Kenalilah kebenaran, maka akan kita kenali orang-orang yang berjalan di atas kebenaran itu

Saya akan berbagi pengalaman lucu dan menarik, namun Insya Allah ada hikmahnya.

 

Beberapa waktu lalu selepas ba’da Maghrib dan menuju pulang dari kantor, ternyata masih diberi kesempatan untuk mampir ke sebuah Masjid di bilangan Jakarta Selatan. Alhamdulillah waktu Isya telah masuk..

Tanpa mengulur waktu untuk mengambiil wudhu, bersegera karena nampaknya telah terdengar iqamat, tanda Shalat Isya dimulai..

Sayang rasanya ketika shalat berjama’ah namun tertinggal takbiratul ihram, maksud hati tentu berupaya demikian namun apa daya antara fikiran dan tubuh senantiasa lebih jauh disibukkan urusan dunia..

Bagaimana tak iri melihat kehidupan para pendahulu (salaf) nan sholih dalam urusan ibadah; senantiasa menyegerakan dan saling berlomba untuk mendapatkan shaf terdepan serta meninggalkan urusan-urusan dunia mereka.

Adi bin Hatim contohnya, salah seorang sahabat, sudah bersiap-siap melaksanakan shalat sebelum datang waktunya dan selalu rindu dengan kehadirannya. Dia menyatakan, “tidaklah datang waktu shalat kecuali aku sudah siap. Dan tidaklah datang waktu shalat kecuali aku sudah sangat rindu melaksanakannya”

Juga bagi seorang tokoh besar seperti Sa’id bin Musayyib yang tidak pernah tertinggal takbiratul ihram selama 50 tahun.

Beliau mengatakan, “aku tidak pernah ketinggalan takbir pertama dalam shalat selama 50 tahun. Aku juga tak pernah melihat punggung para jamaah, karena aku selalu berada di shaf terdepan selama 50 tahun.”

Itulah para Salafush shalih, ketika mendengar suatu perintah yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam -apalagi disana ditemukan keutamaan- tidaklah ada kata lain kecuali “kami mendengar dan kami menta’ati”

 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) :

Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).

| Bandingkanlah dengan kondisi shalat kita hari ini, jangankan untuk berada di shaf terdepan, untuk mendatangi shalat berjama’ah di Masjid saja mungkin enggan, bahkan lebih sering menundanya

 

Kembali kepada pengalaman saya..

Qadarallah, jangankan mendapati takbiratul ihram, nyatanya Imam telah kumandangkan membaca Al Fatihah.., dan hanya mendapati shaf terbelakang (karena kebetulan hanya terisi 3 shaf).

Setelah memasuki barisan shaf di sebelah kanan, tepat disamping seorang Bapak yang tengah khusyu -hingga tidak memperdulikan masih renggangnya shaft dengan jama’ah di sisi kirinya- sayapun berusaha merapatkan shaf ke sisi Bapak itu, berharap tertular khusyu..

Memasuki bacaan surat setelah Al Fatihah, nampaknya Bapak mulai tersadar dengan bergeser agak ke kiri -itu fikir saya-

Tentu sayapun bergeser mengikuti Bapak dengan sedikit menempelkan sisi luar kaki saya, namun di luar dugaan, Bapak tadi menginjak-injak kaki saya (bayangkan layaknya seorang sedang menginjak-injak ular hingga mati!)

Hatipun tersentak kaget, jantung berdetak keras..! seandainya di dalam Shalat boleh berucap selain bacaan do’a yang telah di syari’atkan- Tentu saya akan berteriak “astaghfirullah..sakiittt!”

Shalat yang memang sejak semula tidak khusyu, kini semakin tidak khusyu.. fikiran hanya bertanyatanya, jantung berdebar, hati sedikit marah, niatpun bercampur atas hendak apa yang akan dilakukan selesai shalat nanti..

Usai sudah shalat isya dengan hati yang masih bertanya-tanya “apa yang mesti saya lakukan dengan Bapak ini?”

Ya, saya harus menyapanya dengan tersenyum…

“Assalamu’alaikum Bapak, maaf boleh saya bertanya?” . Bapakpun menjawab salam tanpa tersenyum

“Kenapa tadi Bapak menginjak-injak kaki saya waktu shalat?  Tanya saya

Bapak menjawab keras dengan berbalik bertanya pada saya “Kamu sendiri kenapa nempel-nempel kaki ke saya?!”

Sayapun menjawab pertanyaan Bapak “Apa ada yang salah dengan itu?”

“Iya (salah) !! saya JIJIK ditempel-tempel kayak gitu! Demikian Bapak menjawab sambil ngeloyor pergi tinggalkan saya, beberapa Jama’ah saya lihat memperhatikan percakapan kami..namun tanpa komentar..

Astaghfirullah, semoga Allah menjaga Bapak tadi  – sambil menggeleng-gelengkan kepala..

 

Bagaimanakah sebenarnya hukum merapatkan dan meluruskan Shaf dalam Shalat berjama’ah ?

Di antara sunnah yang banyak dilalaikan dan tidak diketahui ummat saat ini adalah meluruskan dan merapatkan shaf. Sunnah ini telah kita tinggalkan, sehingga nampak fenomena yang menyedihkan berupa adanya ketidakrapian shaf dalam sholat berjama’ah. Di sisi lain, imam sholat juga tidak paham mengenai sunnah yang satu ini. Kalaupun paham, mereka tidak berusaha mengajarkannya kepada jama’ah.

Banyak nash dari hadits Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menganjurkan kita agar kita meluruskan dan merapatkan shaf, bahkan beliau juga telah mengancam orang yang memutuskannya dengan ancaman yang keras.

1. Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiallahu Ta’ala ‘anhuma- beliau berkata: Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda:

أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya  (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”   [HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah]

Imam Abu Dawud As-Sijistany -rahimahullah- berkata ketika menjelaskan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, “Makna sabdanya:[ “Lembutilah tangan-tangan (lengan) saudara kalian”] (adalah) apabila ada seorang yang datang menuju shaf, lalu ia berusaha masuk, maka seyogyanya setiap orang melembutkan (melunakkan) bahunya untuknya sehingga ia bisa masuk shaf”.

 

2. ‘A`isyah -radhiallahu Ta’ala ‘anha- berkata, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karenanya dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”. [HR.Ibnu Majah Al-Qozwini dalam Sunan-nya (1004). Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (1004) dan At-Ta’liq Ar-Roghib (1/335)]

 

3. Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu anhu- berkata: Rasulullah-shollallahu alaihi wasallam- bersabda:

اِسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفَ قُلُوْبُكُمْ

“Luruslah kalian dan jangan kalian berselisih. Lantaran itu, hati-hati kalian akan berselisih” [HR. Al-Imam Muslim dalam Shohih-nya (432)]

Perhatikan bagaimana Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam– mengancam orang yang berselisih dalam mengatur shaf, satunya maju sedikit dan satunya lagi agak ke belakang. Inilah yang dimaksud berselisih dalam hadits ini

 

4. Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- bercerita, “Sholat telah didirikan (telah dikumandangkan iqomah), lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam– menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda:

أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ وَتَرَاصُّوْا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ

”Tegakkanlah shaf-shaf kalian dan rapatkan karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari  balik punggungku”. [HR. Al-Imam Al-Bukhory dalam Shohih-nya (719)]

 

5. Sahabat Nu’man bin Basyir -radhiyallahu anhu-berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوْفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ. ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلاً بَادِيًا صَدْرَهُ مِنَ الصَّفِّ فَقَالَ: عِبَادَ اللهِ ! لَتَسُوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

“Dulu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan anak panah (ketika diruncingkan,pen), sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau pernah keluar pada suatu hari, lalu beliau berdiri sampai beliau hampir bertakbir, maka tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, [“Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih”]”.  [HR.Muslim dalam Shohih-nya(436)]

Berdasarkan hadits-hadits di atas, para ulama kita menjelaskan bahwa meluruskan shaf dan merapatkannya merupakan perkara yang wajib atas setiap jama’ah sholat. Wajibnya hal ini dipahami dengan adanya perintah dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan juga ancaman beliau terhadap orang yang melalaikannya. Karena, jika memang meluruskan dan merapatkan shaf bukan perkara wajib tapi mustahab (sunnah/dianjurkan), maka tentunya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak akan memberikan perintah dan ancaman berkaitan dengan hal tersebut

 

Bagaimana cara Meluruskan dan Merapatkan Shaf ?

Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu berkata :

“Maka saya (Nu’man bin Basyir) melihat seorang laki-laki (dari para Shahabat) menempelkan bahunya ke bahu yang ada disampingnya, dan lututnya dengan lutut yang ada disampingnya serta mata kakinya dengan mata kaki yang ada disampingnya).” [Pernyataan Nu’man bin Basyir ini juga telah disebutkan oleh Imam Bukhari didalam kitab Shahihnya (II:447-Fat-hul Bari)]

Maka merapatkan dan meluruskan shaf dilakukan dengan cara merapatkan bahu, lutut, dan mata kaki.

Semoga cerita ini berkenan dengan harapan kita kembali meluruskan dan merapatkan shaf-shaf dalam shalat berjama’ah bersama kaum muslimin. Bagaimana mungkin persatuan (ukhuwah Islamiyyah, terlebih ingin menegakkan Daulah Islam)  jika hal sepele dalam urusan meluruskan dan merapatkan shaf tidak diketahui kaum muslimin, hingga yang terjadi adalah menginjak-injak kaki saudaranya yang hendak merapatkan shaf [?]

Namun tentunya kitapun perlu bersabar terhadap saudara-saudara kita yang tentunya belum mengetahui hal ini (meluruskan dan merapatkan shaf), jika memungkinkan karena adanya saudara kita yang berselisih seperti cerita di atas, maka berilah penjelasan dengan cara yang baik, jika tidak maka cukuplah kita mendo’akannya… Wallahu Ta’ala ‘alam

 

Tangerang, 24 September 2011

 

Penukilan Dalil &  kutipan diambil dari sumber : http://al-atsariyyah.com/wajibnya-merapatkan-dan-meluruskan-shaf.html [dengan sedikit perubahan]

Iklan

Comments on: "Di injak-injak Karena Merapatkan Shaf [?]" (1)

  1. orang indonesia said:

    Kejadian tidak jauh beda dengan saya… Malahan yang menginjak ustad/pemuka agama di masjid itu
    …. ( Dengan berbagai cerita dan pendapat dari beberapa sumber.. Merapatkan itu membuat tidak khusu…krn selepas kita sujud pasti akan terpikir dengan kaki kita dgn jemaah lain.. Klu sholat kita 4 rokaat, berarti 4x kita berfikir… Alasan berfikir 3x keluar dari bacaan dan tata cara sholat saja sdh batal sholat nya )

    Itu tanggapan versi saya pribadi…

    Benar tidak nya sy masih buta / byk belajar tentang islam…

    Allahu Alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: