Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

“..malu itu salah satu cabang keimanan.” (HR. Al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 35)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri adalah seorang yang memiliki sifat sangat pemalu. Digambarkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu sifat malu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya. Bila beliau tidak menyukai sesuatu, kami bisa mengetahuinya pada wajah beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 6119 dan Muslim no. 2320)

“Sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari ucapan nabi-nabi yang terdahulu adalah ‘Apabila engkau tidak malu, maka lakukan apa pun yang engkau mau’.” (HR. Al-Bukhari no. 6120)

Jadi apa sebenarnya malu itu? Bukankah banyak pula tabiat pemalu ini ada didiri kita? Merasa malu karena tidak PD (Percaya Diri –pent) dalam pergaulan, merasa malu karena tidak terlihat sukses oleh teman-temannya, malu karena melihat ayahnya berjenggot dan ibunya berhijab syari’, merasa malu karena tidak moderen mengikuti perkembangan zaman.. dan masih banyak rasa malu yang seperti ini..

Apakah malu yang seperti ini yang dimaksud dalam hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam?

Sebenarnya apa malu itu?

Para ulama menjelaskan makna malu sesuai syariat :

“Malu hakikatnya adalah akhlak yang dapat membawa seseorang untuk meninggalkan perbuatan tercela dan mencegahnya dari mengurangi hak yang lainnya.” Demikian dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin, Kitabul Adab Bab Al-Haya` wa Fadhluhu wal Hatstsu ‘alat Takhalluqi bihi.

Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullahu mengatakan –sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu–, “Yang dapat mencegah seseorang terjatuh dalam kejelekan adalah rasa malu.Sehingga bila dia tinggalkan rasa malu itu, seolah-olah dia diperintah secara tabiat untuk melakukan segala macam kejelekan.” (Fathul Bari, 10/643).

Malu adalah menahan diri dari perbuatan jelek. Dan ini merupakan kekhususan yang dimiliki manusia agar dia dapat berhenti dari berbuat apa saja yang dia inginkan, sehingga dia tidak akan seperti hewan. (Fathul Bari, 1/102)

Maka tidaklah semua makna malu yang sesuai syariat itu kecuali membawa kebaikan, karena malu termasuk keimanan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Malu itu tidaklah datang kecuali dengan membawa kebaikan.” (HR. Al-Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37)

Demikianlah rasa malu yang mendapat pujian dari syariat ini. Tetapi, ke mana perginya rasa malu yang dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya itu dari sebagian diri kita sekarang ini?

Malu karena tidak taat dengan men-Tauhidkan Allah yang telah memberikan banyak kenikmatan

Malu karena amal ibadah dan muamalah kita tidak sesuai contoh Rasul shalallahu ‘alaihi wasalam, padahal dari beliaulah syariat ini turun

Malu karena masih banyak sunnah-sunnah Nabi yang sudah kita ketahui namun tak kunjung pula kita amalkan bahkan banyak menyelisihinya

Malu karena kita tidak berakhlak mulia kepada manusia baik dalam bergaul maupun memberi nasehat

Malu karena seringnya kita lalai dalam ibadah-ibadah yang wajib

Malu karena kita tidak berpakaian sesuai syari’, justru kita tidak malu mempertontonkan aurat kita di depan umum

Malu karena seringnya kita membiarkan anak-anak kita jauh dari tuntunan agama, justru mendukung dan membiarkan mereka tenggelam dalam urusan-urusan yang terlarang

Dan masih banyak perintah-perintah syari’at yang kita tinggalkan, dan melakukan terang-terangan larangan  syari’at yang seharusnya membuat kita malu. Bukankah jika rasa malu seperti ini akan membuat kita kehilangan iman ? 

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan:
“Malu dan iman itu senantiasa ada bersama-sama. Bila hilang salah satu dari keduanya, hilang pula yang lainnya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 1313)

Semoga Allah senantiasa menghiasai diri kita dengan rasa malu yang dengannya meraih surga-Nya..

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Malu itu termasuk keimanan, dan keimanan itu tempatnya di surga, sementara kekejian itu termasuk kekerasan, dan kekerasan itu tempatnya di neraka.” (HR. At-Tirmidzi no. 2009, dishahihkan Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Sumber bacaan :

– Berhiaslah Dengan Rasa Malu http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=501

– Kajian Kitab Riyadush Shalihin Jilid 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: