Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Archive for the ‘Manhaj’ Category

Kesenangan dan Kesedihan adalah Ujian

1

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” QS. Al Hadiid : 22-23

Setiap manusia mempunyai masalah karena manusia akan diuji dan itu adalah pasti.
Tak melihat siapapun itu, bahkan kafir sekalipun akan diberi ujian oleh Allah.

Sungguh menjadi bahan perenungan yang sangat, terkhusus bagi aku. Bahwasannya tidak sendirian diri ini diuji, semua diuji dengan masalahnya masing-masing. Dan tidak sedikit pula di antara mereka yg masih peduli serta mau membantu orang lain sementara dirinyapun sedang dirundung masalah.

Maha Suci Allah,, dan segala puji bagi Allah yang senantiasa terus menerus menyayangi dan mengurus makhluk-Nya.
Allah jadikan kita masih bisa mengingat Allah di tengah himpitan persoalan. Dia jadikan pagi dan siang untuk berupaya mencari jalan keluar, dan Dia jadikan sore dan malam untuk beristirahat. Semuanya Dia jadikan dalam porsi yang adil. Dan di antara waktu-waktu tersebut manusia diberikan kesempatan untuk mengingat-Nya, bermunajat dan memohon pertolongan-Nya. Sungguh beruntung bagi mereka yang menyadari dan kemudian memanfaatkan waktu-waktu tersebut.

Allah yang Maha Rahim,, sungguh kami sangatlah lemah tanpa-Mu. Bahkan kami tidak punya apa-apa. Engkaulah yang Maha Kuasa, Engkau yang Kuasa menjadikan diri ini terus mengingat-Mu walau hanya sekadar doa. Ya Rabbana,, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa mengingat-Mu di kala senang dan sedih. Janganlah Engkau palingkan wajah-Mu dari kami, dan jadikanlah mudah bagi kami dalam setiap urusan kami, karena hanya kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu lah kami memohon pertolongan, wahai Dzat Pemberi segala sumber pertolongan. Jadikan kami hamba-hamba-Mu yang bertaqwa, dan jadikan hati kami adalah hati yang selamat saat menghadap-Mu, meski himpitan masalah belum jua terselesaikan.

Aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Iyya Kana`budu Wa iyya Kanasta`in

hanya kepadamu kami beribadah

Pernyataan yang senantiasa kita ucapkan, sudahkah kita memahami maknanya?

Iyya kana`budu

 “Hanya kepada-Mu lah Kami beribadah”  

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menafsirkan artinya, “Kami mengkhususkan Engkau semata dalam peribadahan..

Di sini, ibadah didahulukan daripada isti’anah. Maksudnya adalah mendahulukan perkara yang umum baru kemudian yang khusus serta perhatian dengan mendahulukan hak Allah ta’ala daripada hak hamba-Nya”

Lalu, apakah makna ibadah itu sendiri?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberikan definisi dari Ibadah adalah segala sesuatu yang mencakup semua hal yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala, baik berupa ucapan dan amalan, yang nampak dan yang tersembunyi.

Jelaslah, bahwa sebuah ibadah mesti mendapatkan cinta dan ridho dari Allah Ta’ala karena untuk Dia-lah ibadah dilakukan, maka sangat penting kita mengetahui agar ibadah yang kita lakukan adalah ibadah yang di cintai dan diridhai Allah

Beribadah Hanya Karena Ada Perintah

Hal ini sebagaimana kaidah fiqih “Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).

Dalil dari kaedah ini adalah adalah firman Allah Ta’ala,

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Al Ahzab: 21).

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).

Jadi ibadah cukup mudahkan? Lakukan jika ada perintahnya, tinggalkan jika memang tidak ada perintahnya,, atau telitilah sebelum melakukan ibadah tersebut, inilah pentingnya belajar sebelum beramal

2 Syarat Diterimanya Amal Ibadah

Bahwa syarat diterimanya ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah:

Pertama: Ikhlas, yaitu beribadah karena Allah Ta’ala.

Kedua: Ittiba’, yaitu mengikuti sunnah (petunjuk) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Ulama seluruhnya sepakat (ijma’) bahwa, ibadah tidak benar tanpa memenuhi dua syarat ini

Dalil dari 2 syarat ini adalah firman Allah Ta’ala

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan makna ayat yang mulia ini,

Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, yaitu pahala dan balasannya yang baik. Maka hendaklah dia beramal shalih, yaitu amalan yang sesuai syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya, yaitu hendaklah (ikhlas) hanya mengharap wajah Allah saja tiada sekutu bagi-Nya. Dua perkara ini (amal sesuai syari’at dan ikhlas) merupakan dua rukun amal yang diterima, yaitu harus ikhlas karena Allah Ta’ala dan sesuai syari’at Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/205)

Setiap Ibadah Telah Ditentukan oleh Syari’at Mengenai Tata Caranya

Tata cara ibadah itulah yang harus kita ikuti dari Rasulullah Shalallahu’alaihi wa salam, karena hanya beliaulah yang mendapat wewenang (wahyu) dari Allah mengenai ibadah-ibadah apa saja yang di cintai dan di ridhoi-Nya. Ada 6 perkara agar amal ibadah kita sesuai syariat (mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam):

  1. Kaifiyat (cara), seorang beribadah harus dengan cara yang disyari’atkan. Contoh : cara berwudhu, jika cara wudhunya dimulai dengan membasuh kaki terlebih dahulu kemudian tangan, maka tidak sah wudhunya, kerana menyelisihi kaifiyat wudhu’.
  2. Jenis, yakni ibadah mesti sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Contoh : Jenis hewan qurban yang sudah ditentukan (kambing, sapi, unta), maka berqurban dengan hewan selainnya adalah tidak sah.
  3. Tempat, yakni ibadah mesti sesuai dengan tempat yang telah disyari’atkan. Contoh : Jika seorang tawaf bukan di Ka’bah maka tidak sah, karena tawaf hanya disyariatkan tempatnya di Ka’bah
  4. Jumlah, yakni ibadah mesti sesuai dengan jumlah/bilangan. Contoh : Jumlah raka’at sholat dan dzikir-dzikir sehabis sholat yang telah ditentukan.
  5. Waktu, yaitu ibadah mesti sesuai dengan waktunya. Contoh : seandainya ada orang yang sholat sebelum waktunya maka tidak sah, atau menyembelih hewan qurban bukan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik maka tidak sah
  6. Sebab, yakni ibadah kepada Allah harus dengan sebab yang disyari’atkan. Contoh: ketika bersin disyariatkan membaca ‘alhamdulillah’, ketika hujan turun disyariatkan membaca ”Allahumma shoyyibannafi’an” .

Setelah kita mengetahui makna ibadah, syarat dan tata caranya agar ibadah kita diterima bahkan di cintai dan diridhai Allah, maka tak ada artinya tanpa kita memohon pertolongan kepada Allah agar dapat dimudahkan semua itu, karena berapa banyak Muslim yang tak mampu untuk melaksanakan Sholat dikarenakan tanpa pertolongan Allah, juga berapa banyak ibadah sholat yang kita lakukan tapi tidaklah khusyu’ dan benar caranya sesuai sunnah Nabi shallalahu ‘alaihi wa salam dikarenakan kita tidak mendapat pertolongan Allah. Maka isti’anah (meminta pertolongan) kepada Allah dalam setiap peribadahan sangat dibutuhkan oleh hamba agar kita menyandarkan diri kepada Allah untuk memperoleh manfaat dan menolak mudharat, disertai dengan tsiqah (keyakinan) bahwa Allah-lah yang mewujudkan hal tersebut.

Wa iyya Kanasta`in

“Dan hanya kepada-Mu lah Kami meminta pertolongan.”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Penyebutan Isti’anah setelah ibadah -padahal isti’anah itu juga termasuk ke dalam ibadah- adalah karena butuhnya hamba kepada istia’anah kepada Allah dalam setiap peribadahan. Sebab, tanpa pertolongan Allah, dia tidak akan memperoleh apa yang dia inginkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah tadi”

Allahu ‘alam

Faedah kajian : Hanya PadaMu, Kerennya Al Fatihah Part. 02 – Ustadz Ibnu Bakri

Banggalah Menjadi Muslim !

Bangga muslim2

Karena menjadi muslim adalah hidayah dari Allah,

“Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”  [QS Al An’aam : 125]

Banggalah menjadi muslim, karena Islam adalah satu-satunya agama yang paling sempurna seluruh syari’atnya, 

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.”  [QS. Al Maidah : 3]

Banggalah menjadi muslim, karena hanya Islam agama yang di ridhoi Nya,

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam“. [QS. Ali Imran : 19]

Banggalah menjadi muslim, karena Islam adalah agama yang paling haq (benar),

“Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk (taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.”  [QS. Ali Imran : 83]

Banggalah menjadi muslim, karena Allah menjamin umat Islam pasti masuk surga,

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Semua umatku pasti akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku pasti masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan (tidak mau masuk surga, pent).” [HR. Al-Bukhari no.6851]

Jadi,

Tidak ada alasan hanya berdalih toleransi yang kebablasan ; ‘semua agama sama benarnya, semua agama sama berserah diri, semua agama adalah rahmatan lil alamin, tidak ada kekafiran dan kalimat kufur semacamnya’, menyebabkan kita tidak pede dengan keislaman kita,

Namun,

Pastinya bukan hanya sekedar kebanggaan menjadi muslim, tapi seorang muslim diperintahkan untuk mengenal Islam beserta dalil-dalilnya, hingga wajib seorang muslim untuk tunduk dan taslim (berserah diri) secara sempurna; yakni patuh dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya secara lahir dan bathin dan tidak menolak sesuatu dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih.

‘Ya Muqollibal Quluubi Tsabbit Qolbiy ‘Alaa Diinika’.

“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi no.3522, imam Ahmad IV/302, Al-Hakim I/525. Lihat Shohih Sunan At-Tirmidzi no.2792).

Aku bangga menjadi muslim !

Titik Kulminasi

lone-mountaineer-at-summit

Saat kita telah mencapai puncak gunung, setinggi apapun puncak itu, akhirnya kita kembali turun

Sehebat cita yang telah kita raih dengan usaha, setinggi apapun yang terwujud, akhirnya kita akan menemukan titik jenuh

Secepat usia pertumbuhan kita, seperkasa apapun di usia muda, akhirnya mengalami penurunan mengikuti usia yang semakin lanjut

Bahkan pada urusan perut, sebanyak apapun makanan yang kita makan, akhirnya merasa kenyang dan berhenti makan

Begitulah kehidupan dunia, semua pada akhirnya akan kembali zero,

“Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit” [At-Taubah/9:38]

Bersegeralah menjauh dari fitnah jika memang tak mampu menjaganya

Tinggalkanlah dari hal yang sia-sia dan tiada manfaat jika memang lebih banyak mudharatnya

Kembalilah menjadi hamba yang zero, yang tak memiliki apa-apa

Jakarta, Sep 15, 2015

Membenci Penyimpangan Dengan Menyampaikan Kebenaran

true false

Merajut ukhuwah islamiyah, tidak mesti melunturkan untuk menyampaikan ciri penyimpangan yang ada pada sebuah kelompok yang menyimpang,

agar tetap terjaga ukhuwah islamiyah, kebenaran tetap disampaikan untuk membenci penyimpangan yang ada, bukan membenci saudara kita yang masih muslim

Sebuah kelompok dikatakan menyimpang, ketika ada isi ajarannya yang menyimpang dari Islam. Dan mereka lebih condong pada penyimpangannya tersebut.

Untuk mengetahui ciri-ciri penyimpangan, tidak ada jalan lain kecuali mengenali ciri-ciri kebenaran

Setiap ciri-ciri kebenaran akan mengungkap setiap ciri-ciri penyimpangan yang ada, tidak peduli apakah kita suka atu tidak

Ciri khas kelompok yang menyimpang; karena loyalnya mereka terhadap pemimpin, tokoh, kelompoknya, dan tidak loyalnya kepada kebenaran

Tugas seorang muslim hanya diminta untuk mengenali kebenaran agar tak jatuh padanya sebuah penyimpangan

Islam sepakat bahwa standar kebenaran adalah Al Quran dan As Sunnah, namun sebab jatuhnya penyimpangan karena kita lupa mengikuti keduanya dari pemahaman Sahabat

Berpegang kepada kebenaran adalah mengikuti jalannya orang-orang mu’min yang mereka adalah para sahabat radhyallahu’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (Salafush Shalih),

maka hanya karena satu masalah yang kita selisi dari jalannya orang-orang mukmin, akan sebabkan kita berada diatas penyimpangan

Allah memberikan bukti dengan firman-Nya,
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah nyata baginya al-hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min, niscaya akan Kami palingkan (sesatkan) dia ke mana dia berpaling (tersesat) dan akan Kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” {An-Nisa’ : 115}

kebenaran itu adalah kebenaran, dan kebatilan tetaplah menjadi kebatilan, yang tidak akan keduanya dicampuradukan

Arti Sebuah Kekalahan

sunnah

Jangan sedih dengan kekalahan, bisa jadi Allah sedang menghindari kita dari kemaksiatan jika diberi kemenangan

Tak perlu meratapi kekalahan, karena bisa jadi Allah menunda kemenangan dengan kita lebih taat dan lurus di jalan-Nya

Tak patut marah karena kekalahan, karena kita sedang menuai sebab amal-amal tholeh kita

Tidak perlu salahkan orang lain karena kekalahan, bisa jadi kemenangan mereka sadarkan kita agar lebih mengikuti jalan Islam yang benar

Kekalahan terjadi karena sebab jalan ‘rusak’ yang kita ikuti, Kemenangan hanya terjadi karena sebab jalan ‘lurus’ yang diikuti

Jangan lagi menambah kekalahan dengan jalan-jalan yang pasti akan kalah, mulailah mencari kemenangan dengan jalan Kebenaran

Pilihlah kemenangan hakiki yang hanya bisa diraih dengan cara-cara syari’, bukan hanya simbol kemenangan yang justru menjadikan kekalahan abadi

Kalah bukan berarti menyerah,

Kalah bukan berarti harus marah,

Kalah bukan berarti musuh lebih hebat dari kita

Kekalahan bisa jadi karena Allah sedang memberikan hikmah, dan penyebab kekalahan adalah kita sendiri yang salah

Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabadikan dua kejadian perang yang terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan Firman-Nya :

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. (QS Ali Imran [3]: 165)

Allah menjelaskan dalam ayat  tersebut bahwa sebab kekalahan kaum muslimin adalah karena kesalahan kaum muslimin itu sendiri, sebabnya adalah karena mereka tidak mengikuti  perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka menyelisihi perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah pun menimpakan kekalahan kepada mereka saat itu.

Lihatlah, hanya karena kekhilafan mereka terhadap perintah Nabi, saat itu pula Allah menimpakan kekalahan kepada mereka saat itu.

Bagaimana lagi saat ini, saat kesyirikan merajalela di tengah kaum muslimin, praktik bidah menjadi warna ibadah dan maksiat menjadi sesuatu yang lumrah? laa hawla walaa quwwata illa billah…

Sumber bacaan (dengan penambahan): http://www.radiorodja.com/sebab-kekalahan-kaum-muslimin-di-zaman-sekarang-khutbah-jumat-ustadz-abu-yahya-badrusalam-lc/#ixzz3B5FGkJYX

Siapa Pemimpinmu ?

Semua akan berharap pemimpin yang ta’at, sholeh, adil, wibawa, berakhlak mulia, takut kepada Allah, tidak zhalim, tidak korupsi dan segala macam kebaikan-kebaikannya,,

Tapi kita -yang berharap- justru banyak meninggalkan keta’atan dan banyak berbuat maksiat, apa mungkin mendapatkan pemimpin harapan tersebut?

Pemimpin kita adalah cerminan dari kita (rakyatnya)

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.[ Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178, Ibnul Qayyim]

Jadi tidak usah heran kalau pemimpin atau calon pemimpin kita masih banyak kekurangan dari criteria yang diharapkan, bahkan dzalim, hal ini dikarenakan dosa-dosa yang kita lakukan.

Allah ta’ala berfirman,

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129).

Masih ada waktu dan saatnya mengoreksi diri sendiri dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalah kita (rakyatnya) sesuai yang Allah ridhoi, insyaAllah pemimpin yang diharapkan akan diberi ALlah

Allah berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du : 11)

great-leader

Awan Tag