Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Dengan kehendak dan ilmu-Nya, Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Berbeda bahasa, warna kulit, suku bangsa, corak budaya dan sebagainya, namun Allah mempersatukan mereka semua di dalam agama-Nya yang satu, yakni Islam. Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Alloh adalah Islam.” (QS. Ali Imron: 19)

Namun dengan kehendak dan hikmah-Nya pula, Allah telah mentakdirkan umat Islam ini berpecah-belah sebagaimana umat terdahulu (ahlul kitab) telah berpecah-belah.

Allah berfirman, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.” (QS. Hud: 118-119)

Manusia senantiasa berselisih pendapat. Lalu apakah setiap perselisihan pendapat itu dilarang? Apakah setiap perbedaan pendapat akan membawa kepada perpecahan?

Demikian kita berada diantara 2 sikap ekstrem dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut:

  1. Sikap meniadakan perbedaan pendapat karena menjadi penyebab perpecahan umat
  2. Sikap berlebihan dalam perbedaan pendapat, karena menjadi rahmat/persatuan dengan saling menghargai tanpa batas

Tentu yang dimaksud perbedaan pendapat dalam hal ini adalah perbedaan dalam hal ‘itiqad (keyakinan) dan amaliah (ibadah)

Permasalahannya, perbedaan pendapat seperti apakah yang menjadi anggapan tersebut ?

Kita pasti sepakat, bahwa perbedaan pendapat yang dimaksud adalah perbedaan yang tidak menyebabkan kepada perpecahan, karenanya tidaklah sama antara perbedaan (ikhtilaf) dengan perpecahan (iftiroq). Inilah yang hendak kita fahami terlebih dahulu

Oleh karenanya, tidak semua perbedaan merupakan perpecahan. Karena ada perbedaan yang diperbolehkan dan ada yang tidak boleh berbeda. Adapun perpecahan sama sekali terlarang meskipun merupakan sunnatullah. Sebagaimana Allah berfirman;

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. 30:31-32)

Perbedaan yang diperbolehkan itu berasal dari ijtihad dan niat yang baik. Yaitu berniat sungguh-sungguh mencari kebenaran. Jika pendapatnya benar maka mendapat dua pahala. Jika ternyata salah, maka tetap mendapatkan satu pahala. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Jika seorang hakim memutuskan suatu hukum, kemudian berijtihad maka jika benar ia mendapat dua pahala. Namun jika salah, baginya satu pahala.” (HR. Al Bukhori)

Sebaliknya, perpecahan tidak berasal dari kesungguhan dalam mencari kebenaran bahkan sebaliknya ‘pembenaran’, dan muncul dari dorongan hawa nafsu. 

Yang perlu di-garisbawahi, perbedaan itu berasal dari konsekuensi memahami dalil-dalil yang kesemuanya merupakan sunnah. Sudah barang tentu, dalil-dalil yang diperselisihkan pemahamannya tersebut adalah yang memiliki derajat Shahih, minimal hasan. Walaupun, sebagian Ulama ada yang membolehkan dalil yang derajatnya lemah –dengan persyaratan-, tapi bukan ini konteks yang ingin dibahas

Syaikh Al ‘Utsaimin rahimahulloh, berkata

“Orang yang menyelisihi pendapat kami karena konsekuensi dalil yang ia pahami, pada hakikatnya tidak berselisih dengan kami bahkan bersepakat dengan kami. Karena kamipun menyelisihi mereka karena konsekuensi dalil yang kami pahami.” (Al Khilaf bainal Ulama).

Sebaliknya, sedangkan perpecahan itu hanya berasal dari bid’ah (lawan sunnah). Syaikhul Islam rahimahulloh berkata, “Bid’ah itu disertai dengan perpecahan, sedangkan sunnah disertai dengan persatuan.” (Sittu Duror, Abdul Malik Ramadhani)

Allah ta’ala berfirman;

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Al Imran:105).

Perbedaan, bagaimanapun bentuknya yang terjadi di antara kaum muslimin, -sepanjang  adanya dalil shahih- walau memilih pendapat yg keliru masih bisa ditolerir, karena yang menjadi hujjah dalam perbedaan pendapat adalah Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman As Salafus Sholih, bukan pendapat imam fulan atau kyai fulan

 Allah ta’ala berfirman;

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya).” (QS. An Nisaa’:59).

Syaikhul Islam rahimahulloh berkata, “Tidak boleh bagi seseorang untuk berhujjah dengan ucapan seseorang dalam masalah khilafiyah. Pengutamaan suatu pendapat atas pendapat yang lain bukan karena pendapat itu pendapat imam fulan atau syaikh fulan. Akan tetapi karena ketegasan dan kejelasan dalil-dalil yang mendasari pendapat tersebut.” (Majmu’ Fatawa)

Siapapun yang berbeda pendapat harus menyadari bahwa tidak ada manusia yang ma’shum (terbebas dari kesalahan) kecuali Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam

Imam Malik rahimahulloh berkata, “Setiap orang dapat diterima atau ditolak perkataannya, kecuali penghuni kubur ini (yaitu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam”

Adanya perbedaan bukan berarti “Perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat” karena ini bukan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Hazm rahimahulloh menjelaskan, “Ini merupakan perkataan yang paling rusak. Karena jika perbedaan adalah rahmat tentunya persatuan merupakan hal yang dibenci”

Syaikh Al Albani rahimahulloh berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya (anonim).” (Silsilah Hadits-hadits Lemah dan Palsu).

Setelah kita mengetahui antara perbedaan pendapat yang dibolehkan dan yang tidak diperbolehkan, bagaimanakah seharusnya kita bersikap?

Pertama, bersikaplah untuk meneliti terlebih dahulu, perbedaan pendapat apakah yang sedang dipermasalahkan

Kedua, menentukan sikap sebagai seorang Muslim yang mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran (karena pendapatnya/kelompoknya)

Tentu, sikap yang adil adalah sikap yang berada di antara 2 sikap ekstrim dari perbedaan pendapat di atas, yakni sikap bolehnya perbedaan pendapat, sepanjang dari ijtihad (ulama), niat sungguh-sungguh mencari kebenaran dan adanya dalil yang Shahih. Perbedaan seperti ini telah ada sejak zaman sahabat, dan para ulama setelahnya hingga zaman ini, justru dari perbedaan ini kita mengetahui begitu luasnya ilmu para ulama didalam memahami, menyikapi dan menjelaskan nash-nash yang ada (Al Qur’an dan Hadits)

Ribuan kitab Ulama yang memungkinkan perbedaan yang banyak pula, namun mereka tetap memiliki Nash yang jelas (Al Qur’an, Hadits Shahih, Ijma). Bandingkanlah dengan kita yang telah jelas masuk ke dalam perbedaan pendapat, namun tidak satupun dalil Shahih yang kita bawakan.

Padahal yang perlu kita ketahui, bahwa kebenaran itu hanyalah satu, sebagaimana apa yang Allah firmankan

“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus:32)

Demikian pula apa yg dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang panjang tentang perpecahan umat, hanya ada satu kelompok yang benar (selamat).

“..Yaitu kelompok yang aku dan sahabatku berada di atasnya.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)

Sikap mencari pendapat yang lebih dekat kebenaran inilah yang diperintahkan (bagi yang mampu), sehingga kita tidak membenturkan pada perbedaan pendapat para Ulama, tapi kembali kepada kebenaran Allah (Kitabullah) dan  Rasul-Nya (Hadits Shahih)

Sikap menjauhkan perbedaan yang dilarang adalah yang mengantarkan kepada perpecahan; pada masalah prinsipil (ushuluddin), tidak adanya dalil shahih, dan sesuatu yang telah disepakati sebagai manhaj (metodologi beragama) Ahlus Sunnah yang tidak boleh diperselisihkan. 

Maka perlu diwaspadai sebab-sebab perpecahan umat ini antara lain: Kebid’ahan(dalam keyakinan, perkataan atau perbuatan), memperturutkan hawa nafsu (syahwat), fanatisme buta (ta’ashub), meniru-niru orang kafir(tasyabbuh) dan kejahilan beragama (tidak mau belajar ilmu agama). Perbedaan pendapat seperti inilah yang harus dihindari oleh kaum muslimin baik dalam hal ‘itiqad (keyakinan) maupun amaliyah (ibadah). Karena dengan perbedaan tipe ini kaum muslimin menjadi berpecah belah, saling mencari pembenaran dan membanggakan kelompoknya.

Seorang muslim seharusnya saling memberikan nasehat baik yang bersifat ma’ruf maupun yang bersifat munkar atas perbedaan yang dapat menjerumuskan kepada perpecahan umat. Bukan sebaliknya, seorang muslim justru diminta untuk saling menghargai atas perbedaan ini, yang justru tidak lagi ada amar ma’ruf nahi munkar.

Perbedaan itu (pada asalnya) adalah tercela, wajib bagi kita semua berusaha sebisa mungkin menghindari perbedaan (perselisihan), karena perbedaan umat ini lemah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

“Dan taatlah kepada Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfaal:46)

Semoga Allah mencegah umat ini dari segala perbedaan yang dapat mengantarkan kepada perpecahan. Wallahu ‘alam bishowab

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: