Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Sebagian dari saudara-saudara kita masih memahami bahwa perkara amal (perbuatan) Ibadah dapat dilakukan sesuai kehendak hati, yang penting Ikhlas dan bertujuan Baik. Mereka meyakini dengan alasan bahwa ‘Alloh Maha Mengetahui niat baik kami, dan biar Alloh sajalah yang menilainya’ | Benarkah demikian?

Insyaa Alloh ringkasan pendek di bawah ini dapat membuat kita lebih memahami mengenai suatu amalan (perbuatan/Ibadah) yang akan kita lakukan.

Alloh berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Alloh dan Rasul-Nya.” (QS. Al Hujurat: 1)
Artinya janganlah engkau berkata sebelum ia (Rasululloh) mengatakannya, janganlah berbuat sebelum dia memerintahkannya.

Tidaklah suatu perbuatan (betapapun kecilnya) kecuali akan dihadapkan pada 2 pertanyaan: KENAPA DAN BAGAIMANA ?
Maksudnya, Mengapa engkau melakukannya dan Bagaimana kamu melakukannya?

Alloh berfirman:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Israa: 36)

SOAL PERTAMA: KENAPA?
Menanyakan tentang sebab perbuatan, motivasi (yang mendorongnya), apakah ia bertujuan jangka pendek untuk kepentingan pelakunya, bertujuan duniawi semata untuk mendapatkan pujian orang atau takut celaan mereka, agar dicintai atau tidak dibenci?
Ataukan motivasi perbuatan tersebut untuk melakukan hak ubudiyah (penghambaan), mencari kecintaan dan kedekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan wasilah (kedekatan) denganNya?

Inti pertanyaan yang pertama adalah: Apakah kamu melaksanakan perbuatan itu untuk Tuhanmu atau engkau melaksanakannya untuk kepentingan dan hawa nafsumu sendiri?

Dan ingatlah, bahwa setiap amal yang kita lakukan, masing-masing memiliki konsekuensinya sesuai dengan niat kita.
Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‘Sesungguhnya Amal itu Tergantung pada Niatnya’ [HR Imam Bukhari]

Soal pertama merupakan pertanyaan tentang keikhlasan.
MAKA, ketika kita menjawab pada Soal Pertama:

  • Saya melakukan perbuatan (amal) tersebut karena ikhlas (semata karena Alloh), bertujuan baik (ihtisan), dan mengikuti kebanyakan kaum muslimin.

Jika ini menjadi sebab perbuatan kita, apakah kita lupa bahwa Aloh berfirman:
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’aam: 116)

Tidaklah menjamin bahwa hanya mengikuti kebanyakan orang melakukan suatu amal sudah berarti membenarkan niat ikhlas kita. Ukuran KEBENARAN menurut syari’at adalah apa yang Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam ajarkan dan contohkan di dalam hadits-hadits yang Shahih.

“Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Berkata Al-Hasan Al-Bashri: “Tanda kecintaan mereka kepada Allah adalah sikap ittiba’ mereka kepada sunnah Rasulullah.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya 2/204, Ath-Thabari 3/232 dan Al-Laalika`’ 1/204)

Bagaimana lagi orang-orang yang melakukan amal tidak dengan niat ikhlas? Namun semata karena untuk kepentingan dan hawa nafsu sendiri?

  • Namun ketika saya melakukan perbuatan (amal) dikarenakan ikhlas dan mencontoh apa yang telah diajarkan Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits yang Shahih, berarti kita telah memenuhi jawaban syari’at tentang syarat sah diterimanya amal : IKHLAS DAN BENAR (menurut Sunnah). Kaidah yang terpenting: Tidaklah suatu perintah dari Nabi kita, pasti didalamnya terdapat KEBAIKAN, dan tidaklah larangan dari Nabi kita, pasti didalamnya terdapat KEBURUKAN, karena Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan semua kebaikan-kebaikan kepada umatnya apa-apa yang dapat mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka.

Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda;
“Apa-apa yang aku larang, tinggalkanlah. Dan apa-apa yang aku perintahkan, kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya mereka bertanya dan mereka selalu melanggar ketetapan-ketetapan nabi-nabi mereka” [HR. Muslim]

Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa salam juga  bersabda;
“Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan pada kalian.” [HR. Thabrani, dari Sahabat Abu Dzar]

SOAL KEDUA: BAGAIMANA?
Merupakan pertanyaan tentang mutaba’ah (mengikuti) Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam soal ibadah tersebut. Dengan kata lain, apakah perbuatan itu termasuk yang disyariatkan kepadamu melalui lisan Rasul-Ku atau ia merupakan amalan yang tidak Aku syariatkan dan tidak Aku Ridhai?

Soal kedua merupakan pertanyaan tentang mutaba’ah kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang TIDAK SEORANG MUSLIM pun (-seharusnya-) mengingkari bahwa jalan menuju Surga hanya dengan cara mengikuti jalan (sunnah) Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam perkataan, perbuatan dan ketetapan beliau.

Dan dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- :
“Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris di depan kami satu garisan lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya lalu beliau berkata : “Ini adalah jalan-jalan, yang di atas setiap jalan ada syaithon menyeru kepadanya”. Kemudian beliau membaca (ayat) : “Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu maka ikutilah jalan itu dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) maka kalian akan terpecah dari jalanNya”.

(Dan masih banyak dalil-dalil lainnya tentang Kewajiban untuk megikuti Sunnah.)

Maka ketika sebagian saudara-saudara kita merasa ‘tersinggung’ dengan perkataan ‘Bid’ah’, bahkan menyangka bahwa ‘sumber’ dari segala perpecahan umat karena adanya dakwah-dakwah yang ‘mem-bid’ah-kan’ suatu amalan yang banyak kaum muslimin melakukannya..Jawabannya: TIDAKLAH demikian jika kita kembali kepada pemahaman yang benar dengan hati yang lapang..Insyaa Alloh, dakwah-dakwah yang disampaikan ikhlas karena ingin mengajak saudara-saudara kita ‘Kembali kepada Ajaran Islam yang Murni sesuai Alqur’an dan Sunnah menurut Pemahaman As-Salafush Shalih, dan bukan semata ‘mem-Bid’ah-kan’ individu/kelompok  kaum muslimin, wallahu ‘alam bishowab.

Cukuplah Sabda Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam sebagai penjelas tentang suatu amal yang kita perbuat:

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.” [HR. Muslim]

[ditulis setelah membaca Kitab ‘Melumpuhkan Senjata Syetan’ (Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan) Bab I: Pembagian Hati Menjadi Hati Yang Sehat, Sakit dan Mati Karya: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: