihat sukses oleh teman-temannya, malu karena melihat ayahnya berjenggot dan ibunya berhijab syari’, merasa malu karena tidak moderen mengikuti perkembangan zaman.. dan masih banyak rasa malu yang seperti ini..

Apakah malu yang seperti ini yang dimaksud dalam hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam?

Sebenarnya apa malu itu?

Para ulama menjelaskan makna malu sesuai syariat :

“Malu hakikatnya adalah akhlak yang dapat membawa seseorang untuk meninggalkan perbuatan tercela dan mencegahnya dari mengurangi hak yang lainnya.” Demikian dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin, Kitabul Adab Bab Al-Haya` wa Fadhluhu wal Hatstsu ‘alat Takhalluqi bihi.

Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullahu mengatakan –sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu–, “Yang dapat mencegah seseorang terjatuh dalam kejelekan adalah rasa malu.Sehingga bila dia tinggalkan rasa malu itu, seolah-olah dia diperintah secara tabiat untuk melakukan segala macam kejelekan.” (Fathul Bari, 10/643).

Malu adalah menahan diri dari perbuatan jelek. Dan ini merupakan kekhususan yang dimiliki manusia agar dia dapat berhenti dari berbuat apa saja yang dia inginkan, sehingga dia tidak akan seperti hewan. (Fathul Bari, 1/102)

Maka tidaklah semua makna malu yang sesuai syariat itu kecuali membawa kebaikan, karena malu termasuk keimanan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Malu itu tidaklah datang kecuali dengan membawa kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37)

Demikianlah rasa malu yang mendapat pujian dari syariat ini. Tetapi, ke mana perginya rasa malu yang dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya itu dari sebagian diri kita sekarang ini?

Malu karena tidak taat dengan men-Tauhidkan Allah yang telah memberikan banyak kenikmatan

Malu karena amal ibadah dan muamalah kita tidak sesuai contoh Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam, padahal dari beliaulah syariat ini turun

Malu karena masih banyak sunnah-sunnah Nabi yang sudah kita ketahui namun tak kunjung pula kita amalkan bahkan banyak menyelisihinya

Malu karena kita tidak berakhlak mulia kepada manusia baik dalam bergaul maupun memberi nasehat

Malu karena seringnya kita lalai dalam ibadah-ibadah yang wajib

Malu karena kita tidak berpakaian sesuai syari’, justru kita tidak malu mempertontonkan aurat kita di depan umum

Malu karena seringnya kita membiarkan anak-anak kita jauh dari tuntunan agama, justru mendukung dan membiarkan mereka tenggelam dalam urusan-urusan yang terlarang

Dan masih banyak perintah-perintah syari’at yang kita tinggalkan, dan melakukan terang-terangan larangan  syari’at yang seharusnya membuat kita malu. Bukankah jika rasa malu seperti ini akan membuat kita kehilangan iman ? 

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan:
“Malu dan iman itu senantiasa ada bersama-sama. Bila hilang salah satu dari keduanya, hilang pula yang lainnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 1313)

Semoga Allah senantiasa menghiasai diri kita dengan rasa malu yang dengannya meraih surga-Nya..

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Malu itu termasuk keimanan, dan keimanan itu tempatnya di surga, sementara kekejian itu termasuk kekerasan, dan kekerasan itu tempatnya di neraka.” (HR. At-Tirmidzi no. 2009, dishahihkan Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Sumber bacaan :

– Berhiaslah Dengan Rasa Malu http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=501

– Kajian Kitab Riyadush Shalihin Jilid 2

Awan Tag