Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Sudahkah Kita Bersikap Adil?

Sikap yang paling banyak kita lupakan di dalam beragama (Islam) adalah sikap adil. Padahal kita tahu salah satu karakteristik agama Islam adalah keadilan (bersikap pertengahan)

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya) :

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” {QS. Al Baqarah:143}

Adil dan keadilan tidak asing di telinga kita; baik itu hanya berupa slogan maupun perbuatan nyata, namun, sikap adil yang banyak kita jumpai hanya sebatas adil secara sosial (muamalah) tanpa menyentuh i‘tiqad dan Ibadah.

Apakah dikatakan adil jika sudah saling bertoleransi bahwa semua agama sama benarnya?

Apakah dikatakan adil jika sudah saling memahami masing-masing aqidah dan cara ibadah saudaranya yang berbeda?

Apakah dikatakan adil jika sudah bisa berkompromi di antara pihak yang bersengketa kemudian diganti dengan konsep take and give?

Apakah dikatakan adil jika jatah pembagian kursi sudah sesuai porsi kepentingan masing-masing?

Apakah dikatakan adil jika sudah menyampaikan keburukan-keburukan Penguasa yang tidak adil di depan publik?

Apakah dikatakan adil jika sudah ikut menegakkan amar maruf nahi mungkar dengan merusak tempat-tempat kemaksiatan?

Apakah dikatakan adil jika sudah meng-hajr (memperingati) dengan keras saudaranya yang jatuh dalam kesalahan?

Apakah dikatakan adil jika lebih memilih diam atas kesalahan-kesalahan saudaranya dengan memilih eksklusif diri sendiri/kelompoknya?

 

Sikap Adil Apa Yang Menjadi Karakteristik Agama Islam itu Sendiri?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا… {143}

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….” {QS. Al Baqarah: 143}

Wasathan bermakna umat yang adil dan pilihan. Dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama tafsir. Umat wasathan bermakna pertengahan antara dua kutub; kutub ekstrim dan kutub menyepelekan [Jâmi’ul Bayân fi Tafsîr Al-Qur`ân Al-Karîm 2/5-6]

Islam adalah agama yang menyerukan kepada semua kebaikan dan meninggalkan semua kejelekan, untuk inilah syariat diturunkan, maka, makna adil dalam islam adalah pertengahan diantara dua golongan yang berlebih-lebihan (ifroth) dan golongan yang meremehkan (tafrith)

Inilah makna ayat sebagaimana yang ditafsirkan oleh salafussholih seperti: Ibnu Abbas, Mujahid, Said Ibnu Zubair, Qotadah dan yang lainnya.

Demikianlah kita dapatkan di dalam ajaran Islam yang mengedepankan sikap adil dan pertengahan dari ifroth dan tafrith dalam semua sendi kehidupannya. Sikap adil (pertengahan) inilah yang membedakan ajaran Islam dengan ajaran lainnya sebagaimana disebut di dalam ayat di atas.

Sebagaimana para sahabat adalah umat yang terbaik, dan tidaklah kebaikan ada pada para sahabat kecuali keadilan ada di dalamnya;

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” {QS. Ali Imran:110}

Perumpamaan adil dan pertengahan agama (islam) ini sebagaimana diibaratkan lembah diantara dua bukit, hidayah diantara dua jalan kesesatan, dan gambaran keadilan agama ini sangatlah banyak yang meliputi semua perkara di dalam sendi kehidupan.

Sifat adil Islam pada seluruh aspek dan bidang yang dibutuhkan oleh manusia; Aqidah, ibadah, mu’amalat, pemerintahan, perekonomian, hukum, pernikahan, dsb. Bahkan adil dalam masalah cara membelanjakan harta, Islam juga telah mengaturnya di atas dasar pertengahan tersebut, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” {QS. Al Furqaan : 67} 

Demikianlah di setiap ajaran yang ada di dalam syariat sesuai dengan keadilan, karena agama ini adalah agama fitroh bagi manusia,

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan Dia (Alloh) sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan”. {QS. Al Hajj : 78}

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidaklah Allah mengutusku untuk menyulitkan dan saling menyulitkan, akan tetapi mengutusku sebagai seorang pengajar yang memudahkan” (HR. Muslim)

 

Sikap Adil (Pertengahan) Islam Diantara Umat Yahudi dan Nashrani

Ditunjukan didalam QS. Al Faatihah : 7, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

Umat Islam adalah umat yang berada dipertengahan antara umat Yahudi (yang dimurkai) dan Nasrani (yang tersesat). Dalam permasalahan tauhid kepada Allah dan sifat-sifat-Nya, umat Islam bersikap pertengahan antara Yahudi dan Nashrani. Yahudi menyifati  Allah Ta’ala dengan sifat kekurangan yang dimiliki makhluk sehingga mereka menyamakan Allah dengan makhluk. Adapun Nashrani menyifati makhluk dengan sifat Al Kholiq (Yang Maha Pencipta), mereka samakan makhluk dengan Allah

Maka Islam pertengahan di antara keduanya. Islam mentauhidkan Allah semata dan mensucikan-Nya dari seluruh sifat kekurangan. Islam tidak menyamakan sifat Allah dengan makhluk. Karena tidak ada satupun yang menyerupai Allah dzat, sifat, & perbuatan-Nya.

Dalam hal keimanan terhadap para Nabi, umat Islam bersikap pertengahan antara Yahudi dan Nashrani. Yahudi membunuh nabi-nabi mereka dan sombong, sedangkan Nashrani bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap Nabi mereka, maka mereka pun menjadikannya sebagai Tuhan.

Maka Islam mendudukkan nabi-nabi sesuai dengan kedudukannya bahwa mereka semua adalah hamba Allah sekaligus rasul.

Dalam urusan ibadah, umat Islam bersikap pertengahan antara Yahudi dan Nashrani. Yahudi berilmu tetapi tidak mau beramal,  sedangkan Nashrani tidak memiliki ilmu sehingga beribadah kepada Allah di atas kejahilan (tanpa ilmu).

Maka  Islam bersikap pertengahan diantara mereka, yakni berilmu dan beramal diatas kebenaran yang diturunkan oleh Allah ta’ala.

 

Sikap Adil (Pertengahan) Ahlus Sunnah

Namun demikian sikap adil Islam tidak hanya berada di antara Umat Yahudi dan Nashrani, tapi sangat mungkin terjadi di tubuh kaum Muslimin sendiri. Demikian pula keadaan Ahlus sunnah wal jama’ah di tengah firqah-firqah yang ada, mereka bersikap adil.

Bagaimana sikap adil Ahlussunah diantara Ahlu ta’thil dan Ahlu tamsi dalam keimanan terhadap Nama dan Sifat Allah?

  • Ahlus sunnah adil dalam menetapkan dan menafikan, mereka menetapkan nama dan sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk.

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara Qodariyyah dan Jabariyyah dalam memahami Takdir Ilahi?

  • Allah Ta’ala berfirman dalam memahami takdir di dalam firman-Nya;  “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menempuh jalan yang lurus dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki oleh Allah.” {QS. At Takwiir : 28-29}

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara Murjiah dan Wa’idiyyah dalam memaknai Janji dan Ancaman Allah?

  • Ahlussunnah bersikap adil dengan menggabungkan antara sikap khauf  (takut) dan raja’ (pengharapan)

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara Murjiah dan Wa’idiyyah dalam mengelari dan menghukumi seseorang?

  • Dalam menggelari seorang di dunia, Ahlussunnah memutlakkan pelaku dosa besar tetap mukmin, namun mukmin yang tidak sempurna imannya.
  • Sedangkan pelaku dosa besar di akhirat, Ahlus sunnah berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar, bisa mendapat adzab atau rahmat Allah berupa ampunan.

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara Syi’ah dan Khawarij dalam menyikapi para sahabat?

  • Ahlus sunnah adil mencintai para sahabat, meridhai mereka, meyakini keadilan mereka, umat yang paling utama, namun pribadi mereka tidak mas’um.

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara sikap ifroth dan tafrith dalam masalah Amar Ma’ruf nahi mungkar?

  •  Ahlussunnah adil melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, namun dengan memperhatikan beberapa aturan syari’at yang ada.

Bagaimana sikap adil Ahlussunnah diantara sikap ifroth & tafrith dalam masalah Jihad?

  • Ahlussunnah adil bahwa Jihad merupakan puncak kekuatan dan kemuliaan Islam,  harus memenuhi syarat-syarat syari’ dan dipimpin oleh Penguasa.

 

Dengan bukti karakteristik Islam tentang sikap adil (pertengahan) inilah kita bisa bercermin pada diri sendiri, sudah bersikap adil kah kita?

Tanpa perlu menyinggung sebagian dari kita, mari mulai dari diri kita sendiri tentang sikap adil (pertengahan) ini dan berlapang dadalah, karena jangan-jangan kita bisa bersikap adil pada satu perkara, namun tidak adil pada perkara yang lain. Wallahu Ta’ala ‘alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: