Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Dua hal yang masih menjadikan syubhat di tengah-tengah umat muslimin adalah  kebingungan di dalam membedakan antara orang yang mengikuti dan berpegang kepada jalan kebenaran dengan (anggapan) orang yang perkataan dan perbuatannya merasa paling benar sendiri. Sehingga tidak jarang dua hal tersebut membingungkannya, bahkan dengan mudahnya ketika seseorang yang berpegang kepada jalan kebenaran dan menyampaikan kebenarannya dianggap sebagai orang yang merasa paling benar sendiri. Sebaliknya, ketika seseorang yang berjalan dengan hawa nafsunya, akal fikirannya semata dan hanya mengikuti apa kata gurunya bahkan hanya mengikuti kebanyakan orang, dianggapnya sebagai jalan kebenaran (?)

 

 MENGENAL KEBENARAN ITU

Alangkah indahnya ketika kebenaran itu dikenal terlebih dahulu, sehingga kita bisa mengetahui dan membedakan mana yang berjalan diatas kebenaran itu dan mana yang justru menyimpang dari jalan kebenaran itu.

Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu berkata :

“Sesungguhnya kebenaran itu tidak dikenali melalui orang-orang, namun kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali orang-orangnya”.

Di antara fitrah yang Allah Subhanahu wa ta’ala ciptakan untuk umat manusia di atasnya adalah mencintai kebenaran dan mencarinya, sehingga apabila jiwa itu tetap di atas fitrahnya, maka tidak akan menuntut kecuali kebenaran. Sedangkan kebenaran itu telah jelas dan terang, tidak ada kesamaran atasnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Maka sesungguhnya al-haq (kebenaran) itu dicintai fitrah yang baik, dan dia (al-haq) itu lebih dicintai, lebih dimuliakan, lebih lezat bagi fitrah dibandingkan kebatilan yang tidak ada hakikatnya. Sungguh fitrah tidak mencintai hal ini.” (Majmu’ Fatawa, 16/338)

 

MAKNA AL-HAQ (KEBENARAN)

Secara bahasa, al-haq (kebenaran) berarti: Yang ada secara pasti; yang cocok dan sesuai dengan yang sebenarnya; yang ada dengan tanpa keraguan; yang bermanfaat; tidak sia-sia dan binasa.

Allamah Ar-Raghib Al-Ishfahani menyebutkan (di dalam Mu’jam Mufradat Al-Fauzhil Qur’an hal. 124 – 125, penerbit Darul Fikr tanpa tahun), bahwa makna al-haq (kebenaran) secara asal adalah: kesesuaian.

Kemudian, al-haq (kebenaran) mempunyai beberapa makna:

  • Pencipta sesuatu dengan satu sebab yang menunjukkan hikmah (tidak sia-sia) oleh karena itulah Allah dikatakan Al-Haq.
  • Sesuatu yang diciptakan sesuai dengan tuntutan hikmah (tidak sia-sia). Oleh karena itulah seluruh perbuatan Allah adalah haq (benar).
  • Keyakinan terhadap sesuatu yang sesuai dengan sebenarnya, terhadap apa yang ada pada sesuatu tersebut. Seperti ucapan kita, “Keyakinan Fulan tentang al-ba’ts(Dibangkitkannya makhluk dari kuburnya di hari kiamat), pahala, siksa, surga dan neraka adalah haq.”
  • Untuk perbuatan dan perkataan yang terjadi sesuai dengan apa yang semestinya, seukuran yang semestinya dan pada waktu yang semestinya. Kemudian beliau juga menyatakan bahwa al-haq (juga) berarti: Ketetapan yang sesuai dengan tuntutan hikmah.

Ringkasnya, kebenaran (al-haq) adalah sebagaimana yang dinyatakan Syaikhul Islam IbnuTaimiyah, yaitu al-haq itu ada dua jenis: 

  1. Haq Maujuud (kebenaran yang ada).

Kewajiban (manusia dalam hal ini -pen) adalahmengetahuinya dan jujur di dalam memberitakannya (ilmu -pent). Sedangkan lawannya adalah kebodohan dan dusta. 

  1. Haq Maqshuud (kebenaran yang dituju).

Yaitu yang bermanfaat bagi manusia. Kewajiban (manusia dalam hal ini -pent) adalah menghendakinya dan mengamalkannya. Sedangkan lawannya adalah menghendaki kebatilan dan mengikutinya

Dengan keterangan di atas bisa diketaui bahwa jalan kebenaran (al-haq) itu ada dua, yaitu ilmu dan amal. Keduanya ini saling berkaitan, ilmu itu menuntut adanya amalan, sebaliknya adanya amal itu mengharuskan adanya ilmu yang mendasarinya.

Dengan adanya keduanya, jadilah ilmu itu yang na’ (ilmu yang bermanfaat) dan jadilah amal itu yang didasari ilmu na’ tersebut menjadi amal shalih. Hal ini diisyaratkan oleh Allah dalam beberapa tempat di dalam kitab-Nya, antara lain firman-Nya

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (al-huda) dan agama yang haq“. {Ash-Shaff:9; At-Taubah:33; Al-Fath:28}

Al-Hafizzh Ibnu Katsir berkata pada tafsir ayat ini, dalam surat at-Taubah ayat 33:

“Al-huda (petunjuk) adalah apa yang dibawa oleh beliau (Rasulullah), yang berupa pemberitaan-pemberitaan yang benar, iman yang shahih dan ilmu na’. Sedangkan agama yang haq adalah amalan-amalan shalih, yang shahih, yang bermanfaat di dunia dan di akhirat.”

 

UKURAN KEBENARAN

Sebagaimana setiap pernyataan, perkataan atau perbuatan yang benar pasti memerlukan tolok ukur dari hal-hal yang dianggapnya benar tersebut, begitupula kebenaran (al-Haq) memiliki tolok ukurnya.

Bahwa ukuran kebenaran (al-Haq) adalah apa yang datang dari Allah berupa wahyu kepada Rasul-Nya. Sebagaimana yang banyak disebutkan oleh Allah di dalam Al Quran, di antaranya:

Wahai manusia sesungguhnya telah datang Rasul itu (Muhammad) kepada kamu, dengan (membawa) al haq dari Rabbmu, maka berimanlah kamu, itu lebih baik bagimu.” {An Nissa’:170}

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini:

“Yaitu Muhammad telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang haq dan penjelasan yang memuaskan dari Allah. Maka, berimanlah dengan apa yang dia bawa dan ikutilah dia, itu lebih baik bagi kamu.”

Dengan demikian untuk menilai sesuatu itu haq atau batil (sehingga bisa dijadikan petunjuk dan sebagai tempat berhukum yang menuntaskan segala perselisihan serta membangun persatuan), tidak ada ukurannya kecuali wahyu Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berupa al Kitab (al Qu’ran) dan as Sunnah.

 

WAJIB MENGIKUTI DAN BERPEGANG KEPADA KEBENARAN

Setelah kita mengenal kebenaran itu, maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti dan berpegang kepada kebenaran itu. Perkataan al haq (kebenaran) di dalam Al Qur’an terkadang lawan dari adh-dhalal (kesesatan) sebagaimana firman Allah:

Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti al-batil dan sesungguhnya orang-orang beriman mengikuti al-haq dari  Rabb mereka.” {Muhammad:3}

Al Quthurbi berkata dalam tafsir ayat ini di dalam kitab beliau “Al-Jaami’ li Ahkamil-Qur’an”:

“Para ulama kita berkata bahwa ayat ini memutuskan tidak ada posisi yang ketiga antara al haq dan al batil dalam masalah ini, yaitu masalah-masalah ushul (pokok), yang al haq itu hanya satu pihak dalam masalah ini. Karena pembicaraan (di ayat) ini hanyalah dalam mensifati adanya dzat, (yaitu) bagaimana ia (sebenarnya). Dan ini berbeda dengan masalah-masalah furu’. Maka kesimpulannya, al haq itu hanya satu, sedangkan berlawanan dengannya pastilah kebatilan atau kesesatan, dan tidak ada posisi ketiga setelah al haq dan al batil.

Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata,”Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggaris sebuah garis dengan tangannya, kemudian berkata,”Ini adalah jalan Allah yang lurus”. Kemudian menggaris di kanan dan kirinya,kemudian bersabda,”ini adalah jalan-jalan lainnya, tidak ada satu jalan pun kecuali ada padanya setan yang menyeru kepada jalan tersebut, lalu beliau membaca firman Allah Ta’ala :

“Dan inilah jalanku yang lurus maka ikutilah dan jangan kamu ikuti jalan-jalan yang lainnya niscaya (jalan-jalan tersebut) akan memecah belah kamu dari jalan-Nya. Itulah yang Allah perintahkan agar kamu bertaqwa.” {Al An’am : 153}.   [Hadits Shahih Riwayat an-Nasai di dalam Sunan al-Kubra no: 9215,9281, Ahmad (II/318) dan ad-Darimi (I/435,465).

Dan salah satu prinsip beragama yang benar di dalam mengikuti dan berpegang kepada kebenaran adalah mengikuti jalannya orang-orang mu’min yang mereka adalah para sahabat radhyallahu’anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (Salafush Shalih)

Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah nyata baginya al-hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min, niscaya akan Kami palingkan (sesatkan) dia ke mana dia berpaling (tersesat) dan akan Kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” {An-Nisa’ : 115}

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah di muqaddimah kitabnya “Naqdlul Mantiq” telah menafsirkan ayat “jalannya orang-orang mu’min” (bahwa) mereka adalah para sahabat. Maksudnya bahwa Allah telah menegaskan barangsiapa yang memusuhi atau menentang rasul dan mengikuti selain jalannya para sahabat sesudah nyata baginya kebenaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah dan didakwahkan dan diamalkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya, maka Allah akan menyesatkannya kemana dia tersesat (yakni dia terombang-ambing dalam kesesatan).

Ayat yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat dan dalil yang paling tegas dan terang tentang kewajiban yang besar bagi kita untuk mengikuti “jalannya orang-orang mu’min” yaitu para sahabat. Yakni cara beragamanya para sahabat atau manhaj mereka berdasarkan nash Al-Kitab dan As-Sunnah diantaranya ayat di atas.

 

SIFAT DAN KEISTIMEWAAN JALAN KEBENARAN

Sebagaimana jalan kebenaran itu memiliki ukuran, maka Allah pun memberikan padanya sifat-sifat dan keistimewaan jalan tersebut sehingga dapat dikenal oleh orang yang ingin menitinya, diantara sifat dan keistimewaannya adalah :

1.  Kebenaran itu Satu dan Tak Berbilang

 Allah Ta’ala berfirman :

“Dan apakah setelah kebenaran kecuali kesesatan” {Yunus:32}

Al Qurthubi rahimahullah berkata, ”Ayat ini memutuskan bahwa tidak ada antara kebenaran dan kebatilan tempat yang ketiga dalam masalah ini yaitu mentauhidkan Allah Ta’ala, demikian pula semua perkara yang serupa dengannya dari masalah-masalah yang pokok, kerena sesungguhnya kebenaran itu hanya ada pada satu sisi saja”. (Al Jami’ li ahkamil qur’an 8/336).

2. Kebenaran Tidak Kontradiksi

Jalan kebenaran tidak akan terjadi padanya kontradiksi karena ia berasal dari Allah Rabbul ‘alamin yang mengabarkan kepada kita dalam firman-Nya :

“Tidakkan mereka mentadabburi Al Qur’an, kalaulah Al Qur’an itu berasal dari selain Allah tentu mereka akan mendapatkan di dalamnya pertentangan yang banyak.” {An Nisaa : 82}

Adapun jalan kebatilan sebaliknya, disana banyak terjadi kontradiksi dan kerancuan.

3. Kebenaran Bersambung sanadnya

Diantara sifat jalan kebenaran adalah bersambung sanadnya sampai kepada Rosulullah dan para shahabatnya sebagaimana yang dikatakan oleh imam Asy Syafi’i :

“Ilmu adalah yang disebutkan padanya haddatsana, Selain itu adalah waswas setan belaka.”

Maka setiap keyakinan, pemikiran, dan ibadah yang tidak bersambung sanadnya sampai kepada Rosulullah dan para sahabatnya maka ia bukan kebenaran.

4.  Kebenaran itu Wasathiyah

Wasathiyah artinya tengah-tengah tidak berlebihan dan tidak pula melecehkan, ia berada di atas jalan yang lurus jalan yang dititi oleh Rosulullah dan para shahabatnya, maka jalan kebenaran berada di tengah-tengah kebatilan sebagaimana islam berada ditengah-tengah antara yahudi yang melecehkan Nabi Isa bin Maryam dan menuduhnya sebagai anak hasil zina. Dan Nashrani yang mengagungkan Nabi Isa melebihi batasannya sebagai hamba Allah dan Rosulnya.

5.  Kebenaran Imamnya hanya Rosulullah

Jalan kebenaran tidak mengagungkan sebuah perkataan yang harus diikuti selain firman Allah dan sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adapun selain Rosul maka harus dilihat dari sisi kesesuaiannya dengan Kitabullah dan sunnah Rosul-Nya, bila sesuai diterima dan jika tidak maka ditolak. Sehingga mereka tidak pernah berfanatik kecuali kepada Allah dan Rosul-Nya, bukan berfanatik kepada isme-isme tertentu tidak juga kepada organisasi atau kelompok tertentu. Tidak ada yang mereka banggakan kecuali kebenaran.

Berbeda dengan kebatilan, yang dibanggakan adalah apa yang ada pada kelompoknya tanpa melihat benar dan salahnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Dan janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sedangkan mereka berkelompok-kelompok setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka {Ar-Rum : 31-32}

6. Manhaj-nya Kebenaran adalah Wahyu bukan Ro’yu

Diantara sifat jalan kebenaran adalah bahwa ia manhaj wahyu bukan ro’yu dalam seluruh urusan agamanya, ia hanya taslim (menyerahkan diri) kepada wahyu dan tidak membuat-buat sendiri atau menentangnya dengan akal.

Adapun ro’yu adalah pendapat-pendapat manusia, ia terbagi menjadi tiga yaitu ro’yu yang shahih dan ro’yu yang batil dan ro’yu yang masih samar. Ulama salaf terdahulu mengamalkan ro’yu yang shahih dan berfatwa dengannya sebagaimana mereka mencela ro’yu yang batil dan melarang mengamalkan dan berfatwa dengannya. Adapun ro’yu yang ketiga mereka memperbolehkan mengamalkan atau berfatwa dengannya ketika darurat namun mereka tidak memaksa seorangpun untuk mengamalkannya tidak juga mengharamkan untuk menyelisihinya, tidak menganggap orang yang menyelisihinya sebagai penyelisihan terhadap agama dan mereka memberi pilihan antara diterima atau di tolak.

Setelah kita mengenal makna, sifat-sifat dan keistimewaan serta mengikuti dan berpegang kepada kebenaran (Al-Haq), akankah seorang yang berjalan di atas jalan kebenaran itu masih dianggap dirinya merasa paling benar sendiri yang sama artinya dengan kesombongan? Bukankah hal yang patut diperhatikan jika ungkapan ‘janganlah merasa paling benar sendiri’ itu paling tepat pada perkara ikhtilaf  ijtihadiyyah ?

Sebaliknya, ketika kita telah mengenal makna, sifat-sifat dan keistimewaan dari kebenaran (al-Haq) itu maka wajib meyakini kebenaran itu dan berpegang kepadanya. Justru dengan sebab menolak kebenaran itulah dinamakan kesombongan

  • Kesombongan karena menolak kebenaran yang datang dari wahyu Allah
  • Kesombongan karena menolak kebenaran yang datang dari Sunnah (hadits-hadits) shahih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam
  • Kesombongan karena menolak kebenaran yang datang dari penjelasan (pemahaman) para Ulama Salafush Shalih
  • Kesombongan karena hanya mau mengikuti hawa nafsu dan akalnya semata
  • Kesombongan karena hanya mau mengikuti gurunya, kelompoknya dan kebanyakan orang

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak akan masuk surga siapa saja yang ada dalam hatinya kesombongan meskipun sebesar dzarrah”. Salah seorang shahabat bertanya : “Sesungguhnya seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah itu juga termasuk kesombongan ?)”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah itu indah dan suka keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” [Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan yang lainnya].

Semoga Allah menampakkan kepada kita bahwa kebenaran itu adalah kebenaran dan memberi karunia kepada kita rezeki untuk mengikutinya. Dan menampakkan kepada kita yang batil itu adalah batil untuk menjauhinya. Amin, ya Rabbal ‘alamin

Sumber bacaan dengan sedikit perubahan:

  1. Kebenaran Tercampakkan Karena Kedengkian dan Kesombongan -Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan) http://asysyariah.com/kebenaran-tercampakkan-karena-kedengkian-dan-kesombongan.html
  2. Kebenaran,  Makna dan Ukurannya – Ustadz Abu Shalihah Muslim Al-Atsari http://alqiyamah.files.wordpress.com/2008/03/kebenaran-makna-dan-ukurannya.pdf
  3. Lau Kaana Khairan, Lasabaquuna Ilayhi -Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat [Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi : 02/V/1421-2001M, hal 51-53]
  4. Sifat dan keistimewaan jalan kebenaran –Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: