Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Archive for Oktober, 2011

Perbedaan atau Perpecahan [?]

Dengan kehendak dan ilmu-Nya, Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Berbeda bahasa, warna kulit, suku bangsa, corak budaya dan sebagainya, namun Allah mempersatukan mereka semua di dalam agama-Nya yang satu, yakni Islam. Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Alloh adalah Islam.” (QS. Ali Imron: 19)

Namun dengan kehendak dan hikmah-Nya pula, Allah telah mentakdirkan umat Islam ini berpecah-belah sebagaimana umat terdahulu (ahlul kitab) telah berpecah-belah.

Allah berfirman, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (QS. Hud: 118-119)

Manusia senantiasa berselisih pendapat. Lalu apakah setiap perselisihan pendapat itu dilarang? Apakah setiap perbedaan pendapat akan membawa kepada perpecahan?

Demikian kita berada diantara 2 sikap ekstrem dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut:

  1. Sikap meniadakan perbedaan pendapat karena menjadi penyebab perpecahan umat
  2. Sikap berlebihan dalam perbedaan pendapat, karena menjadi rahmat/persatuan dengan saling menghargai tanpa batas

Tentu yang dimaksud perbedaan pendapat dalam hal ini adalah perbedaan dalam hal ‘itiqad (keyakinan) dan amaliah (ibadah)

Permasalahannya, perbedaan pendapat seperti apakah yang menjadi anggapan tersebut ?

Kita pasti sepakat, bahwa perbedaan pendapat yang dimaksud adalah perbedaan yang tidak menyebabkan kepada perpecahan, karenanya tidaklah sama antara perbedaan (ikhtilaf) dengan perpecahan (iftiroq). Inilah yang hendak kita fahami terlebih dahulu

Oleh karenanya, tidak semua perbedaan merupakan perpecahan. Karena ada perbedaan yang diperbolehkan dan ada yang tidak boleh berbeda. Adapun perpecahan sama sekali terlarang meskipun merupakan sunnatullah. Sebagaimana Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. 30:31-32)

Perbedaan yang diperbolehkan itu berasal dari ijtihad dan niat yang baik. Yaitu berniat sungguh-sungguh mencari kebenaran. Jika pendapatnya benar maka mendapat dua pahala. Jika ternyata salah, maka tetap mendapatkan satu pahala. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Jika seorang hakim memutuskan suatu hukum, kemudian berijtihad maka jika benar ia mendapat dua pahala. Namun jika salah, baginya satu pahala.” (HR. Al Bukhori)

Sebaliknya, perpecahan tidak berasal dari kesungguhan dalam mencari kebenaran bahkan sebaliknya ‘pembenaran’, dan muncul dari dorongan hawa nafsu. 

Yang perlu di-garisbawahi, perbedaan itu berasal dari konsekuensi memahami dalil-dalil yang kesemuanya merupakan sunnah. Sudah barang tentu, dalil-dalil yang diperselisihkan pemahamannya tersebut adalah yang memiliki derajat Shahih, minimal hasan. Walaupun, sebagian Ulama ada yang membolehkan dalil yang derajatnya lemah –dengan persyaratan-, tapi bukan ini konteks yang ingin dibahas

Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahulloh, berkata

“Orang yang menyelisihi pendapat kami karena konsekuensi dalil yang ia pahami, pada hakikatnya tidak berselisih dengan kami bahkan bersepakat dengan kami. Karena kamipun menyelisihi mereka karena konsekuensi dalil yang kami pahami.” (Al Khilaf bainal Ulama).

Sebaliknya, sedangkan perpecahan itu hanya berasal dari bid’ah (lawan sunnah). Syaikhul Islam rahimahulloh berkata, “Bid’ah itu disertai dengan perpecahan, sedangkan sunnah disertai dengan persatuan.” (Sittu Duror, Abdul Malik Ramadhani)

Allah ta’ala berfirman;

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Al Imran:105).

Perbedaan, bagaimanapun bentuknya yang terjadi di antara kaum muslimin, -sepanjang  adanya dalil shahih- walau memilih pendapat yg keliru masih bisa ditolerir, karena yang menjadi hujjah dalam perbedaan pendapat adalah Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman As Salafus Sholih, bukan pendapat imam fulan atau kyai fulan

 Allah ta’ala berfirman;

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya).” (QS. An Nisaa’:59).

Syaikhul Islam rahimahulloh berkata, “Tidak boleh bagi seseorang untuk berhujjah dengan ucapan seseorang dalam masalah khilafiyah. Pengutamaan suatu pendapat atas pendapat yang lain bukan karena pendapat itu pendapat imam fulan atau syaikh fulan. Akan tetapi karena ketegasan dan kejelasan dalil-dalil yang mendasari pendapat tersebut.” (Majmu’ Fatawa)

Siapapun yang berbeda pendapat harus menyadari bahwa tidak ada manusia yang ma’shum (terbebas dari kesalahan) kecuali Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam

Imam Malik rahimahulloh berkata, “Setiap orang dapat diterima atau ditolak perkataannya, kecuali penghuni kubur ini (yaitu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam”

Adanya perbedaan bukan berarti “Perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat” karena ini bukan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Hazm rahimahulloh menjelaskan, “Ini merupakan perkataan yang paling rusak. Karena jika perbedaan adalah rahmat tentunya persatuan merupakan hal yang dibenci”

Syaikh Al Albani rahimahulloh berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya (anonim).” (Silsilah Hadits-hadits Lemah dan Palsu).

Setelah kita mengetahui antara perbedaan pendapat yang dibolehkan dan yang tidak diperbolehkan, bagaimanakah seharusnya kita bersikap?

Pertama, bersikaplah untuk meneliti terlebih dahulu, perbedaan pendapat apakah yang sedang dipermasalahkan

Kedua, menentukan sikap sebagai seorang Muslim yang mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran (karena pendapatnya/kelompoknya)

Tentu, sikap yang adil adalah sikap yang berada di antara 2 sikap ekstrim dari perbedaan pendapat di atas, yakni sikap bolehnya perbedaan pendapat, sepanjang dari ijtihad (ulama), niat sungguh-sungguh mencari kebenaran dan adanya dalil yang Shahih. Perbedaan seperti ini telah ada sejak zaman sahabat, dan para ulama setelahnya hingga zaman ini, justru dari perbedaan ini kita mengetahui begitu luasnya ilmu para ulama didalam memahami, menyikapi dan menjelaskan nash-nash yang ada (Al Qur’an dan Hadits)

Ribuan kitab Ulama yang memungkinkan perbedaan yang banyak pula, namun mereka tetap memiliki Nash yang jelas (Al Qur’an, Hadits Shahih, Ijma). Bandingkanlah dengan kita yang telah jelas masuk ke dalam perbedaan pendapat, namun tidak satupun dalil Shahih yang kita bawakan.

Padahal yang perlu kita ketahui, bahwa kebenaran itu hanyalah satu, sebagaimana apa yang Allah firmankan

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus:32)

Demikian pula apa yg dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang panjang tentang perpecahan umat, hanya ada satu kelompok yang benar (selamat).

“..Yaitu kelompok yang aku dan sahabatku berada di atasnya.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)

Sikap mencari pendapat yang lebih dekat kebenaran inilah yang diperintahkan (bagi yang mampu), sehingga kita tidak membenturkan pada perbedaan pendapat para Ulama, tapi kembali kepada kebenaran Allah (Kitabullah) dan  Rasul-Nya (Hadits Shahih)

Sikap menjauhkan perbedaan yang dilarang adalah yang mengantarkan kepada perpecahan; pada masalah prinsipil (ushuluddin), tidak adanya dalil shahih, dan sesuatu yang telah disepakati sebagai manhaj (metodologi beragama) Ahlus Sunnah yang tidak boleh diperselisihkan. 

Maka perlu diwaspadai sebab-sebab perpecahan umat ini antara lain: Kebid’ahan(dalam keyakinan, perkataan atau perbuatan), memperturutkan hawa nafsu (syahwat), fanatisme buta (ta’ashub), meniru-niru orang kafir(tasyabbuh) dan kejahilan beragama (tidak mau belajar ilmu agama). Perbedaan pendapat seperti inilah yang harus dihindari oleh kaum muslimin baik dalam hal ‘itiqad (keyakinan) maupun amaliyah (ibadah). Karena dengan perbedaan tipe ini kaum muslimin menjadi berpecah belah, saling mencari pembenaran dan membanggakan kelompoknya.

Seorang muslim seharusnya saling memberikan nasehat baik yang bersifat ma’ruf maupun yang bersifat munkar atas perbedaan yang dapat menjerumuskan kepada perpecahan umat. Bukan sebaliknya, seorang muslim justru diminta untuk saling menghargai atas perbedaan ini, yang justru tidak lagi ada amar ma’ruf nahi munkar.

Perbedaan itu (pada asalnya) adalah tercela, wajib bagi kita semua berusaha sebisa mungkin menghindari perbedaan (perselisihan), karena perbedaan umat ini lemah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

“Dan taatlah kepada Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfaal:46)

Semoga Allah mencegah umat ini dari segala perbedaan yang dapat mengantarkan kepada perpecahan. Wallahu ‘alam bishowab

Merubah Diri Sendiri untuk Merubah Negeri ini

Setiap orang pasti menginginkan solusi bagi problema dirinya, Umat, Pemimpin dan Bangsanya, dan setiap orang di negeri ini –dengan ber-khuznuzhon– tanpa melihat apa jenis kedudukannya telah –merasa- memberikan solusi dengan caranya masing-masing.

Sebagai seorang Muslim, kitapun harus meyakini bahwa benar islam juga telah memberikan solusi untuk semua problematika umatnya. Marilah kita mengetahui dari syari’at islam yang murni ini yang mana Allah Subhanahu wa ta’ala telah sempurnakan agama ini

Allah Ta’ala berfirman :

Yang artinya : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian” (QS. Al Maidah : 3)

Allah telah mengisyaratkan tentang Problema dan Solusi nya didalam ayat-Nya yang mulia

Allah Ta’ala berfirman :

Yang artinya : “Sesungguhnya Allâh tidak merubah keadaan Suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri “(QS Ar Ra’d : 11)

Makna ayat: Allâh menyampaikan sebuah masalah dan solusi yang seharusnya direnungi dan difahami oleh orang-orang berakal, yakni bahwa Dia-lah yang merubah keadaan umat-umat manusia dan kondisi suatu bangsa

Jika kita ingin merubah suatu keadaan maka solusinya wajib menempuh dan mengikuti langkah-langkah syar’i (yang disyari’atkan) yang telah Allâh Ta’ala uraikan

Jadi, titik awal solusi perubahan, bermula dari diri sendiri!  Hendaknya kita mulai melaksanakan proyek perubahan pada diri sendiri dan  pada umat hingga dengannya Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan merubah keburukan yang menimpa umat. Lihatlah keburukan yang menimpa negeri ini, seperti tidak pernah usai dan silih berganti, karena setiap orang merasa berhak untuk menilai orang lain salah tanpa terlebih dahulu melihat dirinya sendiri, setiap orang bebas mencela para pemimpinnya dimuka umum, setiap orang bebas menggunjing saudaranya satu sama lain, dan setiap orang telah merasa berada diatas kebenaran tanpa mengetahui dasar kebenaran apa yang diyakininya. Inilah ekspresi kebebasan yang telah salah arah dan memporak-porandakan keyakinan (aqidah) kita sendiri. Padahal, kita sendiri begitu jauh dari aqidah dan akhlak sebagai seorang muslim. Berapa banyak – pribadi- kita telah membuat kezhaliman yang begitu besar dinegeri; dari mulai kesyirikan, kemaksiatan yang semakin merajalela hingga menjadi pemandangan sehari-hari di rumah kita (jika ingin jujur, lihatlah apa yang ada di depan layar kaca kita), hal ini semakin parah dengan banyaknya orang yang –merasa- menjadi tokoh Agama namun bukannya memperingatkan umat sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi munkar, malah tersibukkan dengan urusan-urusan politik yang semakin tidak jelas arahnya.

Jalan seperti apa yang mesti ditempuh oleh setiap individu, dan bagaimana caranya untuk melakukan perubahan?

1.    Dengan Ilmu, karena tidak mungkin umat ini mampu menjaga citra, kemandirian dan keteladanan dihadapan umat/bangsa lain selain dengan kekuatan ilmu. Betapa banyak kita dibodohi oleh umat bangsa lain dengan dalih “kebebasan” namun justru menelanjangi aqidah dan akhlak kita. Ilmu yang dimaksud adalah Kitabullah (Al-Quran), sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Sunnah), perkataan para sahabat dan para ulama yang mengikuti mereka dengan baik untuk kembali berpegang teguh kepada ajaran Islam yang murni dan bersih, agam islam yang berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits dengan pemahaman generasi terbaik umat dari kalangan sahabat, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in didalam semua segi kehidupan kita baik aqidah, muamalah, fiqh, akhlak dll.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah, Inilah jalanku; aku menyeru kepada Allah di atas landasan ilmu yang nyata, inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku…” (QS. Yusuf:108).

2.    Dengan Perkara Sunnah, sunnah yang dimaksud yaitu segala hal yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan atau sifat (baik fisik/moral), ketetapan serta jalan yang dilalui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Betapa banyak diri-diri kita yang –hanya- mengakui bahwa Muhammad Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi kita yang telah diutus oleh Allah sebagai Nabi & Rasul terakhir untuk seluruh umat hingga akhir zaman kelak, namun sangat disayangkan ketika aqidah, ibadah, muamalah dan akhlak kita justru jauh dari suri tauladan beliau. Dalam sebuah hadits Irbadh bin Sariyah radhiyallâhu’anhu, Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa salam memberikan wasiat yang sangat penting

Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allâh; dan mendengar serta taat, walaupun kepada budak habasyi. Karena, barangsiapa yang hidup dari kalian setelahku, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para khulafaurrasyidin al mahdiyyin (yang memberi petunjuk) setelahku, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah terhadap perkara baru, karena perkara baru itu bid’ah, dan semua yang bid’ah adalah sesat, dan seluruh kesesatan ada di neraka. (HR Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Makna Hadits:  bahwa Allâh telah memilihkan Sunnah Rasûlullâh untuk kalian sebagai agama dan pedoman hidup. Nasihat ini memiliki arti penting bagi solusi kehidupan pribadi muslim dan kehidupan umat

Tidak perlu membayangkan, jika kedua hal itu (yang dapat disimpulkan sebagai ilmu dan amal) telah tertanam pada setiap diri kita, kemudian ada di keluarga kita, kemudian di lingkungan-lingkungan terkecil kita, hingga terus menjalar sampai kepada pemimpin-pemimpin kita, maka benarlah apa yang Allah janjikan di dalam ayat diatas (QS Ar Ra’d : 11) – merubah kaum/negeri ini kepada kebaikan semata.

Mungkinkah? Sangat mungkin jika kita tidak hanya membayangkan, tapi mulai melakukan dari sekarang untuk memulai dari diri kita!

 

Maraji:

Di injak-injak Karena Merapatkan Shaf [?]

Saya akan berbagi pengalaman lucu dan menarik, namun Insya Allah ada hikmahnya.

 

Beberapa waktu lalu selepas ba’da Maghrib dan menuju pulang dari kantor, ternyata masih diberi kesempatan untuk mampir ke sebuah Masjid di bilangan Jakarta Selatan. Alhamdulillah waktu Isya telah masuk..

Tanpa mengulur waktu untuk mengambiil wudhu, bersegera karena nampaknya telah terdengar iqamat, tanda Shalat Isya dimulai..

Sayang rasanya ketika shalat berjama’ah namun tertinggal takbiratul ihram, maksud hati tentu berupaya demikian namun apa daya antara fikiran dan tubuh senantiasa lebih jauh disibukkan urusan dunia..

Bagaimana tak iri melihat kehidupan para pendahulu (salaf) nan sholih dalam urusan ibadah; senantiasa menyegerakan dan saling berlomba untuk mendapatkan shaf terdepan serta meninggalkan urusan-urusan dunia mereka.

Adi bin Hatim contohnya, salah seorang sahabat, sudah bersiap-siap melaksanakan shalat sebelum datang waktunya dan selalu rindu dengan kehadirannya. Dia menyatakan, “tidaklah datang waktu shalat kecuali aku sudah siap. Dan tidaklah datang waktu shalat kecuali aku sudah sangat rindu melaksanakannya”

Juga bagi seorang tokoh besar seperti Sa’id bin Musayyib yang tidak pernah tertinggal takbiratul ihram selama 50 tahun.

Beliau mengatakan, “aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat selama 50 tahun. Aku juga tak pernah melihat punggung para jamaah, karena aku selalu berada di shaf terdepan selama 50 tahun.”

Itulah para Salafush shalih, ketika mendengar suatu perintah yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam -apalagi disana ditemukan keutamaan- tidaklah ada kata lain kecuali “kami mendengar dan kami menta’ati”

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) :

Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).

| Bandingkanlah dengan kondisi shalat kita hari ini, jangankan untuk berada di shaf terdepan, untuk mendatangi shalat berjama’ah di Masjid saja mungkin enggan, bahkan lebih sering menundanya

 

Kembali kepada pengalaman saya..

Qadarallah, jangankan mendapati takbiratul ihram, nyatanya Imam telah kumandangkan membaca Al Fatihah.., dan hanya mendapati shaf terbelakang (karena kebetulan hanya terisi 3 shaf).

Setelah memasuki barisan shaf di sebelah kanan, tepat disamping seorang Bapak yang tengah khusyu -hingga tidak memperdulikan masih renggangnya shaft dengan jama’ah di sisi kirinya- sayapun berusaha merapatkan shaf ke sisi Bapak itu, berharap tertular khusyu..

Memasuki bacaan surat setelah Al Fatihah, nampaknya Bapak mulai tersadar dengan bergeser agak ke kiri -itu fikir saya-

Tentu sayapun bergeser mengikuti Bapak dengan sedikit menempelkan sisi luar kaki saya, namun di luar dugaan, Bapak tadi menginjak-injak kaki saya (bayangkan layaknya seorang sedang menginjak-injak ular hingga mati!)

Hatipun tersentak kaget, jantung berdetak keras..! seandainya di dalam Shalat boleh berucap selain bacaan do’a yang telah di syari’atkan- Tentu saya akan berteriak “astaghfirullah..sakiittt!”

Shalat yang memang sejak semula tidak khusyu, kini semakin tidak khusyu.. fikiran hanya bertanyatanya, jantung berdebar, hati sedikit marah, niatpun bercampur atas hendak apa yang akan dilakukan selesai shalat nanti..

Usai sudah shalat isya dengan hati yang masih bertanya-tanya “apa yang mesti saya lakukan dengan Bapak ini?”

Ya, saya harus menyapanya dengan tersenyum…

“Assalamu’alaikum Bapak, maaf boleh saya bertanya?” . Bapakpun menjawab salam tanpa tersenyum

“Kenapa tadi Bapak menginjak-injak kaki saya waktu shalat?  Tanya saya

Bapak menjawab keras dengan berbalik bertanya pada saya “Kamu sendiri kenapa nempel-nempel kaki ke saya?!”

Sayapun menjawab pertanyaan Bapak “Apa ada yang salah dengan itu?”

“Iya (salah) !! saya JIJIK ditempel-tempel kayak gitu! Demikian Bapak menjawab sambil ngeloyor pergi tinggalkan saya, beberapa Jama’ah saya lihat memperhatikan percakapan kami..namun tanpa komentar..

Astaghfirullah, semoga Allah menjaga Bapak tadi  – sambil menggeleng-gelengkan kepala..

 

Bagaimanakah sebenarnya hukum merapatkan dan meluruskan Shaf dalam Shalat berjama’ah ?

Di antara sunnah yang banyak dilalaikan dan tidak diketahui ummat saat ini adalah meluruskan dan merapatkan shaf. Sunnah ini telah kita tinggalkan, sehingga nampak fenomena yang menyedihkan berupa adanya ketidakrapian shaf dalam sholat berjama’ah. Di sisi lain, imam sholat juga tidak paham mengenai sunnah yang satu ini. Kalaupun paham, mereka tidak berusaha mengajarkannya kepada jama’ah.

Banyak nash dari hadits Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menganjurkan kita agar kita meluruskan dan merapatkan shaf, bahkan beliau juga telah mengancam orang yang memutuskannya dengan ancaman yang keras.

1. Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiallahu Ta’ala ‘anhuma- beliau berkata: Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda:

أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya  (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”   [HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah]

Imam Abu Dawud As-Sijistany -rahimahullah- berkata ketika menjelaskan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, “Makna sabdanya:[ “Lembutilah tangan-tangan (lengan) saudara kalian”] (adalah) apabila ada seorang yang datang menuju shaf, lalu ia berusaha masuk, maka seyogyanya setiap orang melembutkan (melunakkan) bahunya untuknya sehingga ia bisa masuk shaf”.

 

2. ‘A`isyah -radhiallahu Ta’ala ‘anha- berkata, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karenanya dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”. [HR.Ibnu Majah Al-Qozwini dalam Sunan-nya (1004). Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (1004) dan At-Ta’liq Ar-Roghib (1/335)]

 

3. Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu anhu- berkata: Rasulullah-shollallahu alaihi wasallam- bersabda:

اِسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفَ قُلُوْبُكُمْ

“Luruslah kalian dan jangan kalian berselisih. Lantaran itu, hati-hati kalian akan berselisih” [HR. Al-Imam Muslim dalam Shohih-nya (432)]

Perhatikan bagaimana Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam– mengancam orang yang berselisih dalam mengatur shaf, satunya maju sedikit dan satunya lagi agak ke belakang. Inilah yang dimaksud berselisih dalam hadits ini

 

4. Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- bercerita, “Sholat telah didirikan (telah dikumandangkan iqomah), lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam– menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda:

أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ وَتَرَاصُّوْا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ

”Tegakkanlah shaf-shaf kalian dan rapatkan karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari  balik punggungku”. [HR. Al-Imam Al-Bukhory dalam Shohih-nya (719)]

 

5. Sahabat Nu’man bin Basyir -radhiyallahu anhu-berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوْفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ. ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلاً بَادِيًا صَدْرَهُ مِنَ الصَّفِّ فَقَالَ: عِبَادَ اللهِ ! لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

“Dulu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan anak panah (ketika diruncingkan,pen), sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau pernah keluar pada suatu hari, lalu beliau berdiri sampai beliau hampir bertakbir, maka tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, [“Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih”]”.  [HR.Muslim dalam Shohih-nya(436)]

Berdasarkan hadits-hadits di atas, para ulama kita menjelaskan bahwa meluruskan shaf dan merapatkannya merupakan perkara yang wajib atas setiap jama’ah sholat. Wajibnya hal ini dipahami dengan adanya perintah dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan juga ancaman beliau terhadap orang yang melalaikannya. Karena, jika memang meluruskan dan merapatkan shaf bukan perkara wajib tapi mustahab (sunnah/dianjurkan), maka tentunya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak akan memberikan perintah dan ancaman berkaitan dengan hal tersebut

 

Bagaimana cara Meluruskan dan Merapatkan Shaf ?

Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu berkata :

“Maka saya (Nu’man bin Basyir) melihat seorang laki-laki (dari para Shahabat) menempelkan bahunya ke bahu yang ada disampingnya, dan lututnya dengan lutut yang ada disampingnya serta mata kakinya dengan mata kaki yang ada disampingnya).” [Pernyataan Nu’man bin Basyir ini juga telah disebutkan oleh Imam Bukhari didalam kitab Shahihnya (II:447-Fat-hul Bari)]

Maka merapatkan dan meluruskan shaf dilakukan dengan cara merapatkan bahu, lutut, dan mata kaki.

Semoga cerita ini berkenan dengan harapan kita kembali meluruskan dan merapatkan shaf-shaf dalam shalat berjama’ah bersama kaum muslimin. Bagaimana mungkin persatuan (ukhuwah Islamiyyah, terlebih ingin menegakkan Daulah Islam)  jika hal sepele dalam urusan meluruskan dan merapatkan shaf tidak diketahui kaum muslimin, hingga yang terjadi adalah menginjak-injak kaki saudaranya yang hendak merapatkan shaf [?]

Namun tentunya kitapun perlu bersabar terhadap saudara-saudara kita yang tentunya belum mengetahui hal ini (meluruskan dan merapatkan shaf), jika memungkinkan karena adanya saudara kita yang berselisih seperti cerita di atas, maka berilah penjelasan dengan cara yang baik, jika tidak maka cukuplah kita mendo’akannya… Wallahu Ta’ala ‘alam

 

Tangerang, 24 September 2011

 

Penukilan Dalil &  kutipan diambil dari sumber : http://al-atsariyyah.com/wajibnya-merapatkan-dan-meluruskan-shaf.html [dengan sedikit perubahan]

Apa Dakwahmu.. ?

Secara sadar atau tidak bahwa realita yang kita hadapi saat ini adalah semakin banyaknya orang melakukan kegiatan dakwah. Dari seorang ustadz yang memang telah memiliki ilmu sampai orang awam yg tidak faham bisa melakukan kegiatan dakwah

Mengungkapkan atau mengutip ayat-ayat Al Quran & Hadits, kata-kata bijak, ajakan kebaikan, mendebat, berpendapat, semuanya bisa termasuk dalam kegiatan dakwah

Ada dakwah yang dijadikan sebagai profesi, ada juga hanya sebatas pengisi waktu pencerahan, banyak juga yang bertujuan duniawi, namun sedikit sebagai dakwah ilallah

Dakwah itu bukan profesi, yang dengannya menjadikan da’i sebagai artis sehingga layaknya artis memasang tarif

Dakwah itu bukan puisi & lagu, yang dengannya menjadikan nyanyian sebagai penjaga hati & penghantar rindu

Dakwah itu bukan filem & sinetron, yang dengannya menjadikan cerita-cerita palsu dan khayalan untuk menarik penonton

Dakwah itu bukan lawakan, yang dengannya menjadikan ayat sebagai bahan-bahan olokan dan tertawaan

Dakwah itu bukan karena tokoh, yang dengannya didatangi karena tren dan mudah ditinggalkan karena gak simpatik

Dakwah itu bukan rekreasi, yang dengannya mengadakan perjalanan-perjalanan religi ke tempat-tempat yang dianggap keramat & barokah

Dakwah itu bukan mencari massa, yang dengannya menghalalkan segala cara yang penting memperoleh suara

Dakwah itu bukan organisasi, yang dengannya tunduk dan patuh dengan aturan buatan manusia dan mencari anggota

Dakwah itu bukan beretorika, yang dengannya hanya membuat syubhat dan kebingungan di tengah umat

Dakwah itu bukan mengumpulkan massa, yang dengannya menjadi barisan sakit hati dan memaksakan kehendak dengan berdemonstrasi

Dakwah itu bukan karena banyaknya massa dan hura-hura, yang dengan kendaraannya memacetkan jalan umum sambil membawa bendera

Dakwah itu bukan sok menjadi pembela kebenaran, yang dengannya membawa pentungan dengan dalih memberantas kemungkaran yang justru memudharatkan

Dakwah itu bukan intelek kebarat-baratan, yang dengannya justru merusak syariat karena menuruti hawa nafsu dan akal semata

Dakwah itu bukan gerakan bawah tanah & bersembunyi, yang dengannya menghasilkan teror & bom disana sini

Dakwah artinya mengajak atau memanggil. Maka dakwah itu seharusnya Dakwah ilallah yang mengajak ke jalan Allah melalui berbagai cara yang diajarkan syariat

Dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, karena mengajak kebaikan & mencegah kejelekan

Dakwah merupakan totalitas dari setiap ucapan & perbuatan yang bernilai ajakan menuju jalan Allah. Amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu perwujudannya

Setiap perbuatan amar ma’ruf nahi munkar adalah Dakwah, namun tidak setiap Dakwah adalah amar ma’ruf nahi munkar

Dakwah adalah ibadah yang agung karena merupakan tugas para Nabi yang dengannya diutus untuk mengajak manusia kepada agama Allah

Karena Dakwah merupakan ibadah, maka harus dilakukan dengan keikhlasan dan mengikuti Sunnah Nabi.  Dua perkara ini merupakan syarat diterimanya ibadah

Dakwah yang paling utama adalah dakwah tauhid, karena tauhid adalah inti dakwah para Rasul, dari rasul yang pertama sampai rasul yang terakhir

Para Rasul memperbaiki umat manusia dengan Dakwah Tauhid dan memerangi kesyirikan yang merupakan kezholiman terbesar di muka bumi

Begitupula Muhammad shollallohu ‘alaihi wassalam  ketika bedakwah selama 13 tahun hanya menyerukan tauhid kepada bangsa Arab

Bandingkanlah dakwah di zaman ini yang seperti menganggap remeh tauhid hingga kesyirikan semakin subur & merajalela karena sedikitnya orang memulai dengan Dakwah Tauhid

Dakwah Tauhid artinya memurnikan dan memperuntukkan ibadah hanyalah untuk Alloh semata, bukan untuk yang selain Alloh, mengenal nama-nama & sifat-sifat Allah, berharap dan takut karena Allah

Dakwah adalah menyampaikan apa yang Allah firmankan dan  apa yang Rasul sabdakan dan mengikuti penjelasan menurut apa yang para sahabat fahami

Dakwah yang shahih adalah apa-apa yang berpegang kepada Kitabullah (Al Quran) dan Sunnah Nabi-Nya, karena dua perkara ini yang tidak akan membuat tersesat selamanya

Dakwah adalah menukil dan menjelaskan dari apa yang menjadi perkataan, perbuatan dan persetujuan Rasululloh Shalllallahu ‘alaihi wa salam agar manusia mendengar & taat

Bandingkan Dakwah zaman ini yang justru membolehkan ibadah-ibadah yang tidak sesuai dengan perkataan, perbuatan & persetujuan Rasululloh Shalllallahu ‘alaihi wa salam

Dakwah adalah menjelaskan hukum-hukum syariat agama islam dengan nash-nash yang shahih agar manusia menjadi terang, jelas dan faham akan agama yang dianutnya

Dibelahan bumi manapun manusia itu berada, Dakwah adalah mengajak umat untuk bersatu diatas aqidah yang lurus & diatas manhaj (cara beragama) yang shahih

Bandingkan dengan Dakwah zaman ini yang mengajak umat bersatu diatas kelompok organisasi yang pada hakikatnya justru saling memecah belah umat

Dakwah adalah menyampaikan kebenaran yaitu mengatakan apa yang benar adalah haq, apa yang salah adalah bathil dan tidak mencampur-adukan dari keduanya

Bandingkan Dakwah zaman ini dimana kebenaran seakan ditutupi karena rasa tidak enak, sungkan, bertoleransi yang pada hakikatnya justru memupuk manusia diatas kemungkaran

Dakwah adalah membiasakan dengan membawakan cerita-cerita benar para salafus Shalih (pendahulu yang sholih sebagai motivasi & hikmah

Bandingkan Dakwah zaman ini yang banyak menceritakan retorika, khayalan, khurofat, thatoyur yang justru membawa akal manusia menjadi bodoh

Dakwah adalah kembali dengan memurnikan ajaran islam yang asalnya putih bersih kini telah bercampur menjadi warna warni dan semakin asing

Dakwah itu dimulai dengan mendakwahi (menuntut ilmu) diri sendiri agar menjadi uswatun hasanah / teladan yang baik untuk orang yang didakwahi

Antara Demonstrasi & Demo Memasak

Apapun bentuknya yang namanya demo tidak akan membawa maslahat, kecuali demo memasak

 

Alih-alih demo untuk kepentingan rakyat, tapi cuma dijadikan alat

demo janjinya untuk mencari manfaat, tapi ujungnya cuma merusak

demo tujuannya menuntut hak, tapi tidak perduli kalau melanggar hak

 

Ada yang namanya demo ala damai, tapi tetap menghujat dengan lebai

Ada yang memakai demo  ala islami, tapi tidak perduli bercampur antara perempuan dan lelaki

Ada pula demo untuk mencari simpati, tapi jika tidak terapresiasi jadi sakit hati

Yang paling parah demo untuk mencari muka, karena bisa membayar siapa saja

 

Kata orang politikus kalau demo itu refleksi dari demokrasi, tapi justru tidak punya lagi harga diri

Katakanlah demo sebagai jalan menuju perubahan, tapi dengan memakan korban

Bisa saja demo dikatakan sebagai kesuksesan menjatuhkan lawan, tapi tunggu kalau kaupun akan demikian

demo adalah jalan karena ketidakpuasan, lalu dimana arti kesabaran

 

Ini omongin demo apa sih? Lah wong yang enak tetap demo memasak, perut kenyang ada maslahat tanpa mudharat

 

 

Ciri-Ciri Ulama

Oleh Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi

Siapa yang dinamakan Ulama?

Terdapat beberapa ungkapan ulama dalam mendefinisikan ulama. Ibnu Juraij rahimahullah menukilkan (pendapat) dari ‘Atha, beliau berkata: “Barangsiapa yang mengenal Allah, maka dia adalah orang alim.” (Jami’ Bayan Ilmu wa Fadhlih, hal. 2/49)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab beliau Kitabul ‘Ilmi mengatakan: “Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah.” (Kitabul ‘Ilmi hal. 147)
Badruddin Al-Kinani rahimahullah mengatakan: “Mereka (para ulama) adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, dan mengajak kepada kebaikan serta menafikan segala bentuk kemudharatan.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 31)

Abdus Salam bin Barjas rahimahullah mengatakan: “Orang yang pantas untuk disebut sebagai orang alim jumlahnya sangat sedikit sekali dan tidak berlebihan kalau kita mengatakan jarang. Yang demikian itu karena sifat-sifat orang alim mayoritasnya tidak akan terwujud pada diri orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu pada masa ini. Bukan dinamakan alim bila sekedar fasih dalam berbicara atau pandai menulis, orang yang menyebarluaskan karya-karya atau orang yang men-tahqiq kitab-kitab yang masih dalam tulisan tangan. Kalau orang alim ditimbang dengan ini, maka cukup (terlalu banyak orang alim). Akan tetapi penggambaran seperti inilah yang banyak menancap di benak orang-orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu banyak orang tertipu dengan kefasihan seseorang dan tertipu dengan kepandaian berkarya tulis, padahal ia bukan ulama. Ini semua menjadikan orang-orang takjub. Orang alim hakiki adalah yang mendalami ilmu agama, mengetahui hukum-hukum Al Quran dan As Sunnah. Mengetahui ilmu ushul fiqih seperti nasikh dan mansukh, mutlak, muqayyad, mujmal, mufassar, dan juga orang-orang yang menggali ucapan-ucapan salaf terhadap apa yang mereka perselisihkan.” (Wujubul Irtibath bi ‘Ulama, hal. 8)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ciri khas seorang ulama yang membedakan dengan kebanyakan orang yang mengaku berilmu atau yang diakui sebagai ulama bahkan waliyullah. Dia berfirman:

إِنَّماَ يَخْشَى اللهَ مِنْ عِباَدِهِ الْعُلَمآءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28)

Ciri-ciri Ulama

Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui siapa sesungguhnya yang pantas untuk menyandang gelar ulama dan bagaimana besar jasa mereka dalam menyelamatkan Islam dan muslimin dari rongrongan penjahat agama, mulai dari masa terbaik umat yaitu generasi shahabat hingga masa kita sekarang.
Pembahasan ini juga bertujuan untuk memberi gambaran (yang benar) kepada sebagian muslimin yang telah memberikan gelar ulama kepada orang yang tidak pantas untuk menyandangnya.

a. Sebagian kaum muslimin ada yang meremehkan hak-hak ulama. Di sisi mereka, yang dinamakan ulama adalah orang yang pandai bersilat lidah dan memperindah perkataannya dengan cerita-cerita, syair-syair, atau ilmu-ilmu pelembut hati.

b. Sebagian kaum muslimin menganggap ulama itu adalah orang yang mengerti realita hidup dan yang mendalaminya, orang-orang yang berani menentang pemerintah -meski tanpa petunjuk ilmu.

c. Di antara mereka ada yang menganggap ulama adalah kutu buku, meskipun tidak memahami apa yang dikandungnya sebagaimana yang dipahami generasi salaf.

d. Di antara mereka ada yang menganggap ulama adalah orang yang pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan alasan mendakwahi manusia. Mereka mengatakan kita tidak butuh kepada kitab-kitab, kita butuh kepada da’i dan dakwah.

e. Sebagian muslimin tidak bisa membedakan antara orang alim dengan pendongeng dan juru nasehat, serta antara penuntut ilmu dan ulama. Di sisi mereka, para pendongeng itu adalah ulama tempat bertanya dan menimba ilmu.

Di antara ciri-ciri ulama adalah:

1. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun.” Al-Hasan mengatakan: “Orang faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabbnya.” Dalam riwayat lain: “Orang yang tidak hasad kepada seorang pun yang berada di atasnya dan tidak menghinakan orang yang ada di bawahnya dan tidak mengambil upah sedikitpun dalam menyampaikan ilmu Allah.” (Al-Khithabul Minbariyyah, 1/177)

2. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang tidak mengaku-aku berilmu, tidak bangga dengan ilmunya atas seorang pun, dan tidak serampangan menghukumi orang yang jahil sebagai orang yang menyelisihi As-Sunnah.”

3. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang berburuk sangka kepada diri mereka sendiri dan berbaik sangka kepada ulama salaf. Dan mereka mengakui ulama-ulama pendahulu mereka serta mengakui bahwa mereka tidak akan sampai mencapai derajat mereka atau mendekatinya.”

4. Mereka berpendapat bahwa kebenaran dan hidayah ada dalam mengikuti apa-apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَيَرَى الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

“Dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu adalah kebenaran dan akan membimbing kepada jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (Saba: 6)

5. Mereka adalah orang yang paling memahami segala bentuk permisalan yang dibuat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al Qur’an, bahkan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتِلْكَ اْلأَمْثاَلُ نَضْرِبُهاَ لِلنَّاسِ وَماَ يَعْقِلُهاَ إِلاَّ الْعاَلِمُوْنَ

“Demikianlah permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43)

6. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian melakukan istinbath(mengambil hukum) dan memahaminya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا جآءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ اْلأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوْا بِهِ وَلَوْ رَدُّوْهُ إِلَى الرَّسُوْلِ وَإِلَى أُولِي اْلأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْبِطُوْنًهُ مِنْهُمْ وَلَوْ لاَ فَضْلَ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطاَنَ إِلاَّ قَلِيْلاً

“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalau mereka menyerahkan kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengambil hukum (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri). Kalau tidak dengan karunia dan rahmat dari Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti syaithan kecuali sedikit saja.” (An-Nisa: 83)

7. Mereka adalah orang-orang yang tunduk dan khusyu’ dalam merealisasikan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ آمَنُوا بِهِ أَوْ لاَ تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِيْنَ أَوْتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذِا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّوْنَ لِلأًذْقاَنِ سُجَّدًا. وَيَقُوْلُوْنَ سُبْحاَنَ رَبِّناَ إِنْ كاَنَ وَعْدُ رَبِّناَ لَمَفْعُوْلاً. وَيَخِرُّوْنَ لِلأَذْقاَنِ يَبْكُوْنَ وَيَزِيْدُهُمْ خُشُوْعاً

“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra: 107-109) [Mu’amalatul ‘Ulama karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, Wujub Al-Irtibath bil ‘Ulama karya Asy-Syaikh Hasan bin Qasim Ar-Rimi]

Inilah beberapa sifat ulama hakiki yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya. Dengan semua ini, jelaslah orang yang berpura-pura berpenampilan ulama dan berbaju dengan pakaian mereka padahal tidak pantas memakainya. Semua ini membeberkan hakikat ulama ahlul bid’ah yang mana mereka bukan sebagai penyandang gelar ini. Dari Al-Quran dan As-Sunnah mereka jauh dan dari manhaj salaf mereka keluar.

Contoh-contoh Ulama Rabbani

Pembahasan ini bukan membatasi mereka akan tetapi sebagai permisalan hidup ulama walau mereka telah menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka hidup dengan jasa-jasa mereka terhadap Islam dan muslimin dan mereka hidup dengan karya-karya peninggalan mereka.

1. Generasi shahabat yang langsung dipimpin oleh empat khalifah Ar-Rasyidin: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.

2. Generasi tabiin dan di antara tokoh mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyib (meninggal setelah tahun 90 H), ‘Urwah bin Az-Zubair (meninggal tahun 93 H), ‘Ali bin Husain Zainal Abidin (meninggal tahun 93 H), Muhammad bin Al-Hanafiyyah (meninggal tahun 80 H), ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud (meninggal tahun 94 H atau setelahnya), Salim bin Abdullah bin ‘Umar (meninggal tahun 106 H), Al-Hasan Al-Basri (meninggal tahun 110 H), Muhammad bin Sirin (meninggal tahun 110 H), ‘Umar bin Abdul ‘Aziz (meninggal tahun 101 H), dan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (meninggal tahun 125 H).

3. Generasi atba’ at-tabi’in dan di antara tokoh-tokohnya adalah Al-Imam Malik (179 H), Al-Auza’i (107 H), Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri (161 H), Sufyan bin ‘Uyainah (198 H), Ismail bin ‘Ulayyah (193 H), Al-Laits bin Sa’d (175 H), dan Abu Hanifah An-Nu’man (150 H).

4. Generasi setelah mereka, di antara tokohnya adalah Abdullah bin Al-Mubarak (181 H), Waki’ bin Jarrah (197 H), Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (203 H), Abdurrahman bin Mahdi (198 H), Yahya bin Sa’id Al-Qaththan (198 H), ‘Affan bin Muslim (219 H).

5. Murid-murid mereka, di antara tokohnya adalah Al-Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), Yahya bin Ma’in (233 H), ‘Ali bin Al-Madini (234 H).

6. Murid-murid mereka seperti Al-Imam Bukhari (256 H), Al-Imam Muslim (261 H), Abu Hatim (277 H), Abu Zur’ah (264 H), Abu Dawud (275 H), At-Tirmidzi (279 H), dan An-Nasai (303 H).

7. Generasi setelah mereka, di antaranya Ibnu Jarir (310 H), Ibnu Khuzaimah (311 H), Ad-Daruquthni (385 H), Al-Khathib Al-Baghdadi (463 H), Ibnu Abdil Bar An-Numairi (463 H).

8. Generasi setelah mereka, di antaranya adalah Abdul Ghani Al-Maqdisi, Ibnu Qudamah (620 H), Ibnu Shalah (643 H), Ibnu Taimiyah (728 H), Al-Mizzi (743 H), Adz-Dzahabi (748 H), Ibnu Katsir (774 H) berikut para ulama yang semasa mereka atau murid-murid mereka yang mengikuti manhaj mereka dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sampai pada hari ini.

9. Contoh ulama di masa ini adalah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz,Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Muhammad Aman Al-Jami, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, dan selain mereka dari ulama yang telah meninggal di masa kita. Berikutnya Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad, Asy-Syaikh Al-Ghudayyan, Asy-Syaikh Shalih Al-Luhaidan, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Asy-Syaikh Shalih As-Suhaimi, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri dan selain mereka yang mengikuti langkah-langkah mereka di atas manhaj Salaf. (Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama)
Wallahu a’lam

Sumber :
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_on

DUNIA DI MATA ORANG BERIMAN

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Dari Amr bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

فَوالله مَا الفَقْرَ أخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلكِنِّي أخْشَى أنْ تُبْسَط الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي : المَالُ

“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi, dia berkata hadits hasan sahih)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian -dalam hal dunia- dan janganlah kalian melihat orang yang lebih di atasnya. Karena sesungguhnya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian.” (HR. Muslim)

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ

“Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar.” (HR. Muslim)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ الآخِرَةِ

“Ya Allah tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإنَّ الله تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ

“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ ، أَو عَابِرُ سَبيلٍ

“Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir.” (HR. Bukhari)

Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir.” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata hadits hasan sahih)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi, dia berkata hadits hasan sahih)

Sumber:
[Dakwah Tauhid] http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/06/27/dunia-di-mata-orang-beriman/

Awan Tag