Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah menyempurnakan syariat-Nya di atas agama yang haq yakni Islam

Allah Ta’ala berfirman :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al Maa’idah [5]:3)

Begitupula dengan kesempurnaan syariat Ibadah qurban yang telah Dia syari’atkan di dalam ayatnya yang mulia

Allah Ta’ala berfirman :

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (Qs. Al Kautsar [108]: 2).

Namun sangat disayangkan, syari’at ibadah qurban yang sempurna dan agung ini hendak dikotori oleh pemikiran-pemikiran kotor para kaum liberalis yang salah satunya apa yang ditulis oleh Luthfi Assyaukanie dengan judul Memikirkan Kembali Pelaksanaan Kurban [lihat http://www.assyaukanie.com/articles/memikirkan-kembali-pelaksanaan-kurban]

Apa yang ada dalam artikel tersebut sungguh akan mengecilkan makna qurban yang telah di syari’atkan oleh Allah, bahkan dengan akal dan hatinya yang telah rusak, Luthfi Assyaukanie hendak mengatakan bahwa ibadah qurban merupakan Warisan Kuno yaitu  “Pengurbanan dalam bentuk penyembelihan hewan untuk kemudian dipersembahkan kepada kekuatan gaib (tuhan, dewa, jin, setan, dll)”

Lebih rusak lagi Luthfie Assyaukanie menyatakan bahwa “Ketika Islam datang, ritual pengurbanan (warisan kuno –pen) tetap dilestarikan, tapi dengan sedikit modifikasi”

Masih belum puas dengan kerusakan pemahamannya tentang ibadah qurban, lebih lanjut Luthfie Assyaukanie mengatakan:

“Apa yang dilakukan Islam saat itu dengan mengubah orientasi pengurbanan dari “metafisis” menjadi kegiatan bersifat “sosial” merupakan langkah besar. Islam tak hanya mengurangi (jika tak menghilangkan sama sekali) unsur-unsur mitis dalam pengurbanan, tapi juga memberdayakan ritual keagamaan menjadi kegiatan sosial yang positif”

Perhatikanlah bagaimana Luthfie Assyaukanie sudah tidak dapat membedakan lagi mana yang haq dan mana yang bathil, sehingga dengan pemikiran filsafatnya ia mengatakan bahwa ibadah qurban yang agung ini pada asalnya merupakan warisan kuno yang mengandung unsur-unsur mistis, hanya saja Islam memodifikasi sedikit. Demikianlah kira-kira apa yang menjadi pemikiran bathilnya.

Maka Luthfie Asyyaukanie di dalam artikelnya tersebut tidak sungkan untuk memberikan contoh ritual-ritual pengurbanan dari warisan kuno; “Peradaban Maya di Meksiko biasa menyelenggarakan upacara kurban dengan menceburkan anak perawan ke sungai atau ke sumur tua. Di India, penyembelihan anak-anak (sebelum kemudian diganti dengan hewan) untuk dipersembahkan kepada kekuatan gaib”

Bagi orang-orang yang telah diberikan ilmu dan keimanan tentu akan mengetahui apa maksud dan arah sebenarnya yang diinginkan Luthfie Asyyaukanie di dalam artikelnya tersebut (Memikirkan Kembali Pelaksanaan Kurban –pen). Ya, tidak lain dan tidak bukan bahwa faham Liberalisme melalui lisan tokohnya Luthfie Assyaukanie hendak merubah syari’at yang telah sempurna dan agung ini dengan dalih ‘ijtihad’ yang mereka sendiri dibutakan oleh pemahaman yang benar mengenai ‘ijtihad’

Sangat jelas sekali bagaimana Luthfie Assyaukanie ingin mengecilkan bahkan mengganti tata cara pelaksanaan ibadah qurban yang agung ini dari maksud-maksud yang tertangkap dengan jelas di dalam tulisannya tersebut, (inilah cara-cara kaum liberalisme);

Pertama, Seperti sudah kebiasaan kaum liberalisme ketika membicarakan perkara syari’at agama, maka tidak satupun dalil dari Al qur’an dan Hadits yang dibawakan dalam mendukung ‘pemikirannya’ tersebut, atau jikapun ada tapi dengan pemahaman yang salah kaprah.

Lihatlah dalam artikel tersebut (Memikirkan Kembali Pelaksanaan Kurban –pen) yang ditulis Luthfie Assyaukanie, berbicara tentang perkara syari’at Qurban tanpa secuilpun ayat dan hadits,apalagi penjelasan Ulama. Justru sebaliknya hanya berbekal ‘akal dan hawa nafsunya’ (yang memang sudah sakit) sehingga menjatuhkannya pada pemikiran rusak bahwa ibadah qurban tidak beda dengan warisan kuno yang maknanya menyamakan bentuk pengurbanan kepada dewa, jin, setan.

Kedua, Sudah barang tentu ketika berbicara tentang syari’at agama tanpa dalil yang jelas dan shahih dengan penjelasan para Ulama, maka akan sangat memudahkan ‘keinginan kotornya’ untuk ‘mengecilkan’ bahkan meniadakan syari’at tersebut yang biasanya diikuti dengan logika ‘buruk’ dan ‘negatif’ yang bisa ditangkap oleh sebagian orang awam.

Seperti apa yang diinginkan dalam tulisan tersebut, maka kesan ‘kotor’, ‘jorok’, ‘horor’ dan ‘sadisme’ pun terlontar dari Luthfie Assyaukanie mengkritisi pelaksanaan ibadah qurban yang dilakukan di tempat-tempat umum oleh kaum muslimin, bahkan menyamakan kaum muslimin yang melakukan tata cara pelaksanaan ibadah qurban akan sama halnya dengan pengurbanan sebagai ritus persembahan hewan kepada kekuatan gaib (dewa, jin, setan –pen) dan akan kecewa jika obyek kurban diganti.

Ketiga, Dengan beralasan hendak ‘memperbaiki’ yang membawa-bawa ijtihad, tentu arahnya sudah jelas seperti apa yang di inginkan oleh kaum liberalis, yakni merubah tata cara ibadah qurban yang telah sempurna ini.

Perhatikanlah apa yang di inginkan Luthfie Assyaukanie sebenarnya yang sudah bersusah payah membahas pelaksanaan ibadah qurban, tujuannya tidak lain hanya ingin ‘ber-ijtihad’ mengganti pelaksanaan ibadah penyembelihan hewan qurban yang selama ini telah dilakukan dengan semangat oleh kaum muslimin dengan obyek ‘qurban’ lain yang semisal harta benda berharga, karena menurutnya penggantian ini adalah makna hakiki dan tujuan dasar dari udhiyah yang dikembangkan Islam [?]

Benarlah apa yang Allah firmankan tentang sifat-sifat mereka yang beralasan hendak ‘mengadakan perbaikan’, nyatanya Allah telah membantah di dalam ayatnya yang mulia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.’” (QS Al-Baqarah [2]: 11-12).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “..maka jika mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah (maksiat) berarti mereka telah mengusahakan (sesuatu yang menyebabkan) kerusakan dan kehancuran di muka bumi [Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” hal. 759]

 

Benarkah Ibadah Qurban Merupakan Warisan Kuno ?

Tidak ada satupun dalil yang menghubungkan tentang sejarah ibadah qurban dengan warisan kuno yang dipersembahkan kepada kekuatan gaib (tuhan, dewa, jin, setan, dll)”. Maka bagi orang yang beriman akan sangat mengetahui bahwa penyembelihan hewan qurban, bila dirunut sejarahnya, tidak lepas dari sosok Nabi Ibrahim dan putra beliau Nabi Ismail. Sebagaimana yang Allah beritakan dalam kitab suci Al-Qur`an:

 “Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai (pada umur sanggup) untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, berkatalah Ibrahim: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat [37]: 102-109)

Barangsiapa mempelajarinya dengan seksama (mentadabburinya) niscaya akan mendulang mutiara hikmah dan pelajaran berharga darinya (ibadah qurban –pen), terkhusus pada sejumlah momen di bulan Dzulhijjah yang hakikatnya tak bisa dipisahkan dari sosok Nabi Ibrahim ‘alaihisalam.

Dengan sekian keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihisalam itulah, Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad untuk mengikuti agama beliau. Sebagaimana firman Allah :

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (An-Nahl [16]: 123)

Renungkanlah bagi orang yang memiliki akal sehat, bahwa perintah ibadah qurban yang telah Allah syari’atkan (QS. Al Kautsar [108]:2) merupakan hikmah mencontoh bapak kita Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang diperintahkan agar menyembelih buah hatinya (anaknya) yang mana sudah menjadi keyakinan bagi orang yang beriman tentang kisah-kisah agung dari Nabi Ibrahim ‘alaihisalam sebagai peneguhan nyata akan tauhid, ketaatan dan keimanan yang luar biasa kepada Allah mewujud pada tindakan yang niscaya akan teramat berat ditunaikan manusia pada umumnya. Sebuah keteladanan yang mesti kita tangkap dan nyalakan dalam kehidupan kita.

Bandingkan, dengan pemikiran kaum liberalis yang menyamakan hikmah ibadah qurban yang agung dengan ‘qurban’ warisan kuno yang dipersembahkan kepada kekuatan gaib (dewa, jin, setan, dll)”. Padahal Nabi Ibrahim ‘alaihisalam merupakan sosok pembawa panji-panji tauhid. Perjalanan hidupnya yang panjang sarat dengan dakwah kepada tauhid dan segala liku-likunya. sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan bertaqwalah kalian kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mau mengetahui. Sesungguhnya apa yang kalian ibadahi selain Allah itu adalah berhala, dan kalian telah membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu memberi rizki kepada kalian, maka mintalah rizki itu dari sisi Allah dan beribadahlah hanya kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan. Dan jika kalian mendustakan, maka umat sebelum kalian juga telah mendustakan dan kewajiban Rasul itu hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.” (Al-‘Ankabut [29]: 16-18)

Sungguh, telah rusaklah akal dan hati para kaum liberalis yang mengatakan sama antara inti Ibadah Tauhid dengan kesyirikan yang nyata.

Bolehkah Mengganti Hewan Qurban Dengan Obyek ‘Qurban’ Lain ?

Inilah pemikiran yang paling bathil (rusak) ketika suatu ibadah yang sifatnya tauqifiyah yang artinya tidak bisa ditetapkan kecuali apabila dilandasi dengan dalil dari Sang pembuat syari’at dan jelas-jelas telah tersusun sempurna dari sisi tata cara pelaksanaannya ingin di rubah hanya berdasar akal semata.

Qurban merupakan salah satu sembelihan yang disyariatkan sebagai ibadah dan amalan mendekatkan diri kepada Allah. Hal inilah yang dinyatakan Ibnul Qayyim dalam pernyataannya:  

Sembelihan-sembelihan yang menjadi amalan mendekatkan diri kepada Allah dan ibadah adalah Al-Hadyu, Al-Adhhiyah (Kurban) dan Al-Aqiqah” [Lihat Abdul Aziz bin Muhammad Ali Salman, Ithaf Al-Muslimin Bima Tayassara Min Ahkam Ad-Din, Ilmun wa Dalilun, Cet. II, Th 1403H, hal. 2/505]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya,

Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (Qs. Al Kautsar [108]: 2).

Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534 Taudhihul Ahkaam, IV/450. Lihat juga Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi.

Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Hewan qurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak tertentu) yaitu onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406)

Dalilnya adalah firman Allah yang artinya,

“Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (QS. Al Hajj [22]: 34)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’, III/409)

Perhatikan! Hanya untuk mengganti hewan-hewan qurban yang telah di syariatkan dengan hewan selainnya saja tidak sah! Apalagi ingin mengganti dengan ‘obyek’ qurban dari harta benda lainnya!

 

Benarkah Penyembelihan Hewan Qurban merupakan Pentas Horor dan Sadisme ?

Tidak ada seorang manusia yang memiliki pemikiran seperti ini kecuali telah rusak akal dan hatinya karena virus-virus pemikiran kotor, horor dan sadisme di dalam dirinya.

Tidakkah diketahui bahwa syari’at islam adalah agama yang rahmat, bahkan kepada hewan? Maka Islam men-syari’atkan adab dan tata cara penyembelihan hewan qurban yang tidak boleh menyakiti hewan qurban

Dari Syadad bin Aus, beliau berkata,

Ada dua hal yang kuhafal dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Sesungguhnya Allah itu mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Demikian pula, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian tajamkan pisau dan kalian buat hewan sembelihan tersebut merasa senang” (HR Muslim no 5167).

Bahkan ketika akan menyembelih disyari’akan membaca do’a “Bismillaahi wallaahu akbar”.hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir – Allahu akbar – para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir ketika menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib. Kemudian diikuti bacaan hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud 2795) Atau hadza minka wa laka ‘anni atau ‘an fulan (disebutkan nama shahibul qurban).”

Begitupula tempat yang disunnahkan untuk menyembelih adalah tanah lapangan tempat shalat ‘ied diselenggarakan. Terutama bagi imam/penguasa/tokoh masyarakat, dianjurkan untuk menyembelih qurbannya di lapangan dalam rangka syi’ar kepada kaum muslimin bahwa qurban sudah boleh dilakukan dan mengajari tata cara qurban yang baik. Ibnu ‘Umar mengatakan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menyembelih kambing dan onta (qurban) di lapangan tempat shalat.” (HR. Bukhari 5552).

Dan dibolehkan untuk menyembelih qurban di tempat manapun yang disukai, baik di rumah sendiri ataupun di tempat lain. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/378)

Demikianlah apa yang telah disyariatkan di dalam agama ini tentang ibadah qurban yang merupakan salah satu ibadah agung di bulan Dzulhijjah (salah satu bulan mulia dalam Islam). Karena di dalamnya terdapat amalan-amalan mulia; shaum Arafah, haji ke Baitullah, ibadah qurban, dan lain sebagainya. Maka, apakah ibadah qurban yang hakikatnya adalah bukti ketauhidan seorang hamba kepada Rabb-nya ingin dipersamakan dengan ritual-ritual ‘qurban’ yang mengandung kesyirikan?

Allah berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al An’am [6]: 162-163)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknat orang yang menyembelih binatang untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

Semoga Allah tetap menegakkan syari’at-Nya di atas muka bumi di dada-dada kaum muslimin dan dijauhkannya dari segala kerusakan kaum munafik. Wallahu ta’ala ‘alam

Referensi pendalilan:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: