Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Archive for November, 2011

Ketika Mata Hati Terbuka

Sepanjang perjalanan hati, banyak sudah lewati hari-hari dengan berbagai macam suasana hati.

Di saat hati ini mati –  ketika suasana hati yang marah, tidak penyabar, bodoh, egois, jauh dari ketaatan dan nilai-nilai kebaikan, bahkan tidak dapat menerima kebenaran

Di saat hati ini sakit –  ketika suasana hati bercampur aduk diantara kebaikan dan keburukan. Kadang banyak memikirkan dan melakukan kebaikan-kebaikan itu, kadang lebih banyak terdiam tanpa berbuat sesuatu dan bahkan kadang lebih sering melakukan keburukan-keburukan

Aku tidak mengatakan bahwa hati ini telah sehat dari hati yang mati dan sakit, namun aku meyakini ketika mata hati kita terbuka maka hati yang mati dan sakit dapat menjadi hati yang sehat, yaitu tatkala suasana hati yang sabar, yang taat, yang ingin selalu belajar, dan yang mau menerima kebenaran-kebenaran

Aku selalu ingin memahami dan beramal sempurna dengan hadits ini,

“Ketahuilah di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”  [HR. Bukhari, Muslim]

 

Ketika mata hati terbuka,

Bukan lagi keinginan yang kita inginkan, tapi kenyataan yang harus kita lakukan

Dan ketika mata hati terbuka,

Aku menginginkan banyak menjumpai kebaikan demi kebaikan di sisa-sisa hari dan waktu-waktu yang telah Allah berikan

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” {QS. Al Hajj (22) : 46}

Tentang Waktu

Ketika kita banyak di beri waktu luang, kita pun beralasan ‘tidak punya waktu’.

Padahal, sepanjang hari yang telah terlewati -mungkin kemarin, hari ini dan esok lusa- banyak waktu yang telah terbuang sia-sia tanpa menjadi bermakna dan bermanfaat. Begitu berharganya waktu itu, yang dengannya -waktu- kita telah melewatinya dan akan melaluinya. Tidak ada seorangpun yang akan luput dari waktunya.

Aku tersadar! bahwa ternyata selama sepanjang usiaku begitu banyak waktu kehidupan ini terlewati tanpa hikmah yang bermakna, lalu aku bertanya ‘apa yang harus aku lakukan dengan sisa-sisa waktuku?’

Ibnu mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,  “Tidaklah aku menyesali atas sesuatu seperti penyesalanku atas berlalunya satu hari dan mataharinya terbenam, umurku berkurang, akan tetapi tidak bertambah amalanku pada hari itu.”

Hasan Al Basri rahimahullah berkata, Wahai anak adam sesungguhnya kalian adalah kumpulan hari demi hari. Tatkala berlalu suatu hari maka berkuranglah umurmu

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Sesungguhnya siang dan malam itu berbuat padamu (terus berputar bergantian lenyap) maka beramallah pada siang dan malam.”

Berkata Yahya -guru Ibnul Jauzi-, “Waktu akan semakin berharga bila dijaga dengan baik, tapi aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah dilalaikan.”  [Dzail Thobaqotil Hanabilah, 1:281]

Begitu berharganya perkara waktu yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala telah berikan kepada kita, karena setiap dari waktu kita pasti dipertanyakan dan dimintai pertanggungjawabannya.

Rasulullah َShallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

“Tidaklah bergeser telapak kaki bani Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan apa yang ia perbuat dengan ilmu-ilmu yang telah ia ketahui” [HR. At Tirmidzi no. 2416 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 947]

Bahkan semua manusia tanpa terkecuali akan celaka (rugi) dengan waktunya. Allah subhanahu wa ta’ala tidak memandang agama, jenis kelamin, status, martabat, dan jabatan, melainkan Allah mengkhabarkan bahwa semua manusia itu dalam keadaan celaka !

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), “ {QS. Al ‘Ashr : 1}

Karenanya setelah kita diberi waktu -umur dan kehidupan-  maka sebenarnya semua kondisi itu begitu merugikan -jika tidak kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan waktu itu-. Maka merekalah orang-orang yang beruntung, yakni orang-orang yang tahu untuk apa waktunya ia gunakan,

  • Beriman dan berilmu
  • Beramal Shalih
  • Saling menasehati dalam kebenaran, dan
  • Saling menasehati dalam kesabaran

“kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” {QS. Al ’Ashr : 2-3}

Begitu berharganya waktu yang ia merupakan salah satu kenikmatan yang telah Allah subhanahu wa ta’ala berikan. Di dalam setiap detik, menit, jam, bahkan di sisa hari-hari yang akan kita lalui. Adakah dari waktu-waktu itu menjadi bermanfaat bagi kita? Atau justru kita banyak melalaikannya?

Dari Ibnu Abbas, dia berkata,  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang” [HR. Bukhari No: 5933]

Sudahkah Kita Bersikap Adil?

Sikap yang paling banyak kita lupakan di dalam beragama (Islam) adalah sikap adil. Padahal kita tahu salah satu karakteristik agama Islam adalah keadilan (bersikap pertengahan)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” {QS. Al Baqarah:143}

Adil dan keadilan tidak asing di telinga kita; baik itu hanya berupa slogan maupun perbuatan nyata, namun, sikap adil yang banyak kita jumpai hanya sebatas adil secara sosial (muamalah) tanpa menyentuh i‘tiqad dan Ibadah.

Apakah dikatakan adil jika sudah saling bertoleransi bahwa semua agama sama benarnya?

Apakah dikatakan adil jika sudah saling memahami masing-masing aqidah dan cara ibadah saudaranya yang berbeda?

Apakah dikatakan adil jika sudah bisa berkompromi di antara pihak yang bersengketa kemudian diganti dengan konsep take and give?

Apakah dikatakan adil jika jatah pembagian kursi sudah sesuai porsi kepentingan masing-masing?

Apakah dikatakan adil jika sudah menyampaikan keburukan-keburukan Penguasa yang tidak adil di depan publik?

Apakah dikatakan adil jika sudah ikut menegakkan amar maruf nahi mungkar dengan merusak tempat-tempat kemaksiatan?

Apakah dikatakan adil jika sudah meng-hajr (memperingati) dengan keras saudaranya yang jatuh dalam kesalahan?

Apakah dikatakan adil jika lebih memilih diam atas kesalahan-kesalahan saudaranya dengan memilih eksklusif diri sendiri/kelompoknya?

 

Sikap Adil Apa Yang Menjadi Karakteristik Agama Islam itu Sendiri?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا… {143}

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….” {QS. Al Baqarah: 143}

Wasathan bermakna umat yang adil dan pilihan. Dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama tafsir. Umat wasathan bermakna pertengahan antara dua kutub; kutub ekstrim dan kutub menyepelekan [Jâmi’ul Bayân fi Tafsîr Al-Qur`ân Al-Karîm 2/5-6]

Islam adalah agama yang menyerukan kepada semua kebaikan dan meninggalkan semua kejelekan, untuk inilah syariat diturunkan, maka, makna adil dalam islam adalah pertengahan diantara dua golongan yang berlebih-lebihan (ifroth) dan golongan yang meremehkan (tafrith)

Inilah makna ayat sebagaimana yang ditafsirkan oleh salafussholih seperti: Ibnu Abbas, Mujahid, Said Ibnu Zubair, Qotadah dan yang lainnya.

Demikianlah kita dapatkan di dalam ajaran Islam yang mengedepankan sikap adil dan pertengahan dari ifroth dan tafrith dalam semua sendi kehidupannya. Sikap adil (pertengahan) inilah yang membedakan ajaran Islam dengan ajaran lainnya sebagaimana disebut di dalam ayat di atas.

Sebagaimana para sahabat adalah umat yang terbaik, dan tidaklah kebaikan ada pada para sahabat kecuali keadilan ada di dalamnya;

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” {QS. Ali Imran:110}

Perumpamaan adil dan pertengahan agama (islam) ini sebagaimana diibaratkan lembah diantara dua bukit, hidayah diantara dua jalan kesesatan, dan gambaran keadilan agama ini sangatlah banyak yang meliputi semua perkara di dalam sendi kehidupan.

Sifat adil Islam pada seluruh aspek dan bidang yang dibutuhkan oleh manusia; Aqidah, ibadah, mu’amalat, pemerintahan, perekonomian, hukum, pernikahan, dsb. Bahkan adil dalam masalah cara membelanjakan harta, Islam juga telah mengaturnya di atas dasar pertengahan tersebut, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” {QS. Al Furqaan : 67} 

Demikianlah di setiap ajaran yang ada di dalam syariat sesuai dengan keadilan, karena agama ini adalah agama fitroh bagi manusia,

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan Dia (Alloh) sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan”. {QS. Al Hajj : 78}

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidaklah Allah mengutusku untuk menyulitkan dan saling menyulitkan, akan tetapi mengutusku sebagai seorang pengajar yang memudahkan” (HR. Muslim)

 

Sikap Adil (Pertengahan) Islam Diantara Umat Yahudi dan Nashrani

Ditunjukan didalam QS. Al Faatihah : 7, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

Umat Islam adalah umat yang berada dipertengahan antara umat Yahudi (yang dimurkai) dan Nasrani (yang tersesat). Dalam permasalahan tauhid kepada Allah dan sifat-sifat-Nya, umat Islam bersikap pertengahan antara Yahudi dan Nashrani. Yahudi menyifati  Allah Ta’ala dengan sifat kekurangan yang dimiliki makhluk sehingga mereka menyamakan Allah dengan makhluk. Adapun Nashrani menyifati makhluk dengan sifat Al Kholiq (Yang Maha Pencipta), mereka samakan makhluk dengan Allah

Maka Islam pertengahan di antara keduanya. Islam mentauhidkan Allah semata dan mensucikan-Nya dari seluruh sifat kekurangan. Islam tidak menyamakan sifat Allah dengan makhluk. Karena tidak ada satupun yang menyerupai Allah dzat, sifat, & perbuatan-Nya.

Dalam hal keimanan terhadap para Nabi, umat Islam bersikap pertengahan antara Yahudi dan Nashrani. Yahudi membunuh nabi-nabi mereka dan sombong, sedangkan Nashrani bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap Nabi mereka, maka mereka pun menjadikannya sebagai Tuhan.

Maka Islam mendudukkan nabi-nabi sesuai dengan kedudukannya bahwa mereka semua adalah hamba Allah sekaligus rasul.

Dalam urusan ibadah, umat Islam bersikap pertengahan antara Yahudi dan Nashrani. Yahudi berilmu tetapi tidak mau beramal,  sedangkan Nashrani tidak memiliki ilmu sehingga beribadah kepada Allah di atas kejahilan (tanpa ilmu).

Maka  Islam bersikap pertengahan diantara mereka, yakni berilmu dan beramal diatas kebenaran yang diturunkan oleh Allah ta’ala.

 

Sikap Adil (Pertengahan) Ahlus Sunnah

Namun demikian sikap adil Islam tidak hanya berada di antara Umat Yahudi dan Nashrani, tapi sangat mungkin terjadi di tubuh kaum Muslimin sendiri. Demikian pula keadaan Ahlus sunnah wal jama’ah di tengah firqah-firqah yang ada, mereka bersikap adil.

Bagaimana sikap adil Ahlussunah diantara Ahlu ta’thil dan Ahlu tamsi dalam keimanan terhadap Nama dan Sifat Allah?

  • Ahlus sunnah adil dalam menetapkan dan menafikan, mereka menetapkan nama dan sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk.

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara Qodariyyah dan Jabariyyah dalam memahami Takdir Ilahi?

  • Allah Ta’ala berfirman dalam memahami takdir di dalam firman-Nya;  “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menempuh jalan yang lurus dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki oleh Allah.” {QS. At Takwiir : 28-29}

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara Murjiah dan Wa’idiyyah dalam memaknai Janji dan Ancaman Allah?

  • Ahlussunnah bersikap adil dengan menggabungkan antara sikap khauf  (takut) dan raja’ (pengharapan)

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara Murjiah dan Wa’idiyyah dalam mengelari dan menghukumi seseorang?

  • Dalam menggelari seorang di dunia, Ahlussunnah memutlakkan pelaku dosa besar tetap mukmin, namun mukmin yang tidak sempurna imannya.
  • Sedangkan pelaku dosa besar di akhirat, Ahlus sunnah berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar, bisa mendapat adzab atau rahmat Allah berupa ampunan.

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara Syi’ah dan Khawarij dalam menyikapi para sahabat?

  • Ahlus sunnah adil mencintai para sahabat, meridhai mereka, meyakini keadilan mereka, umat yang paling utama, namun pribadi mereka tidak mas’um.

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara sikap ifroth dan tafrith dalam masalah Amar Ma’ruf nahi mungkar?

  •  Ahlussunnah adil melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, namun dengan memperhatikan beberapa aturan syari’at yang ada.

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara sikap ifroth & tafrith dalam masalah Jihad?

  • Ahlussunnah adil bahwa Jihad merupakan puncak kekuatan dan kemuliaan Islam,  harus memenuhi syarat-syarat syari’ dan dipimpin oleh Penguasa.

 

Dengan bukti karakteristik Islam tentang sikap adil (pertengahan) inilah kita bisa bercermin pada diri sendiri, sudah bersikap adil kah kita?

Tanpa perlu menyinggung sebagian dari kita, mari mulai dari diri kita sendiri tentang sikap adil (pertengahan) ini dan berlapang dadalah, karena jangan-jangan kita bisa bersikap adil pada satu perkara, namun tidak adil pada perkara yang lain. Wallahu Ta’ala ‘alam.

Kebanyakan Manusia …

Terasa sekali bahwa tubuh dan hati ini belum banyak mengenal kelemahan diri, karena masih seringnya mengikuti persangkaan diri serta kebanyakan manusia. Persangkaan diri karena pendapat pribadi merasa paling benar sendiri, tanpa menyangka bahwa sejatinya kebanyakan manusia pun memiliki persangkaan yang sama.

Persangkaan kebanyakan manusia yang asalnya kumpulan persangkaan diri telah menjadi standar dalam menilai suatu kebenaran. Namun, bagaimana mungkin manusia sanggup menilai suatu kebenaran sekalipun dengan persangkaan kebanyakan manusia. Padahal, mengikuti persangkaan kebanyakan manusia bukanlah merupakan standar dari suatu kebenaran. Bahkan, Dzat yang paling mengetahui standar suatu kebenaran banyak mengabarkan bahwasannya kebanyakan sifat manusia memiliki kelemahan (buruk)

Perhatikanlah | bagaimana sifat kebanyakan manusia yang telah Allah subhanahu wa ta’ala kabarkan di dalam firman-firman-Nya;

  • Kebanyakan Manusia Hanya Mengikuti Persangkaan Dirinya Saja

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” (QS. Yunus:36)

  • Kebanyakan Manusia Tidak Mengetahui (Perduli) Terhadap Kebenaran, Tidak Mau Mencarinya dan Tidak Mau Menelitinya

“Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah: ‘Unjukkanlah hujjahmu! (Al Quran) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku.’ Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling” (QS. Al Anbiyaa’:24)

  • Kebanyakan Manusia Tidak Berilmu (Mengetahui Agama), Kecuali Hanya Mengetahui Perkara Dunia

“(Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  (QS. Ar Ruum:6)

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum:7)

  • Kebanyakan Manusia Tidak Bersyukur

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (QS. Al Baqarah:243)

  • Kebanyakan Manusia Lalai Mengingat Allah

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami” (QS. Yunus:92)

  • Kebanyakan Manusia Itu Fasik

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik” (QS. Al Maa’idah:49)

  • Kebanyakan Manusia Menyesatkan

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’aam:116)

  • Kebanyakan Manusia Hendak Menyesatkan Orang Lain Dengan Hawa Nafsunya

“Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al An’aam:119)

  • Kebanyakan Manusia Tidak Beriman

Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. (QS. Huud:17)

  • Kebanyakan Manusia Masih Berbuat Syirik Dan Tidak Mengetahui Kesyirikan

“Dan sebagian besar dari mereka (manusia) tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan menyekutukan Allah (dengan sesembahan-sesembahan yang lainnya).” (QS. Yusuf:106)

  • Kebanyakan Manusia Mengingkari Al Quran Dan Tidak Menjadikannya Sebagai Petunjuk Hidup

“ Dan sesungguhnya Kami telah mengulang ulang kepada manusia di dalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai selain mengingkari (QS. Al Israa’:89)

  • Kebanyakan Manusia Mengingkari Berjumpa Dengan Allah

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya” (QS. Ar Ruum:8)

  • Kebanyakan Manusia Mengingkari Nikmat

“Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran; maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat) (QS. Al Furqaan:50)

Setelah kita mengetahui kebanyakan manusia dengan sifat-sifat lemah dan buruknya, akankah kita masih meyakini bahwa standar kebenaran adalah karena kebanyakan manusia?

Tidaklah Allah ta’ala memberikan khabar tentang kebanyakan sifat-sifat hamba-Nya yang lemah dan buruk, kecuali agar hamba-Nya kembali kepada sifat-sifat kebenaran yang mutlak yakni Al Qur’an dan Sunnah

Rusaknya Pemikiran Liberalisme Tentang Ibadah Qurban

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah menyempurnakan syariat-Nya di atas agama yang haq yakni Islam

Allah Ta’ala berfirman :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al Maa’idah [5]:3)

Begitupula dengan kesempurnaan syariat Ibadah qurban yang telah Dia syari’atkan di dalam ayatnya yang mulia

Allah Ta’ala berfirman :

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (Qs. Al Kautsar [108]: 2).

Namun sangat disayangkan, syari’at ibadah qurban yang sempurna dan agung ini hendak dikotori oleh pemikiran-pemikiran kotor para kaum liberalis yang salah satunya apa yang ditulis oleh Luthfi Assyaukanie dengan judul Memikirkan Kembali Pelaksanaan Kurban [lihat http://www.assyaukanie.com/articles/memikirkan-kembali-pelaksanaan-kurban]

Apa yang ada dalam artikel tersebut sungguh akan mengecilkan makna qurban yang telah di syari’atkan oleh Allah, bahkan dengan akal dan hatinya yang telah rusak, Luthfi Assyaukanie hendak mengatakan bahwa ibadah qurban merupakan Warisan Kuno yaitu  “Pengurbanan dalam bentuk penyembelihan hewan untuk kemudian dipersembahkan kepada kekuatan gaib (tuhan, dewa, jin, setan, dll)”

Lebih rusak lagi Luthfie Assyaukanie menyatakan bahwa “Ketika Islam datang, ritual pengurbanan (warisan kuno –pen) tetap dilestarikan, tapi dengan sedikit modifikasi”

Masih belum puas dengan kerusakan pemahamannya tentang ibadah qurban, lebih lanjut Luthfie Assyaukanie mengatakan:

“Apa yang dilakukan Islam saat itu dengan mengubah orientasi pengurbanan dari “metafisis” menjadi kegiatan bersifat “sosial” merupakan langkah besar. Islam tak hanya mengurangi (jika tak menghilangkan sama sekali) unsur-unsur mitis dalam pengurbanan, tapi juga memberdayakan ritual keagamaan menjadi kegiatan sosial yang positif”

Perhatikanlah bagaimana Luthfie Assyaukanie sudah tidak dapat membedakan lagi mana yang haq dan mana yang bathil, sehingga dengan pemikiran filsafatnya ia mengatakan bahwa ibadah qurban yang agung ini pada asalnya merupakan warisan kuno yang mengandung unsur-unsur mistis, hanya saja Islam memodifikasi sedikit. Demikianlah kira-kira apa yang menjadi pemikiran bathilnya.

Maka Luthfie Asyyaukanie di dalam artikelnya tersebut tidak sungkan untuk memberikan contoh ritual-ritual pengurbanan dari warisan kuno; “Peradaban Maya di Meksiko biasa menyelenggarakan upacara kurban dengan menceburkan anak perawan ke sungai atau ke sumur tua. Di India, penyembelihan anak-anak (sebelum kemudian diganti dengan hewan) untuk dipersembahkan kepada kekuatan gaib”

Bagi orang-orang yang telah diberikan ilmu dan keimanan tentu akan mengetahui apa maksud dan arah sebenarnya yang diinginkan Luthfie Asyyaukanie di dalam artikelnya tersebut (Memikirkan Kembali Pelaksanaan Kurban –pen). Ya, tidak lain dan tidak bukan bahwa faham Liberalisme melalui lisan tokohnya Luthfie Assyaukanie hendak merubah syari’at yang telah sempurna dan agung ini dengan dalih ‘ijtihad’ yang mereka sendiri dibutakan oleh pemahaman yang benar mengenai ‘ijtihad’

Sangat jelas sekali bagaimana Luthfie Assyaukanie ingin mengecilkan bahkan mengganti tata cara pelaksanaan ibadah qurban yang agung ini dari maksud-maksud yang tertangkap dengan jelas di dalam tulisannya tersebut, (inilah cara-cara kaum liberalisme);

Pertama, Seperti sudah kebiasaan kaum liberalisme ketika membicarakan perkara syari’at agama, maka tidak satupun dalil dari Al qur’an dan Hadits yang dibawakan dalam mendukung ‘pemikirannya’ tersebut, atau jikapun ada tapi dengan pemahaman yang salah kaprah.

Lihatlah dalam artikel tersebut (Memikirkan Kembali Pelaksanaan Kurban –pen) yang ditulis Luthfie Assyaukanie, berbicara tentang perkara syari’at Qurban tanpa secuilpun ayat dan hadits,apalagi penjelasan Ulama. Justru sebaliknya hanya berbekal ‘akal dan hawa nafsunya’ (yang memang sudah sakit) sehingga menjatuhkannya pada pemikiran rusak bahwa ibadah qurban tidak beda dengan warisan kuno yang maknanya menyamakan bentuk pengurbanan kepada dewa, jin, setan.

Kedua, Sudah barang tentu ketika berbicara tentang syari’at agama tanpa dalil yang jelas dan shahih dengan penjelasan para Ulama, maka akan sangat memudahkan ‘keinginan kotornya’ untuk ‘mengecilkan’ bahkan meniadakan syari’at tersebut yang biasanya diikuti dengan logika ‘buruk’ dan ‘negatif’ yang bisa ditangkap oleh sebagian orang awam.

Seperti apa yang diinginkan dalam tulisan tersebut, maka kesan ‘kotor’, ‘jorok’, ‘horor’ dan ‘sadisme’ pun terlontar dari Luthfie Assyaukanie mengkritisi pelaksanaan ibadah qurban yang dilakukan di tempat-tempat umum oleh kaum muslimin, bahkan menyamakan kaum muslimin yang melakukan tata cara pelaksanaan ibadah qurban akan sama halnya dengan pengurbanan sebagai ritus persembahan hewan kepada kekuatan gaib (dewa, jin, setan –pen) dan akan kecewa jika obyek kurban diganti.

Ketiga, Dengan beralasan hendak ‘memperbaiki’ yang membawa-bawa ijtihad, tentu arahnya sudah jelas seperti apa yang di inginkan oleh kaum liberalis, yakni merubah tata cara ibadah qurban yang telah sempurna ini.

Perhatikanlah apa yang di inginkan Luthfie Assyaukanie sebenarnya yang sudah bersusah payah membahas pelaksanaan ibadah qurban, tujuannya tidak lain hanya ingin ‘ber-ijtihad’ mengganti pelaksanaan ibadah penyembelihan hewan qurban yang selama ini telah dilakukan dengan semangat oleh kaum muslimin dengan obyek ‘qurban’ lain yang semisal harta benda berharga, karena menurutnya penggantian ini adalah makna hakiki dan tujuan dasar dari udhiyah yang dikembangkan Islam [?]

Benarlah apa yang Allah firmankan tentang sifat-sifat mereka yang beralasan hendak ‘mengadakan perbaikan’, nyatanya Allah telah membantah di dalam ayatnya yang mulia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.’” (QS Al-Baqarah [2]: 11-12).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “..maka jika mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah (maksiat) berarti mereka telah mengusahakan (sesuatu yang menyebabkan) kerusakan dan kehancuran di muka bumi [Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” hal. 759]

 

Benarkah Ibadah Qurban Merupakan Warisan Kuno ?

Tidak ada satupun dalil yang menghubungkan tentang sejarah ibadah qurban dengan warisan kuno yang dipersembahkan kepada kekuatan gaib (tuhan, dewa, jin, setan, dll)”. Maka bagi orang yang beriman akan sangat mengetahui bahwa penyembelihan hewan qurban, bila dirunut sejarahnya, tidak lepas dari sosok Nabi Ibrahim dan putra beliau Nabi Ismail. Sebagaimana yang Allah beritakan dalam kitab suci Al-Qur`an:

 “Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai (pada umur sanggup) untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, berkatalah Ibrahim: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat [37]: 102-109)

Barangsiapa mempelajarinya dengan seksama (mentadabburinya) niscaya akan mendulang mutiara hikmah dan pelajaran berharga darinya (ibadah qurban –pen), terkhusus pada sejumlah momen di bulan Dzulhijjah yang hakikatnya tak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihisalam.

Dengan sekian keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihisalam itulah, Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad untuk mengikuti agama beliau. Sebagaimana firman Allah :

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (An-Nahl [16]: 123)

Renungkanlah bagi orang yang memiliki akal sehat, bahwa perintah ibadah qurban yang telah Allah syari’atkan (QS. Al Kautsar [108]:2) merupakan hikmah mencontoh bapak kita Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang diperintahkan agar menyembelih buah hatinya (anaknya) yang mana sudah menjadi keyakinan bagi orang yang beriman tentang kisah-kisah agung dari Nabi Ibrahim ‘alaihisalam sebagai peneguhan nyata akan tauhid, ketaatan dan keimanan yang luar biasa kepada Allah mewujud pada tindakan yang niscaya akan teramat berat ditunaikan manusia pada umumnya. Sebuah keteladanan yang mesti kita tangkap dan nyalakan dalam kehidupan kita.

Bandingkan, dengan pemikiran kaum liberalis yang menyamakan hikmah ibadah qurban yang agung dengan ‘qurban’ warisan kuno yang dipersembahkan kepada kekuatan gaib (dewa, jin, setan, dll)”. Padahal Nabi Ibrahim ‘alaihisalam merupakan sosok pembawa panji-panji tauhid. Perjalanan hidupnya yang panjang sarat dengan dakwah kepada tauhid dan segala liku-likunya. sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan bertaqwalah kalian kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mau mengetahui. Sesungguhnya apa yang kalian ibadahi selain Allah itu adalah berhala, dan kalian telah membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu memberi rizki kepada kalian, maka mintalah rizki itu dari sisi Allah dan beribadahlah hanya kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan. Dan jika kalian mendustakan, maka umat sebelum kalian juga telah mendustakan dan kewajiban Rasul itu hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.” (Al-‘Ankabut [29]: 16-18)

Sungguh, telah rusaklah akal dan hati para kaum liberalis yang mengatakan sama antara inti Ibadah Tauhid dengan kesyirikan yang nyata.

Bolehkah Mengganti Hewan Qurban Dengan Obyek ‘Qurban’ Lain ?

Inilah pemikiran yang paling bathil (rusak) ketika suatu ibadah yang sifatnya tauqifiyah yang artinya tidak bisa ditetapkan kecuali apabila dilandasi dengan dalil dari Sang pembuat syari’at dan jelas-jelas telah tersusun sempurna dari sisi tata cara pelaksanaannya ingin di rubah hanya berdasar akal semata.

Qurban merupakan salah satu sembelihan yang disyariatkan sebagai ibadah dan amalan mendekatkan diri kepada Allah. Hal inilah yang dinyatakan Ibnul Qayyim dalam pernyataannya:  

Sembelihan-sembelihan yang menjadi amalan mendekatkan diri kepada Allah dan ibadah adalah Al-Hadyu, Al-Adhhiyah (Kurban) dan Al-Aqiqah” [Lihat Abdul Aziz bin Muhammad Ali Salman, Ithaf Al-Muslimin Bima Tayassara Min Ahkam Ad-Din, Ilmun wa Dalilun, Cet. II, Th 1403H, hal. 2/505]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (Qs. Al Kautsar [108]: 2).

Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi.

Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Hewan qurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak tertentu) yaitu onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406)

Dalilnya adalah firman Allah yang artinya,

“Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (QS. Al Hajj [22]: 34)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’, III/409)

Perhatikan! Hanya untuk mengganti hewan-hewan qurban yang telah di syariatkan dengan hewan selainnya saja tidak sah! Apalagi ingin mengganti dengan ‘obyek’ qurban dari harta benda lainnya!

 

Benarkah Penyembelihan Hewan Qurban merupakan Pentas Horor dan Sadisme ?

Tidak ada seorang manusia yang memiliki pemikiran seperti ini kecuali telah rusak akal dan hatinya karena virus-virus pemikiran kotor, horor dan sadisme di dalam dirinya.

Tidakkah diketahui bahwa syari’at islam adalah agama yang rahmat, bahkan kepada hewan? Maka Islam men-syari’atkan adab dan tata cara penyembelihan hewan qurban yang tidak boleh menyakiti hewan qurban

Dari Syadad bin Aus, beliau berkata,

Ada dua hal yang kuhafal dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Sesungguhnya Allah itu mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Demikian pula, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian tajamkan pisau dan kalian buat hewan sembelihan tersebut merasa senang” (HR Muslim no 5167).

Bahkan ketika akan menyembelih disyari’akan membaca do’a “Bismillaahi wallaahu akbar”.hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir – Allahu akbar – para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir ketika menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib. Kemudian diikuti bacaan hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud 2795) Atau hadza minka wa laka ‘anni atau ‘an fulan (disebutkan nama shahibul qurban).”

Begitupula tempat yang disunnahkan untuk menyembelih adalah tanah lapangan tempat shalat ‘ied diselenggarakan. Terutama bagi imam/penguasa/tokoh masyarakat, dianjurkan untuk menyembelih qurbannya di lapangan dalam rangka syi’ar kepada kaum muslimin bahwa qurban sudah boleh dilakukan dan mengajari tata cara qurban yang baik. Ibnu ‘Umar mengatakan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyembelih kambing dan onta (qurban) di lapangan tempat shalat.” (HR. Bukhari 5552).

Dan dibolehkan untuk menyembelih qurban di tempat manapun yang disukai, baik di rumah sendiri ataupun di tempat lain. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/378)

Demikianlah apa yang telah disyariatkan di dalam agama ini tentang ibadah qurban yang merupakan salah satu ibadah agung di bulan Dzulhijjah (salah satu bulan mulia dalam Islam). Karena di dalamnya terdapat amalan-amalan mulia; shaum Arafah, haji ke Baitullah, ibadah qurban, dan lain sebagainya. Maka, apakah ibadah qurban yang hakikatnya adalah bukti ketauhidan seorang hamba kepada Rabb-nya ingin dipersamakan dengan ritual-ritual ‘qurban’ yang mengandung kesyirikan?

Allah berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al An’am [6]: 162-163)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat orang yang menyembelih binatang untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

Semoga Allah tetap menegakkan syari’at-Nya di atas muka bumi di dada-dada kaum muslimin dan dijauhkannya dari segala kerusakan kaum munafik. Wallahu ta’ala ‘alam

Referensi pendalilan:

Awan Tag