Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Archive for Oktober, 2015

Iyya Kana`budu Wa iyya Kanasta`in

hanya kepadamu kami beribadah

Pernyataan yang senantiasa kita ucapkan, sudahkah kita memahami maknanya?

Iyya kana`budu

 “Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah”  

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menafsirkan artinya, “Kami mengkhususkan Engkau semata dalam peribadahan..

Di sini, ibadah didahulukan daripada isti’anah. Maksudnya adalah mendahulukan perkara yang umum baru kemudian yang khusus serta perhatian dengan mendahulukan hak Allah ta’ala daripada hak hamba-Nya”

Lalu, apakah makna ibadah itu sendiri?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberikan definisi dari Ibadah adalah segala sesuatu yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala, baik berupa ucapan dan amalan, yang nampak dan yang tersembunyi.

Jelaslah, bahwa sebuah ibadah mesti mendapatkan cinta dan ridho dari Allah Ta’ala karena untuk Dia-lah ibadah dilakukan, maka sangat penting kita mengetahui agar ibadah yang kita lakukan adalah ibadah yang di cintai dan diridhai Allah

Beribadah Hanya Karena Ada Perintah

Hal ini sebagaimana kaidah fiqih “Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).

Dalil dari kaedah ini adalah adalah firman Allah Ta’ala,

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Al Ahzab: 21).

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).

Jadi ibadah cukup mudahkan? Lakukan jika ada perintahnya, tinggalkan jika memang tidak ada perintahnya,, atau telitilah sebelum melakukan ibadah tersebut, inilah pentingnya belajar sebelum beramal

2 Syarat Diterimanya Amal Ibadah

Bahwa syarat diterimanya ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah:

Pertama: Ikhlas, yaitu beribadah karena Allah Ta’ala.

Kedua: Ittiba’, yaitu mengikuti sunnah (petunjuk) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Ulama seluruhnya sepakat (ijma’) bahwa, ibadah tidak benar tanpa memenuhi dua syarat ini

Dalil dari 2 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan makna ayat yang mulia ini,

Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, yaitu pahala dan balasannya yang baik. Maka hendaklah dia beramal shalih, yaitu amalan yang sesuai syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya, yaitu hendaklah (ikhlas) hanya mengharap wajah Allah saja tiada sekutu bagi-Nya. Dua perkara ini (amal sesuai syari’at dan ikhlas) merupakan dua rukun amal yang diterima, yaitu harus ikhlas karena Allah Ta’ala dan sesuai syari’at Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/205)

Setiap Ibadah Telah Ditentukan oleh Syari’at Mengenai Tata Caranya

Tata cara ibadah itulah yang harus kita ikuti dari Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam, karena hanya beliaulah yang mendapat wewenang (wahyu) dari Allah mengenai ibadah-ibadah apa saja yang di cintai dan di ridhoi-Nya. Ada 6 perkara agar amal ibadah kita sesuai syariat (mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam):

  1. Kaifiyat (cara), seorang beribadah harus dengan cara yang disyari’atkan. Contoh : cara berwudhu, jika cara wudhunya dimulai dengan membasuh kaki terlebih dahulu kemudian tangan, maka tidak sah wudhunya, kerana menyelisihi kaifiyat wudhu’.
  2. Jenis, yakni ibadah mesti sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Contoh : Jenis hewan qurban yang sudah ditentukan (kambing, sapi, unta), maka berqurban dengan hewan selainnya adalah tidak sah.
  3. Tempat, yakni ibadah mesti sesuai dengan tempat yang telah disyari’atkan. Contoh : Jika seorang tawaf bukan di Ka’bah maka tidak sah, karena tawaf hanya disyariatkan tempatnya di Ka’bah
  4. Jumlah, yakni ibadah mesti sesuai dengan jumlah/bilangan. Contoh : Jumlah raka’at sholat dan dzikir-dzikir sehabis sholat yang telah ditentukan.
  5. Waktu, yaitu ibadah mesti sesuai dengan waktunya. Contoh : seandainya ada orang yang sholat sebelum waktunya maka tidak sah, atau menyembelih hewan qurban bukan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik maka tidak sah
  6. Sebab, yakni ibadah kepada Allah harus dengan sebab yang disyari’atkan. Contoh: ketika bersin disyariatkan membaca ‘alhamdulillah’, ketika hujan turun disyariatkan membaca ”Allahumma shoyyibannafi’an” .

Setelah kita mengetahui makna ibadah, syarat dan tata caranya agar ibadah kita diterima bahkan di cintai dan diridhai Allah, maka tak ada artinya tanpa kita memohon pertolongan kepada Allah agar dapat dimudahkan semua itu, karena berapa banyak Muslim yang tak mampu untuk melaksanakan Sholat dikarenakan tanpa pertolongan Allah, juga berapa banyak ibadah sholat yang kita lakukan tapi tidaklah khusyu’ dan benar caranya sesuai sunnah Nabi shallalahu ‘alaihi wa salam dikarenakan kita tidak mendapat pertolongan Allah. Maka isti’anah (meminta pertolongan) kepada Allah dalam setiap peribadahan sangat dibutuhkan oleh hamba agar kita menyandarkan diri kepada Allah untuk memperoleh manfaat dan menolak mudharat, disertai dengan tsiqah (keyakinan) bahwa Allah-lah yang mewujudkan hal tersebut.

Wa iyya Kanasta`in

“Dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Penyebutan Isti’anah setelah ibadah -padahal isti’anah itu juga termasuk ke dalam ibadah- adalah karena butuhnya hamba kepada istia’anah kepada Allah dalam setiap peribadahan. Sebab, tanpa pertolongan Allah, dia tidak akan memperoleh apa yang dia inginkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah tadi”

Allahu ‘alam

Faedah kajian : Hanya PadaMu, Kerennya Al Fatihah Part. 02 – Ustadz Ibnu Bakri

Iklan

Banggalah Menjadi Muslim !

Bangga muslim2

Karena menjadi muslim adalah hidayah dari Allah,

“Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”  [QS Al An’aam : 125]

Banggalah menjadi muslim, karena Islam adalah satu-satunya agama yang paling sempurna seluruh syari’atnya, 

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.”  [QS. Al Maidah : 3]

Banggalah menjadi muslim, karena hanya Islam agama yang di ridhoi Nya,

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam“. [QS. Ali Imran : 19]

Banggalah menjadi muslim, karena Islam adalah agama yang paling haq (benar),

“Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk (taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.”  [QS. Ali Imran : 83]

Banggalah menjadi muslim, karena Allah menjamin umat Islam pasti masuk surga,

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Semua umatku pasti akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku pasti masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan (tidak mau masuk surga, pent).” [HR. Al-Bukhari no.6851]

Jadi,

Tidak ada alasan hanya berdalih toleransi yang kebablasan ; ‘semua agama sama benarnya, semua agama sama berserah diri, semua agama adalah rahmatan lil alamin, tidak ada kekafiran dan kalimat kufur semacamnya’, menyebabkan kita tidak pede dengan keislaman kita,

Namun,

Pastinya bukan hanya sekedar kebanggaan menjadi muslim, tapi seorang muslim diperintahkan untuk mengenal Islam beserta dalil-dalilnya, hingga wajib seorang muslim untuk tunduk dan taslim (berserah diri) secara sempurna; yakni patuh dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya secara lahir dan bathin dan tidak menolak sesuatu dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih.

‘Ya Muqollibal Quluubi Tsabbit Qolbiy ‘Alaa Diinika’.

“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi no.3522, imam Ahmad IV/302, Al-Hakim I/525. Lihat Shohih Sunan At-Tirmidzi no.2792).

Aku bangga menjadi muslim !

Awan Tag