Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Aqidah yang benar merupakan landasan tegaknya agama dan kunci diterimanya amalan. Hal ini sebagaimana ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima apabila tercampuri dengan kesyirikan. Oleh sebab itulah para Rasul sangat memperhatikan perbaikan aqidah sebagai prioritas pertama dakwah mereka. Inilah dakwah pertama yang diserukan oleh para Rasul kepada kaum mereka; menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya.

Pengertian Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

A. Definisi Aqidah

Aqidah menurut bahasa arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yg berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquwwah yang berarti mengikat dengan kuat.

Sedangkan menurut istilah (terminologi) yang umum, Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya.

Jadi, Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yg telah shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al Qur’an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.

B. Obyek Kajian Ilmu Aqidah

Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilm sesuai konsep Ahlus sunnah wal Jama’ah meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, ghaaibiyyat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yg qath’i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa’ wal bida’ (pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.

Untuk itu ilmu Aqidah sangat penting untuk diketahui dimana disiplin ilmu aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya. Diantara nama-nama Aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:

1. Al-Iman

Aqidah disebut juga dengan al-iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi صلى اَللّهُ عليه وسلم, karena aqidah membahas rukun iman yang 6 dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana penyebutan al-iman dalam sebuah hadits yang masyhur disebut dengan hadits Jibril. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah aqidah dengan al-iman dalam kitab-kitab mereka.

2. Aqidah (I’tiqaad dan ‘Aqaa-id)

Para ulama Ahlus Sunnaah sering menyebut ilmu aqidah dengan istilah Aqidah Salaf: Aqidah ahlul Atsar dan al-I’tiqaad di dalam kitab-kitab mereka

3. Tauhid

Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu Aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena itulah ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.

4. As-Sunnah

As-Sunnah artinya jalan. Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabat di dalam masalah aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada 3 generasi pertama.

5. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah

Ushul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yg wath’i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.

6. Al-Fiqhul Akbar

Ini adalah nama lain ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqhul Ashghar, yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.

7. Asy-Syari’ah

Maksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah aqidah).

Penamaan Aqidah Menurut Firqah (sekte) Lain

Sedangkan penamaan aqidah menurut firqah (sekte) lain yang seringkali kita dengar dan tidak sedikit kaum muslimin terkena syubhat dengan penamaan-penamaan/istilah-istilah tersebut, diantaranya yang paling terkenal :

1. Ilmu Kalam

Penamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mutakallimin (pengagung ilmu kalam) seperti aliran Mu’tazilah, Asyaa’irah dan kelompok yg sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai! Karena ilmu kalam itu sendiri merupakan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu.

2. Filsafat

Istilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam aqidah! Karena dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.

3. Tashawwuf

Istilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam aqidah! Karena merupakan penamaan yang baru lagi diada-adakan. Didalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka yang dijadikan sebagai rujukan dalam aqidah.

Penamaan Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini ada/masuk kedalam islam dari ajaran agama dan keyakinan selain islam.

Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat 1407H) berkata di dalam bukunya at-Tashawwuf al-Mansya’ wal Mashaadir:

“Apabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran Shufi yang pertama dan terakhir serta pendapat-pendapat yang dinukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi, baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas perbedaan yang jauh antara Shufi dengan ajaran Al Qur’an dan As-Sunnah. Begitupula kita tidak pernah melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalanan hidup Nabi صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabat, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan Rasul). ‎​Sebaliknya, kita bisa melihat bahwa ajaran Tashhawwuf diambil dari para pendeta Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi serta kezuhudan Budha, konsep Asy-Syu’ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi, Ghanusiyah, Yunani dan pemikiran Neo-Platonisme yang dilakukan oleh orang-orang Shufi belakangan”

Masih banyak para Ulama yg membahas secara detail tentang kesesatan ajaran Tashawwuf dan Shufi, dan bukan disini tempatnya.

4. Ilaahiyyat (Teologi)

Ilaahiyyat adalah kajian aqidah dengan metodologi filsafat. Ini adalah nama yang dipakai oleh mutakallimin, para filosof, para orientalis dan para pengikutnya.

5. Kekuatan di Balik Alam Metafisik

Sebutan ini juga dipakai oleh para filosof dan para penulis Barat serta orang-orang yang sejalan dengan mereka yang semuanya nama ini tidak boleh dipakai!

Demikianlah beberapa penamaan aqidah menurut firqah yang sampai sekarang begitu populer dan telah menipu sebagian besar umat muslimin yang sebenarnya penamaan-penamaan tersebut bukanlah ajaran dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bersumber dari Al Qur’an dan hadits-hadits Nabi صلى اَللّهُ عليه وسلم yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.

Insyaa Allah dengan memulai belajar dari awal tentang  aqidah Ahlus Sunnah, maka kita bisa membedakan dan mengetahui aqidah yang haq (benar) yang sesuai fitrah.

Definisi Ahlus Sunnah Wal Jaama’ah dan Salaf

C. Definisi Salaf

Menurut bahasa, Salaf artinya yang terdahulu, yang lebih tua dan lebih utama.

Menurut istilah (inilah pengertian yang diinginkan-pent), Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari umat (islam) ini, yang terdiri dari para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para Imam pembawa petunjuk pada 3 kurun (generasi/masa) pertama yg dimuliakan oleh Allah, sebagaimana sabda Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم :

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (para sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in)” (Muttafaq ‘alaih)

Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan Manhaj (sistem hidup/metode dalam ber-Aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak dll) yang wajib diikuti oleh setiap muslim. Jadi pengertian Salaf dinisbatkan kepada siapa saja (muslim) yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabat sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.

Syaikhul Islam Taimiyah (wafat 728H) berkata:

“Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan dirinya kepada Salaf, bahkan wajib menerima yang demikian itu berdasarkan kesepakatan para ulama, karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran” (Majmu’ Fataawaa Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah IV/149)

D. Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabatnya. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan ber-ittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabatnya.

As Sunnah menurut bahasa adalah jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk

Sedangkan menurut ulama aqidah (terminologi/istilah), As Sunnah adalah petunjuk yg telah dilakukan oleh Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para sahabatnya, baik tentang ilmu, I’tiqad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah As Sunnah yg wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.

Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795H) berkata:

“As-Sunnah ialah jalan ygg ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh kpd apa yang dilaksanakan Nabi صلى اَللّهُ عليه وسلم dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa I’tiqad, perkataan dan perbuatan. Itulah As Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi Salaf terdahulu tidak menamakan As Sunnah kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari Imam Hasan al Bashri (wafat 110H), Imam al-Auzai’ (wafat 157H) dan Imam Fudhail bin ‘Iyadh (wafat 187H)” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam II/120 oleh Ibnu Rajab)

Disebut Al-Jama’ah, krn mereka bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah-belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan para Imam (yang berpegang kepada) al- haq (kebenaran), tidak mau keluar dari jama’ah mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah.

Al Jama’ah adalah generasi pertama dari umat ini, yaitu kalangan Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran.

Ibnu Mas’ud رضي اَللّهُ عنه berkata:

“Al-Jama’ah adalah yg mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian” (HR. Bukhari No. 3641)

Jadi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam dan menjauhi perkara-perkara yang baru (bid’ah) dalam agama.

Ahlus Sunnah wa Jama’ah juga disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar dan Ahlul ittiba’ karena mereka mengikuti kepada Sunnah Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم dan mengikuti jejak Salafush Shalih.

Ahlus Sunnah juga disebut sebagai ath-Thaa-ifatul Manshuurah (golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat) sebagaimana sabda Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم :

“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yg selalu menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yg tidak menolong mereka dan orang yg menyelisihi mereka sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yg demikian itu” (HR. Bukhari No. 3641, Muslim No. 1037, 174)

Ahlus Sunnah juga disebut sebagai Ghurabaa’ (orang asing) sebagaimana sabda Rasulullah صلى اَللّهُ عليه وسلم :

“Islam awalnya asing dan kelak akan kembali asing sebagai mana awalnya, maka beruntunglah bagi al-Ghurabaa’ (orang2 asing)” (HR. Muslim No. 145)

Maka tidak ada perbedaan pula penamaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan orang-orang yang mengikuti manhaj Salaf sebagaimana pengertian yang telah lalu.

Tidak seorangpun muslim pasti ingin dirinya berada diatas Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Salaf), namun tidak sedikit pula justru menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah. Perhatikanlah berikutnya untuk terus mengetahui Kaidah dan Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah ini, karena kita akan mengetahui mana yang benar-benar berada di atas manhaj aqidah Ahlus Sunnah, dan mana yang justru menyelisihinya.

Sumber : [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: