Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Archive for the ‘Aqidah’ Category

[Impian] Semua Agama Sama Benarnya

Benarkah semua agama adalah sama benarnya?

Inilah propaganda (baca: syubhat) besar yang sering kali diutarakan oleh kaum liberalis kepada umat muslim yang tidak lain hakikatnya adalah penyesatan kepada Aqidah yang lurus, yakni mencoba menularkan penyakit tasykik (peragu-raguan) ke dalam tubuh umat Islam. Mereka berpendapat bahwa semua agama benar berdalih dengan kenyataan pluralisme (kemajemukan) agama yang ada di dunia ini. Nama lain ‘penyakit’ ini adalah inklusivisme, suatu istilah yang terkesan ‘mentereng’ namun menyimpan racun yang mematikan!

Sesungguhnya propaganda ‘semua agama sama benarnya’ adalah justru sebagai sikap terbalik dari ketidakyakinan mereka akan kebenaran yang ada dari agama-agama selain daripada Islam. Kenapa demikian? Karena tak ada satupun bukti dalil dan nash yang dapat membenarkan propaganda mereka,bahkan tafsir (akal) mereka dengan argumentasi  siapa pun yang menyerahkan diri kepada Tuhan, meskipun secara formal dia berada di luar agama Islam, boleh disebut Muslim tidak lebih daripada kedustaan atas nama agama Islam, dusta atas nama Allah, atas nama rasul-Nya, dan atas nama para ulama!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“Katakanlah; sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan berbagai perbuatan keji yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa haq, mempersekutukan sesuatu dengan Allah padahal tidak ada sama sekali hujjah yang Allah turunkan untuk mendukungnya, dan kalian berkata-kata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-A’raaf : 33)

Sehingga demikian mereka tidak dapat mendatangkan hujjah yang datang dari Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi w salam, maka akhirnya mereka membutuhkan ‘pengakuan’ (relatif) dari manusia dengan menebarkan penyakit syubhat dalam bentuk propaganda ‘semua agama sama benarnya’. Inilah teori yang sebenarnya berasal dari Yahudi dan Nasrani yang disebarkan lewat slogan dan kegiatan-kegiatan dalam segala bidang untuk menyeret kaum muslimin keluar dari Islam, padahal mereka tiada lain hanya berangan-angan (bermimpi) dengan kedustaan. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (artinya) :

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata : ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah : “Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar” (QS. Al-Baqarah : 111)

Bagi umat Islam, kebenaran agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara yang tidak bisa lagi ditawar dan dirubah-rubah, dikarenakan syari’at agama ini telah sempurna. Maka tidak ada cara lain di dalam menegakkan kebenaran syari’at ini kecuali dengan dalil shahih yang berasal dari Kitabullah dan As-Sunnah yang di fahami secara benar.

Jika kebenaran syari’at agama islam ini telah kita yakini dengan benar, akankah akal sehat kita dapat menerima bahwa Islam yang merupakan agama Tauhid dipersamakan dengan agama-agama kesyirikan?

Maka benarlah bahwa propaganda ‘semua agama sama benarnya’ hanyalah merupakan impian kosong yang tidak berdasar dari Al-Haq.

Sumber bacaan dengan sedikit perubahan:

  1. Penyakit ‘Semua Agama Sama’ http://buletin.muslim.or.id/aqidah/penyakit-%E2%80%98semua-agama-sama%E2%80%99
  2. Tinjauan Historis Teori Penyatuan Agama dan Beberapa Kasus Yang Berkaitan Dengannya http://abufawaz.wordpress.com/2009/01/30/tinjauan-historis-teori-penyatuan-agama-dan-beberapa-kasus-yang-berkaitan-dengannya-16/
Iklan

Indonesia Tanpa JIL

Syari’at Islam sudah sangat sempurna, salah satunya adalah bagaimana semestinya seorang muslim bertoleransi (muamalah) dengan baik terhadap orang-orang Non-Muslim, maka untuk menjadi seorang Muslim yang toleran tidak harus menjadi Liberal, dengan paham Pluralisme –nya yang mengatakan “semua agama adalah sama benarnya”.

Karena perlu dipahami bahwa pluralitas dan pluralisme adalah dua hal yang berbeda. Pluralitas adalah fakta bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang berbeda-beda, sebagaimana Allah ta’ala berfirman :

 وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ  (هود

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan : Sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”  QS. Hud [11] : 118-119

Dan firman-Nya :

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ (اللأنعام : 35

“Dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”  QS. Al An’aam [6] : 35

Sedangkan pluralisme adalah paham yang mengatakan bahwa semua agama itu sama, yaitu sama-sama benar. Padahal salah satu benarnya aqidah seorang muslim adalah meyakini bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang paling benar sebagaimana Allah ta’ala dengan tegas berfirman :

 إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

 “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”  QS. Ali Imran (3) : 19

 Dan firman-Nya:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa yang menginginkan selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima darinya agama tersebut dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”  QS. Ali Imran (3) : 85

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda:

“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorangpun baik Yahudi maupun Nashrani  yang mendengar tentang diriku dari umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni Neraka” [HR. Muslim]

#IndonesiaTanpaJIL

Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Aqidah yang benar merupakan landasan tegaknya agama dan kunci diterimanya amalan. Hal ini sebagaimana ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima apabila tercampuri dengan kesyirikan. Oleh sebab itulah para Rasul sangat memperhatikan perbaikan aqidah sebagai prioritas pertama dakwah mereka. Inilah dakwah pertama yang diserukan oleh para Rasul kepada kaum mereka; menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya.

Pengertian Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

A. Definisi Aqidah

Aqidah menurut bahasa arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yg berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquwwah yang berarti mengikat dengan kuat.

Sedangkan menurut istilah (terminologi) yang umum, Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya.

Jadi, Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yg telah shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al Qur’an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.

B. Obyek Kajian Ilmu Aqidah

Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilm sesuai konsep Ahlus sunnah wal Jama’ah meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, ghaaibiyyat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yg qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.

Untuk itu ilmu Aqidah sangat penting untuk diketahui dimana disiplin ilmu aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya. Diantara nama-nama Aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

1. Al-Iman

Aqidah disebut juga dengan al-iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi صلى اَللّهُ عليه وسلم, karena aqidah membahas rukun iman yang 6 dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana penyebutan al-iman dalam sebuah hadits yang masyhur disebut dengan hadits Jibril. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah aqidah dengan al-iman dalam kitab-kitab mereka.

2. Aqidah (I’tiqaad dan ‘Aqaa-id)

Para ulama Ahlus Sunnaah sering menyebut ilmu aqidah dengan istilah Aqidah Salaf: Aqidah ahlul Atsar dan al-I’tiqaad di dalam kitab-kitab mereka

3. Tauhid

Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu Aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena itulah ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.

4. As-Sunnah

As-Sunnah artinya jalan. Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabat di dalam masalah aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada 3 generasi pertama.

5. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah

Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yg wath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.

6. Al-Fiqhul Akbar

Ini adalah nama lain ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqhul Ashghar, yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.

7. Asy-Syari’ah

Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah aqidah).

Penamaan Aqidah Menurut Firqah (sekte) Lain

Sedangkan penamaan aqidah menurut firqah (sekte) lain yang seringkali kita dengar dan tidak sedikit kaum muslimin terkena syubhat dengan penamaan-penamaan/istilah-istilah tersebut, diantaranya yang paling terkenal :

1. Ilmu Kalam

Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mutakallimin (pengagung ilmu kalam) seperti aliran Mu’tazilah, Asyaa’irah dan kelompok yg sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai! Karena ilmu kalam itu sendiri merupakan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu.

2. Filsafat

Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam aqidah! Karena dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

3. Tashawwuf

Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam aqidah! Karena merupakan penamaan yang baru lagi diada-adakan. Didalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka yang dijadikan sebagai rujukan dalam aqidah.

Penamaan Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini ada/masuk kedalam islam dari ajaran agama dan keyakinan selain islam.

Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat 1407H) berkata di dalam bukunya at-Tashawwuf al-Mansya’ wal Mashaadir:

“Apabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran Shufi yang pertama dan terakhir serta pendapat-pendapat yang dinukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi, baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas perbedaan yang jauh antara Shufi dengan ajaran Al Qur’an dan As-Sunnah. Begitupula kita tidak pernah melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalanan hidup Nabi صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabat, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan Rasul). ‎​Sebaliknya, kita bisa melihat bahwa ajaran Tashhawwuf diambil dari para pendeta Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi serta kezuhudan Budha, konsep Asy-Syu’ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi, Ghanusiyah, Yunani dan pemikiran Neo-Platonisme yang dilakukan oleh orang-orang Shufi belakangan”

Masih banyak para Ulama yg membahas secara detail tentang kesesatan ajaran Tashawwuf dan Shufi, dan bukan disini tempatnya.

4. Ilaahiyyat (Teologi)

Ilaahiyyat adalah kajian aqidah dengan metodologi filsafat. Ini adalah nama yang dipakai oleh mutakallimin, para filosof, para orientalis dan para pengikutnya.

5. Kekuatan di Balik Alam Metafisik

Sebutan ini juga dipakai oleh para filosof dan para penulis Barat serta orang-orang yang sejalan dengan mereka yang semuanya nama ini tidak boleh dipakai!

Demikianlah beberapa penamaan aqidah menurut firqah yang sampai sekarang begitu populer dan telah menipu sebagian besar umat muslimin yang sebenarnya penamaan-penamaan tersebut bukanlah ajaran dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bersumber dari Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi صلى اَللّهُ عليه وسلم yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.

Insyaa Allah dengan memulai belajar dari awal tentang  aqidah Ahlus Sunnah, maka kita bisa membedakan dan mengetahui aqidah yang haq (benar) yang sesuai fitrah.

Definisi Ahlus Sunnah Wal Jaama’ah dan Salaf

C. Definisi Salaf

Menurut bahasa, Salaf artinya yang terdahulu, yang lebih tua dan lebih utama.

Menurut istilah (inilah pengertian yang diinginkan-pent), Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari umat (islam) ini, yang terdiri dari para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para Imam pembawa petunjuk pada 3 kurun (generasi/masa) pertama yg dimuliakan oleh Allah, sebagaimana sabda Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم :

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (para sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in)” (Muttafaq ‘alaih)

Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan Manhaj (sistem hidup/metode dalam ber-Aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak dll) yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Jadi pengertian Salaf dinisbatkan kepada siapa saja (muslim) yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabat sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.

Syaikhul Islam Taimiyah (wafat 728H) berkata:

“Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan dirinya kepada Salaf, bahkan wajib menerima yang demikian itu berdasarkan kesepakatan para ulama, karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran” (Majmu’ Fataawaa Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah IV/149)

D. Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabatnya. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan ber-ittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabatnya.

As Sunnah menurut bahasa adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk

Sedangkan menurut ulama aqidah (terminologi/istilah), As Sunnah adalah petunjuk yg telah dilakukan oleh Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabatnya, baik tentang ilmu, I’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah As Sunnah yg wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.

Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795H) berkata:

“As-Sunnah ialah jalan ygg ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh kpd apa yang dilaksanakan Nabi صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa I’tiqad, perkataan dan perbuatan. Itulah As Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi Salaf terdahulu tidak menamakan As Sunnah kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al Bashri (wafat 110H), Imam al-Auzai’ (wafat 157H) dan Imam Fudhail bin ‘Iyadh (wafat 187H)” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam II/120 oleh Ibnu Rajab)

Disebut Al-Jama’ah, krn mereka bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah-belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan para Imam (yang berpegang kepada) al- haq (kebenaran), tidak mau keluar dari jama’ah mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah.

Al Jama’ah adalah generasi pertama dari umat ini, yaitu kalangan Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran.

Ibnu Mas’ud رضي اَللّهُ عنه berkata:

“Al-Jama’ah adalah yg mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (HR. Bukhari No. 3641)

Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam dan menjauhi perkara-perkara yang baru (bid’ah) dalam agama.

Ahlus Sunnah wa Jama’ah juga disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar dan Ahlul ittiba’ karena mereka mengikuti kepada Sunnah Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم dan mengikuti jejak Salafush Shalih.

Ahlus Sunnah juga disebut sebagai ath-Thaa-ifatul Manshuurah (golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat) sebagaimana sabda Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم :

“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yg selalu menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yg tidak menolong mereka dan orang yg menyelisihi mereka sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yg demikian itu” (HR. Bukhari No. 3641, Muslim No. 1037, 174)

Ahlus Sunnah juga disebut sebagai Ghurabaa’ (orang asing) sebagaimana sabda Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم :

“Islam awalnya asing dan kelak akan kembali asing sebagai mana awalnya, maka beruntunglah bagi al-Ghurabaa’ (orang2 asing)” (HR. Muslim No. 145)

Maka tidak ada perbedaan pula penamaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan orang-orang yang mengikuti manhaj Salaf sebagaimana pengertian yang telah lalu.

Tidak seorangpun muslim pasti ingin dirinya berada diatas Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Salaf), namun tidak sedikit pula justru menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah. Perhatikanlah berikutnya untuk terus mengetahui Kaidah dan Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah ini, karena kita akan mengetahui mana yang benar-benar berada di atas manhaj aqidah Ahlus Sunnah, dan mana yang justru menyelisihinya.

Sumber : [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i]

Rusaknya Pemikiran Liberalisme Tentang Ibadah Qurban

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah menyempurnakan syariat-Nya di atas agama yang haq yakni Islam

Allah Ta’ala berfirman :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al Maa’idah [5]:3)

Begitupula dengan kesempurnaan syariat Ibadah qurban yang telah Dia syari’atkan di dalam ayatnya yang mulia

Allah Ta’ala berfirman :

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (Qs. Al Kautsar [108]: 2).

Namun sangat disayangkan, syari’at ibadah qurban yang sempurna dan agung ini hendak dikotori oleh pemikiran-pemikiran kotor para kaum liberalis yang salah satunya apa yang ditulis oleh Luthfi Assyaukanie dengan judul Memikirkan Kembali Pelaksanaan Kurban [lihat http://www.assyaukanie.com/articles/memikirkan-kembali-pelaksanaan-kurban]

Apa yang ada dalam artikel tersebut sungguh akan mengecilkan makna qurban yang telah di syari’atkan oleh Allah, bahkan dengan akal dan hatinya yang telah rusak, Luthfi Assyaukanie hendak mengatakan bahwa ibadah qurban merupakan Warisan Kuno yaitu  “Pengurbanan dalam bentuk penyembelihan hewan untuk kemudian dipersembahkan kepada kekuatan gaib (tuhan, dewa, jin, setan, dll)”

Lebih rusak lagi Luthfie Assyaukanie menyatakan bahwa “Ketika Islam datang, ritual pengurbanan (warisan kuno –pen) tetap dilestarikan, tapi dengan sedikit modifikasi”

Masih belum puas dengan kerusakan pemahamannya tentang ibadah qurban, lebih lanjut Luthfie Assyaukanie mengatakan:

“Apa yang dilakukan Islam saat itu dengan mengubah orientasi pengurbanan dari “metafisis” menjadi kegiatan bersifat “sosial” merupakan langkah besar. Islam tak hanya mengurangi (jika tak menghilangkan sama sekali) unsur-unsur mitis dalam pengurbanan, tapi juga memberdayakan ritual keagamaan menjadi kegiatan sosial yang positif”

Perhatikanlah bagaimana Luthfie Assyaukanie sudah tidak dapat membedakan lagi mana yang haq dan mana yang bathil, sehingga dengan pemikiran filsafatnya ia mengatakan bahwa ibadah qurban yang agung ini pada asalnya merupakan warisan kuno yang mengandung unsur-unsur mistis, hanya saja Islam memodifikasi sedikit. Demikianlah kira-kira apa yang menjadi pemikiran bathilnya.

Maka Luthfie Asyyaukanie di dalam artikelnya tersebut tidak sungkan untuk memberikan contoh ritual-ritual pengurbanan dari warisan kuno; “Peradaban Maya di Meksiko biasa menyelenggarakan upacara kurban dengan menceburkan anak perawan ke sungai atau ke sumur tua. Di India, penyembelihan anak-anak (sebelum kemudian diganti dengan hewan) untuk dipersembahkan kepada kekuatan gaib”

Bagi orang-orang yang telah diberikan ilmu dan keimanan tentu akan mengetahui apa maksud dan arah sebenarnya yang diinginkan Luthfie Asyyaukanie di dalam artikelnya tersebut (Memikirkan Kembali Pelaksanaan Kurban –pen). Ya, tidak lain dan tidak bukan bahwa faham Liberalisme melalui lisan tokohnya Luthfie Assyaukanie hendak merubah syari’at yang telah sempurna dan agung ini dengan dalih ‘ijtihad’ yang mereka sendiri dibutakan oleh pemahaman yang benar mengenai ‘ijtihad’

Sangat jelas sekali bagaimana Luthfie Assyaukanie ingin mengecilkan bahkan mengganti tata cara pelaksanaan ibadah qurban yang agung ini dari maksud-maksud yang tertangkap dengan jelas di dalam tulisannya tersebut, (inilah cara-cara kaum liberalisme);

Pertama, Seperti sudah kebiasaan kaum liberalisme ketika membicarakan perkara syari’at agama, maka tidak satupun dalil dari Al qur’an dan Hadits yang dibawakan dalam mendukung ‘pemikirannya’ tersebut, atau jikapun ada tapi dengan pemahaman yang salah kaprah.

Lihatlah dalam artikel tersebut (Memikirkan Kembali Pelaksanaan Kurban –pen) yang ditulis Luthfie Assyaukanie, berbicara tentang perkara syari’at Qurban tanpa secuilpun ayat dan hadits,apalagi penjelasan Ulama. Justru sebaliknya hanya berbekal ‘akal dan hawa nafsunya’ (yang memang sudah sakit) sehingga menjatuhkannya pada pemikiran rusak bahwa ibadah qurban tidak beda dengan warisan kuno yang maknanya menyamakan bentuk pengurbanan kepada dewa, jin, setan.

Kedua, Sudah barang tentu ketika berbicara tentang syari’at agama tanpa dalil yang jelas dan shahih dengan penjelasan para Ulama, maka akan sangat memudahkan ‘keinginan kotornya’ untuk ‘mengecilkan’ bahkan meniadakan syari’at tersebut yang biasanya diikuti dengan logika ‘buruk’ dan ‘negatif’ yang bisa ditangkap oleh sebagian orang awam.

Seperti apa yang diinginkan dalam tulisan tersebut, maka kesan ‘kotor’, ‘jorok’, ‘horor’ dan ‘sadisme’ pun terlontar dari Luthfie Assyaukanie mengkritisi pelaksanaan ibadah qurban yang dilakukan di tempat-tempat umum oleh kaum muslimin, bahkan menyamakan kaum muslimin yang melakukan tata cara pelaksanaan ibadah qurban akan sama halnya dengan pengurbanan sebagai ritus persembahan hewan kepada kekuatan gaib (dewa, jin, setan –pen) dan akan kecewa jika obyek kurban diganti.

Ketiga, Dengan beralasan hendak ‘memperbaiki’ yang membawa-bawa ijtihad, tentu arahnya sudah jelas seperti apa yang di inginkan oleh kaum liberalis, yakni merubah tata cara ibadah qurban yang telah sempurna ini.

Perhatikanlah apa yang di inginkan Luthfie Assyaukanie sebenarnya yang sudah bersusah payah membahas pelaksanaan ibadah qurban, tujuannya tidak lain hanya ingin ‘ber-ijtihad’ mengganti pelaksanaan ibadah penyembelihan hewan qurban yang selama ini telah dilakukan dengan semangat oleh kaum muslimin dengan obyek ‘qurban’ lain yang semisal harta benda berharga, karena menurutnya penggantian ini adalah makna hakiki dan tujuan dasar dari udhiyah yang dikembangkan Islam [?]

Benarlah apa yang Allah firmankan tentang sifat-sifat mereka yang beralasan hendak ‘mengadakan perbaikan’, nyatanya Allah telah membantah di dalam ayatnya yang mulia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.’” (QS Al-Baqarah [2]: 11-12).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “..maka jika mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah (maksiat) berarti mereka telah mengusahakan (sesuatu yang menyebabkan) kerusakan dan kehancuran di muka bumi [Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” hal. 759]

 

Benarkah Ibadah Qurban Merupakan Warisan Kuno ?

Tidak ada satupun dalil yang menghubungkan tentang sejarah ibadah qurban dengan warisan kuno yang dipersembahkan kepada kekuatan gaib (tuhan, dewa, jin, setan, dll)”. Maka bagi orang yang beriman akan sangat mengetahui bahwa penyembelihan hewan qurban, bila dirunut sejarahnya, tidak lepas dari sosok Nabi Ibrahim dan putra beliau Nabi Ismail. Sebagaimana yang Allah beritakan dalam kitab suci Al-Qur`an:

 “Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai (pada umur sanggup) untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, berkatalah Ibrahim: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat [37]: 102-109)

Barangsiapa mempelajarinya dengan seksama (mentadabburinya) niscaya akan mendulang mutiara hikmah dan pelajaran berharga darinya (ibadah qurban –pen), terkhusus pada sejumlah momen di bulan Dzulhijjah yang hakikatnya tak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihisalam.

Dengan sekian keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihisalam itulah, Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad untuk mengikuti agama beliau. Sebagaimana firman Allah :

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (An-Nahl [16]: 123)

Renungkanlah bagi orang yang memiliki akal sehat, bahwa perintah ibadah qurban yang telah Allah syari’atkan (QS. Al Kautsar [108]:2) merupakan hikmah mencontoh bapak kita Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang diperintahkan agar menyembelih buah hatinya (anaknya) yang mana sudah menjadi keyakinan bagi orang yang beriman tentang kisah-kisah agung dari Nabi Ibrahim ‘alaihisalam sebagai peneguhan nyata akan tauhid, ketaatan dan keimanan yang luar biasa kepada Allah mewujud pada tindakan yang niscaya akan teramat berat ditunaikan manusia pada umumnya. Sebuah keteladanan yang mesti kita tangkap dan nyalakan dalam kehidupan kita.

Bandingkan, dengan pemikiran kaum liberalis yang menyamakan hikmah ibadah qurban yang agung dengan ‘qurban’ warisan kuno yang dipersembahkan kepada kekuatan gaib (dewa, jin, setan, dll)”. Padahal Nabi Ibrahim ‘alaihisalam merupakan sosok pembawa panji-panji tauhid. Perjalanan hidupnya yang panjang sarat dengan dakwah kepada tauhid dan segala liku-likunya. sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan bertaqwalah kalian kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mau mengetahui. Sesungguhnya apa yang kalian ibadahi selain Allah itu adalah berhala, dan kalian telah membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu memberi rizki kepada kalian, maka mintalah rizki itu dari sisi Allah dan beribadahlah hanya kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan. Dan jika kalian mendustakan, maka umat sebelum kalian juga telah mendustakan dan kewajiban Rasul itu hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.” (Al-‘Ankabut [29]: 16-18)

Sungguh, telah rusaklah akal dan hati para kaum liberalis yang mengatakan sama antara inti Ibadah Tauhid dengan kesyirikan yang nyata.

Bolehkah Mengganti Hewan Qurban Dengan Obyek ‘Qurban’ Lain ?

Inilah pemikiran yang paling bathil (rusak) ketika suatu ibadah yang sifatnya tauqifiyah yang artinya tidak bisa ditetapkan kecuali apabila dilandasi dengan dalil dari Sang pembuat syari’at dan jelas-jelas telah tersusun sempurna dari sisi tata cara pelaksanaannya ingin di rubah hanya berdasar akal semata.

Qurban merupakan salah satu sembelihan yang disyariatkan sebagai ibadah dan amalan mendekatkan diri kepada Allah. Hal inilah yang dinyatakan Ibnul Qayyim dalam pernyataannya:  

Sembelihan-sembelihan yang menjadi amalan mendekatkan diri kepada Allah dan ibadah adalah Al-Hadyu, Al-Adhhiyah (Kurban) dan Al-Aqiqah” [Lihat Abdul Aziz bin Muhammad Ali Salman, Ithaf Al-Muslimin Bima Tayassara Min Ahkam Ad-Din, Ilmun wa Dalilun, Cet. II, Th 1403H, hal. 2/505]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (Qs. Al Kautsar [108]: 2).

Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi.

Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Hewan qurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak tertentu) yaitu onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406)

Dalilnya adalah firman Allah yang artinya,

“Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (QS. Al Hajj [22]: 34)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’, III/409)

Perhatikan! Hanya untuk mengganti hewan-hewan qurban yang telah di syariatkan dengan hewan selainnya saja tidak sah! Apalagi ingin mengganti dengan ‘obyek’ qurban dari harta benda lainnya!

 

Benarkah Penyembelihan Hewan Qurban merupakan Pentas Horor dan Sadisme ?

Tidak ada seorang manusia yang memiliki pemikiran seperti ini kecuali telah rusak akal dan hatinya karena virus-virus pemikiran kotor, horor dan sadisme di dalam dirinya.

Tidakkah diketahui bahwa syari’at islam adalah agama yang rahmat, bahkan kepada hewan? Maka Islam men-syari’atkan adab dan tata cara penyembelihan hewan qurban yang tidak boleh menyakiti hewan qurban

Dari Syadad bin Aus, beliau berkata,

Ada dua hal yang kuhafal dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Sesungguhnya Allah itu mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Demikian pula, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian tajamkan pisau dan kalian buat hewan sembelihan tersebut merasa senang” (HR Muslim no 5167).

Bahkan ketika akan menyembelih disyari’akan membaca do’a “Bismillaahi wallaahu akbar”.hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir – Allahu akbar – para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir ketika menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib. Kemudian diikuti bacaan hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud 2795) Atau hadza minka wa laka ‘anni atau ‘an fulan (disebutkan nama shahibul qurban).”

Begitupula tempat yang disunnahkan untuk menyembelih adalah tanah lapangan tempat shalat ‘ied diselenggarakan. Terutama bagi imam/penguasa/tokoh masyarakat, dianjurkan untuk menyembelih qurbannya di lapangan dalam rangka syi’ar kepada kaum muslimin bahwa qurban sudah boleh dilakukan dan mengajari tata cara qurban yang baik. Ibnu ‘Umar mengatakan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyembelih kambing dan onta (qurban) di lapangan tempat shalat.” (HR. Bukhari 5552).

Dan dibolehkan untuk menyembelih qurban di tempat manapun yang disukai, baik di rumah sendiri ataupun di tempat lain. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/378)

Demikianlah apa yang telah disyariatkan di dalam agama ini tentang ibadah qurban yang merupakan salah satu ibadah agung di bulan Dzulhijjah (salah satu bulan mulia dalam Islam). Karena di dalamnya terdapat amalan-amalan mulia; shaum Arafah, haji ke Baitullah, ibadah qurban, dan lain sebagainya. Maka, apakah ibadah qurban yang hakikatnya adalah bukti ketauhidan seorang hamba kepada Rabb-nya ingin dipersamakan dengan ritual-ritual ‘qurban’ yang mengandung kesyirikan?

Allah berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al An’am [6]: 162-163)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat orang yang menyembelih binatang untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

Semoga Allah tetap menegakkan syari’at-Nya di atas muka bumi di dada-dada kaum muslimin dan dijauhkannya dari segala kerusakan kaum munafik. Wallahu ta’ala ‘alam

Referensi pendalilan:

Tentang Al Haq (Kebenaran)

Benarkah slogan “Menghargai Pendapat Orang Lain” itu…?

Oleh: Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Azza wa Jalla, Dzat yang telah mengangkat kedudukan para ulama yang bertakwa. Shalawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam penutup para nabi. Juga kepada keluarga, para sahabat dan yang mengikuti mereka sampai hari kiamat
Amma ba’du.

Slogan “menghargai pendapat orang lain”, berulang kali disampaikan melalui media audio maupun media cetak, dan ungkapan ini, seolah-olah sudah menjadi sebuah peraturan mengikat. Padahal ungkapan ini tidak mutlak, tidak sepenuhnya benar. Karena masalah-masalah yang berkaitan dengan din (agama), pijakannya ialah Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan berdasarkan pendapat. Sehingga siapapun yang salah dalam permasalahan din, maka pendapatnya tidak boleh dihargai dan tidak boleh didiamkan. Karena menghargai atau diam merupakan pengkhianatan terhadap Islam dan kaum muslimin ; juga berarti menyembunyikan al-haq (kebenaran), padahal Allah Azza wa Jalla berfirman.

“(Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu) : “Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya…)” [Ali-Imran : 187]

Meskipun yang keliru itu adalah orang terbaik atau orang yang paling tinggi martabatnya (dia tetap tidak boleh didiamkan, -red) karena kedudukan al-haq lebih tinggi dari dirinya.

Lihatlah! Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu membantah pendapat Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma ketika mereka menyelisihi dalil tentang pembatalan haji ke umrah. Dan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Hampir saja ada batu yang jatuh dari langit menimpa kalian. Aku mengatakan Rasulullah bersabda, sedangkan kalian mengatakan Abu Bakar dan Umar mengatakan”. Karena tidak boleh berijtihad, jika ada nash atau dalil.

Oleh karena itu, tidak boleh menghargai pendapat orang lain dengan mengorbankan agama. Membantah kesalahan, bukan berarti merendahkan atau menurunkan derajat orang yang dibantah. Kecuali jika yang dibantah itu bukan ahli ilmu, maka keadaan orang ini harus dijelaskan, supaya ia tidak dianggap sebagai ulama, karena ia bukan ulama. Para ulama tidak membolehkan umat mendiamkan kesalahan-kesalahan mereka (jika ada, red), dan mereka juga tidak merasa berat menerima kebenaran dari orang yang membawakannya.

Contohlah Imam Abu Hanifah rahimahullah, beliau berkata : “Jika ada hadits yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was allam, maka kami taat sepenuhnya. Jika ada ucapan yang datang dari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami taat sepenuhnya. Jika ada ucapan yang datang dari selain mereka, maka mereka adalah tokoh, dan kami juga tokoh”. Maksudnya, sama-sama ulama, selama itu merupakan masalah ijtihadiy

Masalah ijtihadiy, yang belum jelas kebenarannya, tidak bisa diingkari apabila yang berpendapat itu seseorang yang berhak untuk berijtihad. Yaitu yang memenuhi persyaratan sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab ushul, bukan seorang yang merasa berilmu, padahal bodoh. Jadi, berijtihad bukan hak semua orang.

Imam Malik rahimahullah juga berkata : “Kita semua bisa membantah dan bisa dibantah, kecuali penghuni kubur ini”. Maksudnya, ialah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, tidak ada seorangpun yang tidak boleh dibantah jika salah, dan ia tidak boleh fanatik dengan pendapatnya.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata : “Jika ucapanku bertentangan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka benturkanlah pendapatku dengan tembok”. Maksud beliau, tinggalkanlah pendapatku

Imam Ahmad rahimahullah berkata : “Aku heran dengan sebagian manusia yang sudah mengetahui sanad dan keshahihan sanad, namun mereka mengikuti pendapat Sufyan. Padahal Allah Azza wa Jalla berfirman.

“(Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih)” [An-Nur : 63]

Kemudian, untuk diketahui, orang-orang yang mempropagandakan slogan “menghargai pendapat orang lain”, mereka ini hanya akan menghormati dan menghargai pendapat-pendapat yang sesuai dengan nafsu dan sejalan dengan ambisi mereka, meskipun pendapat itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak akan menghargai pendapat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, jika pendapat ini berseberangan dengan nafsu dan ambisi mereka. Bahkan kemudian, mereka menyematkan gelar jumud (beku, tidak fleksibel), ekstrim, dangkal, dan berbagai gelar buruk lainnya terhadap pendapat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Juga dalam memberikan bantahan, tidak harus menyebutkan kebaikan orang yang dibantah, sebagaimana dikatakan para pengusung pendapat muwazanah (keseimbangan)[1]. Karena tujuannya bukan mengoreksi orang itu, namun hanya menjelaskan kesalahan-kesalahannya supaya orang lain tidak terpedaya. Sekali lagi bukan meluruskan orang itu.

Membantah orang yang menyimpang dalam urusan din (agama) merupakan perkara wajib, supaya al-haq tidak bercampur dengan yang bathil. Allah Azza wa Jalla telah membantah perkataan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq dalam kitab-Nya yang mulia.

Ketika Abu Sufyan mengatakan kepada kaum muslimin saat perang Uhud, “kami memiliki Uzza, sedangkan kalian tidak memiliki Uzza”, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat.

“Tidakkah kalian membalasnya?” Para sahabat berkata ; “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami ucapkan ?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Allah Azza wa Jalla adalah maula (pelindung) kami, sedangkan kalian tidak memilki maula” [2]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyuruh Hassan bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu membantah kaum musyrikin dengan menggunakan syair-syairnya Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Jawablah untukku, dan semoga Ruhul-Qudus (Malaikat Jibril) bersamamu” [3]

Lalu Hassan membantah kaum musyrikin dengan bantahan yang lebih menyakitkan dari hujaman anak panah dan tombak. Dan para ulama terus melakukan bantahan terhadap orang-orang yang menyimpang. Kitab-kitab mereka, dalam masalah ini sudah ma’ruf (dikenal).

Hanya saja (yang perlu diperhatikan, red) dalam membantah harus tetap dengan menggunakan adab-adab yang disyari’atkan. Dan tujuan melakukan bantahan ialah membela kebenaran, bukan membela diri dan menghabisi orang yang dibantah.

Hendaklah tidak menyinggung pribadi orang yang dibantah, (misalnya) dengan menjarh atau merendahkannya, kecuali jika orang yang dibantah itu sesat, atau ahli bid’ah, atau orang yang sok tahu dengan berbicara atas nama Allah dan Rasulullah tanpa dasar ilmu. Kalau keadaannya seperti ini, maka si pembantah wajib menjelaskan keadaan ilmu dan din (agama) seorang yang dibantahnya, sehingga ucapan orang yang dibantah itu tidak dipercaya, dan pendapat yang datang darinya tidak diambil, karena sarana yang bisa menyempurnakan suatu yang wajib, maka hukumnya wajib.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang ahli kitab yang mencela kaum muslimin, mengejek dan menyematkan gelar buruk pada mereka.

“Katakanlah (wahai Muhammad) : “Apakah akan aku beritakan kepada kalian tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi (dan orang yang) menyembah Taghut”. Mereka itu lebih buruk tempatnya di lebih tersesat dari jalan yang lurus” [Al-Maidah : 60]

Ringkasnya, dalam keadaan bagaimana pun, seorang ahli ilmu tidak boleh mendiamkan perkataan orang-orang yang menyimpang dan perkataan orang-orang sok tahu yang terus mengatakan sesuatu yang tidak mereka ketahui (hakikatnya, red). Seorang ahli ilmu, wajib menjelaskan al-haq dan membantah kebathilan, sebagai bentuk pembelaan terhadap Allah Azza wa Jalla, Rasul-Nya, Kitab-Nya, dan pembelaan terhadap seluruh kaum muslimin. Allah Azza wa Jalla berfirman.

“Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar)” [Al-Ahzab : 4]

Dalam mukaddimah (pembukaan) bantahan terhadap Jahmiyah, Imam Ahmad rahimahullah mengatakan.

“Segala puji milik Allah Azza wa Jalla yang telah menjadikan pada setiap masa, sekelompok ahli ilmu yang membersihkan penyimpangan orang-orang yang berbuat ghuluw terhadap Kitabullah, pengakuan orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah, serta menghilangkan penakwilan-penakwilan orang jahil.

Para ahli ilmu ini mendakwahi orang yang sesat menuju petunjuk. Mereka bersabar dari gangguan orang-orang yang sesat. Betapa banyak orang-orang sesat itu telah mendapatkan petunjuk dengan perantaraan para ahli ilmu. Dan betapa banyak menusia yang dimatikan (hatinya, red) oleh iblis telah dihidupkan kembali melalui para ahli ilmu. Alangkah baiknya pengaruh mereka kepada manusia, dan alangkah buruk balasan manusia kepada mereka”.

Demikian, kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar diberi ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memperbaiki para penguasa kita, dan para penguasa kaum muslimin dimanapun berada ; agar Allah memenangkan din (agama)-Nya dan meninggikan kalimat-Nya, memberikan petunjuk kepada kaum muslimin yang tersesat.

Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memperlihatkan al-haq itu sebagai kebenaran dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengikutinya ; serta memperlihatkan kebathilan itu sebagai kebathilan dan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjauhinya.

Kita memohon kepada Allah agar tidak menjadikan suatu kebathilan itu menjadi samar-samar, sehingga mengakibatkan kita tersesat.

[Al-Bayan Li Akhta’i Ba’dhil Kuttab, 2/62-64]
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
__________
Foote Note
[1]. Pendapat yang mengharuskan penyebutan kebaikan seseorang yang dinilai memiliki kekeliruan dan kesalahan, red
[2]. HR Al-Bukhari, red
[3]. Dalam riwayat Imam Al-Bukhari, Kitab Bad’il Khalqi, Bab Dzikril Malaikah, juga dalam riwayat Imam Muslim, Kitab Fadha’ilish Shahabah, Bab : Fadha’il Hassan bin Tsabit no. 6334.

(Sumber: http://www.almanhaj.or.id)

Tentang Takdir

Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.” Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, “Kalau begitu kami bersandar saja (tidak beramal-pent) wahai Rosululloh?”. Maka beliau pun menjawab, “Jangan demikian, beramallah kalian karena setiap orang akan dimudahkan”, kemudian beliau membaca firman Allah, “Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa serta membenarkan Al Husna (Surga) maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al Lail: 5-7). (HR. Bukhori dan Muslim)

BERIMANLAH ..
kepada Takdir dengan Pemahaman yang benar sesuai Al Qur’an dan Sunnah seperti apa yang difahami oleh para sahabat (salafush shalih)

“Allah-lah yang Menciptakan kalian dan amal perbuatan kalian.” (QS. Ash Shoffaat: 96)

Tentang Sabar

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

BERSABARLAH ..
1. dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
2. untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
3. dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah )

“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).

Awan Tag